Tuhan Pemuda di Jumat Berdarah

0
95 views

by Dr. Abd. Muid N., MA.

Seorang pemuda di Jumat berdarah dengan perawakan tinggi dan wajah biasa tampak turun dari becak dan mampir ke sebuah warung. Sambil membeli minuman, dia menawarkan wewangian kepada beberapa orang di warung termasuk pemilik warung. Katanya, “Shalat Jumat sebaiknya dilakukan dalam keadaan wangi.” Dia benar.

Selang beberapa lama, sang pemuda di Jumat berdarah berjalan menuju masjid. Kemungkinan besar untuk menunaikan shalat Jumat. Ketika iqamat shalat Jumat dikumandangkan, pemuda itu menerobos mencari shaf lebih depan. Namun dia hanya memperoleh shaf ketiga. Mungkin pikirnya: “Semakin di depan, shaf memang semakin baik dan mulia.” Dia benar (lagi).

Tidak sampai selesai imam mengucapkan takbîraltul ihrâm, sebuah ledakan terdengar memekakkan telinga. Puluhan orang bersimbah darah. Beberapa di antaranya terkapar. Shalat Jumat pun tidak jadi dilaksanakan. Sang pemuda di Jumat berdarah tadi ikut terkapar. Dia bahkan dengan tanpa nyawa. Diduga, ledakan itu berasal dari tubuh sang pemuda yang dengan sengaja meledakkanya. Jika dugaan ini benar, maka tampaknya, kali ini, dia salah.

Semua masih dugaan sementara. Namun jika benar, hal ini menyisakan tanda tanya. Bagaimana bisa seorang dengan sosok yang tampak baik, saleh, dan taat beragama tega meledakkan dirinya dan orang lain di dalam rumah ibadah serta pada waktu yang sangat bertepatan dengan diadakannya shalat Jumat? Jika pertanyaan itu diajukan kepada sang pemuda di Jumat berdarah, mungkin dia akan menjawab: “Mengapa tidak?” “Apa salahnya?” “Ini adalah perwujudan dari kesalehan dan ketaatan saya.” Bukankah hari Jumat adalah hari yang paling mulia? Bukankah puncak kemuliaan itu adalah saat pelaksanaan shalat Jumat? Bukankah perbuatan mulia sebaiknya dilakukan di saat-saat yang mulia pula?

Pemuda di Jumat berdarah itu mungkin memang telah melakukan kesalahan. Bahkan beberapa pihak yang selama ini dianggap kelompok-kelompok garis keras turut menumpahkan hujatannya terhadap apa yang telah dilakukan sang pemuda. Kata mereka, “Itu bukan cara jihad yang sebenarnya.” Kawan-kawan berdemonstrasinya—atas nama Islam—beramai-ramai menolaknya sebagai “peserta demonstrasi resmi.”

Lalu siapa yang akan menerima sang pemuda? Mungkin dia tidak peduli dengan penolakan dan hujatan semua pihak karena bukan itu yang dia harapkan. Yang dia harapkan hanya penerimaan Tuhannya atas pengabdiannya. Apakah Tuhan merestui apa yang telah dilakukan sang pemuda di Jumat berdarah? Entahlah, kita tidak bisa mengkonfirmasinya kepada Tuhan versi sang pemuda di Jumat berdarah. Ada Tuhan—versi yang lain—yang mengatakan bahwa Dia pasti tidak akan menerima perbuatan sang pemuda di Jumat berdarah karena itu keji dan tidak berprikemanusiaan. Kenapa bisa begini? Bukankah hanya ada satu Tuhan? Kini, sang pemuda di Jumat berdarah pasti sudah tahu jawabannya.[]