Transformasi Intelektual Yunani ke Islam

0
12 views

Sejak terjadinya ekspansi Islam ke beberapa wilayah di luar jazirah Arab, seperti Bizantium hingga Spanyol, Islam pun mulai berkenalan secara intensif dengan berbagai kultur yang ditemuinya. Kenyataan bahwa daerah-daerah baru tersebut telah memiliki akar dan tradisi intelektual serta kebudayaan yang tinggi telah mendorong perkembangan pengetahuan dalam ranah pemikiran Islam. Kebijakan untuk mempertahankan pusat-pusat pengetahuan dan budaya, yang umumnya memiliki tradisi kefilsafatan Yunani yang kuat menjadi jembatan terjadinya transformasi intelektual dari filsafat Yunani ke dalam tradisi intelektual Islam. Halkin, dalam “The judeo-Islamic Age, The Great Fusion“, yang kemudian dibahasakan ulang oleh Nurcholis Madjid, mengakui jasa orang-orang Arab yang teguh mempertahankan tradisi-tradisi lokal yang mereka temui sepanjang penaklukan-penaklukan tersebut. Bahkan, tidak hanya itu, mereka juga sangat antusias untuk menulis ulang naskah-naskah dan kekayaan-kekayaan budaya yang ditemuinya ke dalam bahasa Arab. (Nurcholis Madjid: 1995, 221-2)

Transformasi intelektual dari Yunani ke dalam Islam mengambil bentuknya sendiri yang disesuaikan dengan ajaran Islam. Karena itu, beberapa hal ditafsirkan kembali dalam pemahaman yang Islami tanpa mencerabut nilai dasar dari pemikiran induknya. Tidak sedikit pertentangan, atau lebih tepat disebut ketidaksamaan, antara tradisi pemikiran Islam dan tradisi pemikiran Yunani yang disebabkan oleh perbedaan cara pandang dan rujukan serta tujuan dari pemikiran yang dikembangkan.

Tradisi intelektual Islam adalah tradisi yang bersumber pada al-Qur’an dan hadis sebagai pijakan epiostemologisnya dan lebih bersifat naqly (berdasarkan wahyu), dan bermuara pada tujuan menegaskan keesaaan Allah sebagai asas ajaran Islam. Sementara tradisi Yunani berpijak pada logika rasional dan sangat dipengaruhi oleh mitologi dan politeisme.

Mengenai ilmu-ilmu Yunani yang sampai ke dunia Islam, Dalis Ohary menulis bahwa yang diwarisi orang Arab dari Yunani tidak dalam bentuk aslinya, melainkan ilmu-ilmu tersebut tumbuh dan berkembang secara khusus di lingkungan Arab (Murtadha Muthahhari: 2002)

Transformasi intelektual ini berlangsung dengan dua cara: pertama, interaksi sosio-religius secara langsung, baik yang berlangsung secara individu maupun kelembagaan, seperti melalui pusat-pusat institusi filsafat Yunani di Iskandariyah, Antioch, dan sebagainya; dan kedua melalui penerjemahan buku-buku filsafat Yunani yang mencapai puncaknya pada masa kekhalifahan Al-Makmun, dengan didirikannya pusat penerjemahan “Bait al-Hikmah” (Rumah Pengetahuan) pada tahun 830 M/217 H. (Hana al-Fadhury, 20-1)

Berkembangnya kecenderungan penerjemahan buku didorong oleh tiga alasan, yaitu pertama perdebatan lintas agama antara Yahudi-Kristen-Islam, khususnya dalam masalah akidah, sehingga diperlukan pemahaman mendalam tentang metode dialektika dan logika untuk membangun penjelasan yang logis dan sistematis; kedua, kecenderungan intelektual pada individu khalifah yang berkuasa, khususnya pada masa al-Ma’mun; dan ketiga, munculnya golongan Mu’tazilah yang mengedepankan penalaran rasional dalam memahami akidah Islam. (Urfan Abdul Hamid, 75).

BAGI
Artikel SebelumnyaHilal
Artikel BerikutnyaMeneladani Sifat-sifat Tuhan