Tunanetra Ini Ternyata Tak “Buta”

0
342 views

Oleh Ir. Warno Abdullah (Alumni Kursus Da’i MDPI)

Terkadang, kebanyakan orang masih memandang rendah saudara dan saudari kita yang berkebutuhan khusus, seperti halnya komunitas tunanetra. Mereka pada umumnya menggeluti berbagai bidang nonformal seperti tukang pijat, penjual kerupuk, dan lain sebagainya. Hanya ada beberapa yang bekerja di sektor formal seperti operator, teknisi komputer, dan pendakwah.

Di balik segala keterbatasan yang dimiliki, sesungguhnya banyak suri tauladan yang dapat diambil sebagai pelajaran dari sang tunanetra. Dalam sebuah tausiahnya pada bulan Ramadhan yang lalu, seorang jama’ah tunanetra menyampaikan bahwa syarat untuk menjadi orang yang sholeh minimal ada dua. Pertama adalah sholatnya harus berjamaah di masjid dan kedua tidak boleh buta.

Ternyata, apa yang disampaikan itu adalah jawaban ketika istrinya menyarankan untuk tidak ke masjid waktu subuh. Hal ini karena ia baru mengenali lingkungan tempat kostnya yang baru. Istrinya khawatir jika tidak ada yang menuntunnya, ia akan terpelosok ke dalam got (saluran air). Dan memang betul, pada hari pertama ia melewatinya, ia pun terperosok ke dalam got. Apakah ia jera? Dengan mantap dia sampaikan ke istrinya bahwa setidak-tidaknya dia sudah berusaha menjadi suami yang shaleh, dan ikut berjamaah di masjid walaupun harus terperosok di got. Baginya dengan mendengar panggilan azdan berarti tidak ada rukhsoh (keringanan) bagi dirinya untuk memenuhi panggilan ilahi.

Dan yang kedua tidak boleh buta, artinya dibutakan matanya di akhirat karena malasnya menuntut ilmu, terutama ilmu agama Islam sewaktu di dunia. Kebutaan di dunia sudahlah cukup baginya dan tidak mau untuk buta yang kedua kalinya di akhirat kelak. Sholat jama’ah di masjid dia tekuni, tahsin dan tahfidz dia galakkan, dan berbagai kajian ilmu agama Islam dia hadiri. Tidak hanya berhenti sampai di situ. Pelatihan da’i dan khotib Jum’at pun dia ikuti. Bahkan, pelatihan menulis untuk dakwah pun dia tekuni. Sepertinya tiada hari tanpa menuntut ilmu.

Kebutaan yang ada pada dirinya tidak lantas membuatnya menggantungkan diri, mengharapkan iba, dan belas kasihan dari orang lain. Dia singkirkan hambatan dan rintangan sedikit demi sedikit, hingga akhirnya komunikasi via WA, mengetik di depan komputer, pemesanan transportasi online, menjadi hal yang biasa. Suatu kemandirian yang luar biasa yang menjadi inspirasi tidak hanya bagi sesama tunanetra tetapi bagi mereka yang bisa melihat gemerlapnya dunia.

Penulis teringat dengan seorang sahabat Nabi yang tunanetra dan sangat dihormati oleh Nabi, bernama Abdullah Ummi Maktum. Beliau sangat memuliakannya dan selalu menanyakan tentang kebutuhannya. Kalau dia datang, Beliau mengatakan, “Selamat datang orang yang Tuhanku menegur karenanya”. Oleh sebab dirinyalah surat Abasa ayat 1-16 turun.
Suatu hari, dia datang menemui Rasululloh SAW, untuk belajar Al-Qur’an. Sementara pada saat yang bersamaan Rasululloh SAW sedang berbicara dengan tiga orang bangsawan Quraisy yang sangat diharapkan untuk masuk Islam. Lalu Nabi pun memalingkan muka dan bermuka masam terhadap Abdullah Ummi Maktum hingga kemudian turunlah firman Alloh :”Dia (Muhammad) yang bermuka masam dan berpaling muka, karena telah datang seorang buta kepadanya” (QS Abasa 1-2). Sayyid Qutub berkomentar tentang ayat tersebut, “Mengapa engkau bermuka masam di hadapannya? Barangkali orang buta ini bisa menjadi mercusuar di bumi yang dapat menerima cahaya dari langit. ”
Pada kesempatan lain dia mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, rumahku sangat jauh dari masjid, dan aku tidak mempunyai penuntun dalam berjalan, maka apakah ada keringanan untukku (meninggalkan shalat jama’ah di masjid)?” Lalu Rasulullah SAW pun memberinya keringanan. Namun, tatkala dia telah berpaling, Nabi berkata kepadanya, “Apakah engkau mendengar suara azan?” Dia menjawab, “Ya.” Nabi SAW bersabda, “Maka jawablah seruannya, karena aku tidak mendapatkan keringanan untukmu.”

Pembaca yang mulia, marilah kita coba untuk memejamkan mata barang sejenak, paling lama 5 menit. Apa yang kita rasakan? “Itulah yang dialami oleh para tuna netra setiap saat, sepanjang hari, selagi masih ada denyut nadi. Jika untuk sang tunanetra, miskin, dan jauh dari masjid saja tidak ada keringanan selama masih mendengar suara adzan, bagaimana dengan orang yang normal, seperti kita semua?

Ya Alloh, Ya Robb….jadikanlah kami orang-orang yang bersyukur, kuatkanlah hati kami, ringankanlah kaki kami semua kaum adam ini untuk senantiasa sholat berjamaah di masjid. Amin Amin Amin YRA