Tuhan Masa Depan

0
38 views

Kita kini tengah menjejak masa di mana segala hal diukur dengan akal dan atau indera. Ketika ada suatu hal yang bertentangan dengan ukuran akal atau indera, maka dengan sendirinya akan tertolak. Semangat seperti inilah yang melahirkan sebuah ramalan bahwa nanti ada suatu masa di mana segala hal yang tidak natural (supranatural) tidak akan mendapatkan tempat yang nyaman di dalam benak manusia.

Jika kita menginventarisasi segala hal yang supranatural maka, mungkin bisa dikatakan bahwa Tuhan berada pada urutan pertama. Jika demikian, maka Tuhan juga berada pada urutan pertama antrian hal-hal yang akan menjadi masa lalu manusia. Tidak! Demikian teriak mereka yang sangat percaya pada Tuhan. Entah itu teriakan emosional atau rasional atau apa saja, yang pasti tidak semua akan setuju dengan ramalan seperti di atas.

Mungkin tidak perlu kita berteriak karena sampai kini ramalan itu masih tinggal ramalan yang belum menemukan pembuktiannya secara utuh. Tuhan tetap tidak tergoyahkan dalam sejarah panjang memori umat manusia. Bahkan dalam beberapa kasus memori tersebut semakin menguat, mengeras, dan terkadang meledak.

Nyatanya, akal dan indera sebagai ukuran untuk segala hal juga semakin menguat. Jika dulu segala hal bisa dicari pemahamannya dengan sangat gampang yaitu dengan membenturkannya pada konsep tentang Tuhan atau apa saja yang sakral, maka kini tidak semudah itu lagi. Dulu, segala fenomena alam yang kadang juga menyentuh kehidupan pribadi manusia bisa saja dengan mudah dipahami dan dijelaskan bahwa itu karena Tuhan. Tapi kini, Tuhan sebagai jawaban dan penjelasan telah tergantikan oleh sains dan ilmu pengetahuan, sehingga kemaksiatan kepada Tuhan-misalnya-sebagai jawaban atas pertanyaan mengapa tragedi Gempa Sumbar yang terjadi beberapa waktu lalu itu lalu menjadi jawaban yang menggelikan. Padahal mungkin dulunya itu adalah jawaban serius dan satu-satunya.

Lalu kemudian apakah Tuhan masa depan itu harus merupakan sebuah konsep yang telah lulus uji akal dan indera? Entahlah. Namun jika memang demikian, maka gak asyik lagi konsep tentang Tuhan itu. Tidak ada lagi misteri di sana. Hambar, seperti menonton pertandingan sepak bola yang sudah ketahuan skor akhirnya; atau film yang sudah terbaca ujung ceritanya. Dan jika memang demikian, maka kita sudah melupakan peran hati (qalb). Kita jangan sampai mengira bahwa hati tidak mampu memahami sebagaimana akal dan indera dan karena itu kita jangan salah menduga bahwa akal dan inderalah dua-duanya alat ukur semesta. Al-Quran pernah menyebutkan potongan kalimat: Mereka mempunyai hati namun tidak dipakai untuk memahami. (QS Al-A’raf [7]: 179).