Tuhan: Antara Ketakterbandingan dan Keserupaan

0
49 views

Tuhan, melalui al-Qur’an, memperkenalkan diri-Nya lewat bahasa yang bisa dimengerti dan menyentuh kejiwaan manusia. Karena itulah, Allah swt pertama kali memperkenalkan diri-Nya sebagai Rabb yang mengandung hakekat makna sebagai “Sang Pemelihara”. Hal ini sekaligus menunjukkan adanya intensitas hubungan antara “yang memelihara” dan “yang dipelihara”. Dengan sendirinya, Allah swt menempatkan diri-Nya dengan segala “ketakterbatasan-Nya” sebagai pemelihara kosmos yang penuh dengan keterbatasan.

Dalam konsep Islam, Tuhan adalah esensi yang “tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya” (Q.S. Asy-Syura [42]: 11) serta  “tidak ada yang setara dengan-Nya” (Q.S. al-Ikhlash [112]: 4). Hal ini kemudian mendorong manusia untuk memahami Tuhan sebagai “Yang Tunggal” (al-wahdaniyyah) dalam realitas-Nya sendiri. Konsep transendensi menuntun pikiran manusia dalam pencapaian pemahaman tentang Tuhan untuk mengakui-Nya sebagai “yang berbeda segalanya” dengan realitas-realitas ada (lainnya/the others). Dalam posisi seperti ini manusia akan terbentur pada keterbatasan-keterbatasannya untuk menjangkau Tuhan yang dalam transendensinya adalah “tak terbatas”.

Dengan segala keterbatasannya itu, manusia berusaha mencapai pemahaman tentang Tuhan lewat pemahaman antropomorfisme. Konsep antropomorfisme dipergunakan karena adalah suatu hal yang tidak mungkin menjelaskan eksistensi Tuhan tanpa memberikan atribut kepada-Nya, misalnya atribut manusia, binatang, dan sebagainya. Dalam berbagai ajaran agama, konsep ini juga dipakai. Tetapi kemudian diberikan catatan bahwa antropomorfisme Tuhan itu harus dipahami dalam kerangka transendensi. Selain itu, dinamika akal yang di satu sisi dituntut untuk memahami Tuhan tetapi di sisi lain akal tidak memiliki gambaran tentang Tuhan itu, maka akal harus menerjemahkannya ke dalam konsep atau kata-kata yang, sayangnya, juga penuh dengan keterbatasan-keterbatasan (Leahy, Filsafat Ketuhanan Kontemporer, 1994, h. 175). Akibatnya, Tuhan yang “tak terbatas” diterjemahkan dalam bahasa yang terbatas, sehingga apa yang dimengerti tentang Tuhan selalu kurang sempurna dari hakekat-Nya yang sesungguhnya.

Al-Qur’an juga berusaha menjelaskan ketakterbatasan dan ketakterjangkauan hakikat Tuhan melalui penjelasan-penjelasan kosmologis. Yaitu bahwa Tuhan dapat dipahami dengan mencermati realitas kosmos. Sehingga konsep-konsep tentang Allah adalah menyerupai konsep-konsep tentang realitas kosmos, maka memahami Tuhan, mau tidak mau, ditempatkan dalam makna “keserupaan” dan “ketakterbandingan” sekaligus. Mungkin ini pula alasan mengapa Tuhan dalam menggambarkan Diri-Nya melalui al-Qur’an menjelaskannya melalui bentuk antropomorfis, sehingga manusia dapat menangkap “kesan” yang mendekatkan kepada realitas Tuhan yang “takterbatas”.

Mau tidak mau, pemahaman-pemahaman seperti di atas sungguh telah menarik Tuhan dari posisi transendensi kepada posisi immanensi yang lebih terjangkau dan dapat dipikirkan. Tetapi akibatnya, itu semua harus dibangun dalam makna-makna “keserupaan”. Tuhan tidak lagi menjadi begitu berbeda dengan ada (being) yang lain. Tentu saja ini menjadi dilema teologis yang seakan-akan menjatuhkan Tuhan dari segala sifat kemahakuasaan dan ketakterjangkauan (omnipotent). Untuk keluar dari dilema itu, maka Tuhan harus dipahami dalam dua pemahaman, 1) Tuhan sebagaimana yang dikonsepkan (God that conceiving) dan 2) Tuhan dalam makna hakikat (Absolute God).

Secara konseptual, Tuhan tidak bisa tidak dipahami dalam makna “keserupaan” sebab apapun konsep yang diberikan kepada Tuhan selalu menghadirkan atribut-atribut yang menyerupai yang selain dia, apalagi bahasa yang kita pergunakan untuk membangun konsep tentang Tuhan juga sangat terbatas. Bahasa hanya mampu mentransendensikan Tuhan lewat makna-makna negasi. Sementara Tuhan dalam makna hakikat adalah “takterbandingi” dan “takterjangkau”.

Dalam makna hakiki, ketakterbatasan dan ketakterjangkauan Tuhan tidak hanya secara realitas, sehingga ia tidak bisa dilihat, bahkan juga dalam konsep. Maka, apa pun yang dipikirkan atau terlintas dalam benak tentang Tuhan, baik tentang zat maupun sifat-Nya, itu bukan Tuhan secara hakiki. Zat dan sifat Tuhan selalu lebih sempurna dan melampaui dari apa pun yang bisa dipikirkan atau dikonsepkan oleh manusia.

Konsekuensi logis dari pemahaman dualitas ini adalah, sejak dini sudah harus ditarik garis lurus pemahaman bahwa apa yang dikonsepsikan tentang Tuhan melalui atribut-atributnya hanyalah jalan pemahaman tentang Dia, tetapi itu bukan Dia. Konsep hanya mampu menjangkau sebatas atribut-atribut ketuhananan yang hingga tingkat tertentu bisa menghadirkan Tuhan dalam makna materil, sedangkan hakekat-Nya “tak terjangkau”. Wallahu a’lam

BAGI
Artikel SebelumnyaMurnikan Aqidah Raih Husnul Khotimah
Artikel BerikutnyaBenturan