Tokoh Universal

0
23 views

Sejarah Islam memang menakjubkan. Peradabannya yang gemilang bak cerita dalam dongeng. Ada cerita tentang sebuah episode pemerintahan yang dipimpin oleh seorang khalifah yang saking makmurnya rakyat ketika itu, orang-orang kaya zaman itu kebingungan mencari orang miskin untuk diberi sedekah. Ada juga kisah tentang kehidupan para penguasa dan orang-orang kaya yang gemar berfoya-foya dan hidup bergelimang kemewahan hingga beberapa perenung shalih terkejut dan bertanya dalam hati: “Apakah para penguasa itu tahu bahwa mereka suatu saat akan mati dan pasti mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di dunia?” Lalu para perenung ini pun menangis tersedu-sedu. Dan mereka digelar bakkâûn (para tukang menangis).

Peradaban Islam yang menakjubkan juga melahirkan orang-orang menakjubkan yang sepertinya tidak akan ada lagi orang-orang seperti mereka hingga akhir zaman. Mereka menakjubkan karena tingkat intelektual mereka yang sangat tinggi sampai menguasai dengan baik berbagai macam disiplin ilmu berbeda. Katakanlah mereka menguasai matematika, fisikan, kimia, geografi, astronomi, medis, tawhîd, fiqh, ushûl al-fiqh, dan lain-lain. Mereka tidak hanya menguasai ilmu-ilmu itu, tetapi mereka juga  adalah pemuka-pemuka dalam disiplin ilmu tersebut. Mereka lah yang digelar oleh Seyyed Hossein Nasr–dalam bukunya, Sains dan Peradaban dalam Islam, sebagai tokoh universal.

Daya takjub yang mereka pancarkan membuat banyak orang bertanya-tanya apakah mereka tokoh nyata atau rekaan? Sulit menolak bahwa sosok mereka benar-benar ada dalam sejarah akibat terlalu banyaknya bukti, sama sulitnya menerima kenyataan bahwa dengan segala kemampuan dan kelebihan yang mereka miliki, mereka adalah makhluk historis.

Percaya atau tidak terhadap keberadaan para tokoh universal ini sebenarnya adalah persoalan cara berfikir. Peradaban Barat Kristen yang memuncak pada Abad Pertengahan kesulitan untuk percaya karena mereka hidup dalam peradaban dan cara berfikir yang berbeda. Peradaban mereka tidak begitu mengenal cara berfikir bahwa sebenarnya tidak ada dikotomi antara “ilmu agama” dan “ilmu umum”; “gereja” den “laboratorium”; “ilmuwan” dan “pendeta”. Karena itulah merek harus menghukum Galileo Galilei hanya karena dia mengaggap bahwa matahari adalah pusat dan bumi berputar mengelilinginya dan pendapat tersebut bertentangan dengan Gereja yang menganggap bahwa matahari lah yang mengelilingi bumi.

Di dalam peradaban Islam, tidak ada dikotomi seperti itu. Karenanya, (di masa lalu) dengan mudah ditemukan tokoh-tokoh yang menguasai banyak bidang ilmu pengetahuan dan menjadi tokoh pada setiap bidang ilmu tersebut. Mereka adalah “ulama” sekaligus “ilmuwan”, dalam ungkapan saat ini.

Di antara sangat banyak contoh, sebutlah salah satu contoh Ibnu Sina yang menghafal al-Quran dalam usia sepuluh tahun, menguasai gramatika, sastra, filsafat, dan teologi, namun juga menguasai kedokteran, fisika, geologi, mineralogi, dan beberapa ilmu-ilmu lainnya.

Harus diakui bahwa umat Muslim saat ini juga akan kesulitan memahami bagaimana tokoh-tokoh seperti itu ada dalam sejarah. Salah satu sebabnya adalah umat Muslim sekarang telah dijejali cara berfikir dikotomis terhadap bangunan keilmuan sehingga mereka yang ingin menjadi ulama akan dimasukkan ke pesantren, sedangkan yang ingin menjadi dokter akan dimasukkan ke “sekolah umum”. Tidak perlu heran jika umat Muslim sendiri, di alam bawah sadar mereka, sebenarnya tidak meyakini bahwa Ibnu Sina, al-Khwarizmi, al-Ghazali, Ibnu Rusyd, dan lain-lain benar-benar sosok historis. Jika mereka yakin, mengapa mereka tidak lagi mampu melahirkan orang-orang seperti itu?

Sejarah Islam memang menakjubkan. Seperti Kisah 1001 Malam.

Referensi:

Seyyed Hossein Nasr, Sains dan Peradaban dalam Islam, (Pustaka: Bandung, 1997)

Oleh Abdul Muid Nawawi