Tunggang

0
18 views

by Abd. Muid N.

Indonesia adalah negara yang relatif damai jika dibandingkan dengan negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim yang lain seperti India, Pakistan, dan Bangladesh. Ketiga negara ini disebut karena populasi Muslimnya yang sangat besar dan setara dengan Indonesia jika dibandingkan dalam hal populasi dan dan potensi konflik. Tidak disebutkan negara yang penduduknya minoritas Muslim dan negara yang mayoritas penduduknya Muslim tapi bahkan tidak menghampiri jumlah Muslim Indonesia. Meskipun sesungguhnya Indonesia besar menyimpan potensi konflik akibat wilayahnya yang kepulauan dan budayanya yang beragam.

Potensi konflik lain yang mengancam Indonesia adalah hadirnya ideologi-ideologi Islam transnasional yang setiap saat mencari kesempatan untuk mendominasi. Indonesia sudah sering berhadapan dengan ideologi Islam khas Indonesia, namun semuanya tidak pernah ada yang mampu mengubah Indonesia.

Jika dibandingkan dengan ideologi Islam transnasional, ideologi Islam khas Indonesia yang berniat mengganti Indonesia bisa dianggap jauh lebih kuat karena berakar pada persoalan-persosalan nyata di Indonesia, namun itupun tidak sampai mampu mengganti Indonesia. Sistem di Indonesia cukup mampu untuk memasukkan mereka dalam sistem bernegara yang dianut di Indonesia. Dengan demikian, ideologi itu sesungguhnya telah melalui proses penjinakan.

Barangkali ideologi Islam transnasional belajar dari fenomena di atas, yaitu jika mereka masuk ke dalam sistem bernegara yang dianut di Indonesia, merekapun akan mengalami penjinakan. Karena itu, masuk akal jika ada ideologi Islam transnasional yang enggan masuk ke dalam sistem dan bermain di luar sistem bernegara, meski tetap menunggangi demokrasi yang berasaskan kebebasan bependapat dan berkelompok.

Setelah sekian lama bermain di luar sistem, belum ada tanda-tanda mereka akan mendominasi Indonesia. Salah satu faktor pentingnya adalah ormas terbesar di Indoensia, yaitu Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah dengan tegas menolak kehadiran ideologi Islam transnasional dan lebih meridhai ideologi yang bersedia masuk ke dalam sistem bernegar Indonesia.

Karena terlahir bukan di Indonesia dan karena itu, tidak mengakar dalam problem keberagamaan masyarakat Indonesia, umat Islam Indonesia kesulitan menerima dan memahami kehadiran ideologi transnasional tersebut. Ditambah lagi mereka enggan dijinakkan lewat sistem bernegara. Tertumbuklah mereka di jalan buntu. Jika bukan karena aliran dana dan militansi, mereka sudah lama hilang dari peredaran. Karena itu, sangat wajar jika mereka mencoba menemukan cara lain untuk memenangi pertarungan, yaitu dengan cara mengendarai konflik.

Langkah awal mereka mengendarai konflik adalah dengan cara mencari kekurangan-kekurangan dari sistem yang sedang berlangsung di Indonesia lalu membesar-besarkannya dan menyebarkannya lewat media massa yang mereka punyai sendiri. Upaya seperti itu paling tidak diharapkan untuk sedikit menggoyang kepercayaan masyarakat terhadap sistem di negaranya sendiri. Itu adalah celah sempit yang mereka harapkan.

Langkah lain adalah mereka memanfaatkan adalah sekecil apapun konflik yang ada, mereka manfaatkan sebaik-baiknya, mereka besar-besarkan sedahsyat-dahsyatnya untuk melahirkan pusaran konflik yang lebih hebat. Ada dua manfaat yang mereka bisa perolah dari hal ini. Pertama, mereka akan mendapatkan konflik yang lebih besar dari sekadar kritik-kritik kepada pemerintah lewat selebaran dan bulletin; dan kedua, mereka bisa melebarkan konflik akibat terpolarisasinya elemen-elemen bangsa maupun elemen-elemen umat Islam. Semakin dahsyat polarisasi itu, semakin besar potensi konflik yang ada, semakin dahsyat kemungkinan bangsa ini untuk terpecah, maka semakin besar pula kesempatan mereka untuk memaksakan ideologi mereka yang sesungguhnya tidak masuk akal dan tidak mempunyai akar sejarah di Indonesia.

Ideologi transnasional ini, makanannya adalah konflik. Makanan yang dipanggang di atas bara api kebencian dan perpecahan. Media sosial adalah alatnya. Agama yang terkontaminasi politik adalah tunggangannya. Mereka menari-nari di atas keserakahan politik dan ekonomi kita. Mereka menunggu momentum di saat Indonesia tidak lagi indah.[]