Tuhan dan Sepak Bola

0
54 views

Tidak perlu terburu-buru menuduh judul di atas sebagai hal yang menciderai sakralitas Tuhan karena membandingkannya dengan sepak bola yang jelas-jelas tidak sakral. Dalam banyak hal, kedua hal itu sangat bersangkut paut.

Chad Gibbs, dalam bukunya God & Football, bercerita bagaimana relasi antara Tuhan dengan sepak bola di kampungnya, salah satu daerah di negara bagian Amerika Serikat. Football yang dia maksud tentu adalah football Amerika, bukan sepak bola yang dipahami di Indonesia, namun dalam kasus ini, ada kesamaannya.

Gibbs menyebut kampungnya sebagai tempat di mana sepak bola dan Tuhan berkecamuk bersamaan di dalam hati dan pikiran penduduk setempat. Boleh dikata, 86 persen penduduk di sana adalah penganut agama Kristen. Namun sepak bola adalah ritual tersendiri yang dilakukan oleh hampir semua penduduk. Seperti memasuki sebuah tempat suci, setiap Sabtu, penduduk kampung Gibbs berbondong-bondong menuju stadion dengan pakaian yang sama dan nyanyian serta yel-yel yang sama yang mereka teriakkan dengan serius dan semangat hingga suara mereka serak.

Keeseokan harinya, hari Minggu, penduduk hadir di gereja untuk beribadah. Namun sepanjang perjalanan menuju gereja hingga di dalam gereja, pembicaraan para jamaah masih tentang bola yang kemarin dan semua pristiwa yang menarik ketika pertandingan berlangsung. Lalu sang pastor naik mimbar dan memulai khotbahnya dengan puji-pujian jika tim mereka menang di hari sebelumnya atau ungkapan-ungkapan berduka jika tim mereka kalah. Betapa hubungan antara “tuhan” dan sepak bola berhubungan erat.

Tentu kita ingat bagaimana cara banyak pemain sepak bola yang merayakan gol-gol mereka dengan mengacung-ngacungkan telunjuknya sambil menengadah ke langit. Banyak di antara mereka yang memaksudkannya sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Maha Pencipta atas gol yang terjadi (juga pencipta gol), walau ada pula yang tidak bermaksud demikian. Lionel Messi, misalnya, yang menunjuk-nunjuk langit setelah mencetek gol adalah sebentuk persembahan untuk jasa-jasa neneknya, bukan Tuhan.

Ricardo Kaka, pemain Brazil, mantan pemain AC Milan yang kini merumput di Santiago Bernabeu, selalu melakukan selebrasi menunjuk langit ketika mencetak gol, bahkan dengan kedua tangan dan telunjuknya. Biasanya dia lalu memperlihatkan kaos dalamnya yang bertuliskan ‘I Belong to Jesus’ (saya adalah milik Yesus). Kaka memang terkenal dengan religiusitas, kerendahan hati, dan kebaikannya. Karena itu, ada Tuhan dalam sepak bola.

Dan “Tuhan” juga hadir ketika Diego Armando Maradona menciptakan gol ke gawang Inggris pada Piala Dunia Mexico 1986. Ketika itu, Maradona memenangi perebutan bola tinggi dengan kiper Inggris Peter Shilton yang jauh lebih menjulang darinya dan gol terjadi dengan sedikit bantuan tangan Maradona. Di waktu yang berbeda setelah peristiwa itu, Maradona menamai golnya dengan ‘Gol Tangan Tuhan’.

Fenomena teranyar adalah selebrasi Mustafa Habibi Gonzales (Cristian Gonzales), pemain naturalisasi Indonesia asal Uruguay, ketika menciptakan gol indah ke gawang Filipina pada leg kedua semi final Piala AFF 2010. Dia lalu berlari ke pinggir lapangan dan menunjuk-nunjuk ke langit. Mengingat kini dia adalah seorang Muslim, maka bukan tidak mungkin yang dimaksudkan dengan telunjuknya itu adalah Tuhan.

Selain segala macam ekspresi ber-Tuhan yang menjadi bumbu dalam sepak bola, ada juga ekspresi yang mirip sebagaimana yang dilakukan tim kesebelasan Afrika Selatan dan umumnya tim-tim asal benua Afrika lainnya. Tidak lupa mereka menyertakan peran dukun dan kekuatan supranatural agar tim mereka menang. Kenyataannya, sekalipun mereka akhirnya kalah, peran dukun-dukun itu tidak pernah memudar. Lain lagi John Barnes, mantan pemain timnas Inggris, Manchester United dan Liverpool. Konon tabu baginya melakukan pemanasan sebelum pertandingan. David Beckham lain lagi, nama putranya, Brooklyn yang tertera di sepatu adalah jimat yang sangat ampuh demi kemenangan. Sebagaimana ekspresi ber-Tuhan, simbol-simbol lainnya juga tidak pernah hilang walau kekalahan menjelang.

Oleh Abdul Muid Nawawi

 

Bacaan

Chad Gibbs, God and Football: Faith and Fanatism in the Southeastern Conference, Michigan: Zondervan, 2010