Tiga Prinsip Harta

0
19 views

Setiap manusia pasti memiliki berbagai kebutuhan dalam hidupnya, mulai kebutuhan makan dan minum, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, penambahan ilmu pengetahuan dan berbagai daya dukung lainnya untuk menjalani kehidupan secara baik. Untuk bisa memenuhi berbagai kebutuhan itu manusia harus berusaha mencari rizki atau harta, bahkan bila perlu, harta itu harus dicarinya meskipun dengan susah payah dan harus pergi hingga ke ujung-ujung dunia karena memang Allah swt telah menyediakan rizki untuk makhluk-Nya dengan mudah dan kita harus berusaha untuk mengambilnya, inilah yang kemudian sering disebut dengan rizki itu di tangan Tuhan, Allah swt berfirman: Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan (QS AlMulk/67:15).

Harta merupakan salah satu yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti, bahkan bila umur, ilmu dan jasmani hanya satu pertanggungjawabannya, yakni umur untuk apa dihabiskan, ilmu untuk apa diamalkan dan jasmani untuk apa dipergunakan, maka pertanggungjawaban harta ada dua, yakni dari mana diperoleh dan untuk apa diamalkan. Karena itu ada tiga prinsip hidup yang harus kita wujudkan dalam kaitan dengan harta sehingga kita tidak termasuk orang yang lupa kepada Allah swt dalam kaitan dengan harta sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi (QS Al-Munaafiquun/63:9).

1.    Halal

media.rd.comHarta merupakan sesuatu yang harus dicari, namun mencarinya harus dengan cara-cara yang halal bukan menghalalkan segala cara, meskipun untuk mendapatkannya begitu susah dan jumlah yang didapatnyapun sedikit. Allah swt lebih menyukai orang yang mencari rizki yang halal meskipun susah payah daripada orang yang menghalalkan segala cara dengan cara yang mudah sekalipun dan bias memperolehnya dalam jumlah yang banyak, dalam satu hadits Rasulullah saw bersabda:

ِإنَّ اللهَ تَعَالَى يُحِبُّ أَنْ  يَرَى تَعِبًا فىِ طَلَبِ الْحَلاَلِ

Sesungguhnya Allah cinta (senang) melihat hamba-Nya lelah dalam mencari yang halal (HR. AdDailami).

Oleh karena itu, Allah swt melarang manusia mencari harta dengan cara yang bathil (haram), apalagi bila sampai mencari legalitas hukum atau pembenaran atas sesuatu yang sudah jelas keharamannya. Karena itu, meskipun sudah ada legalitas dihadapan manusia melalui keputusan pengadilan, bila memang hal itu tidak halal tetap tidak halal, apalagi seseorang memang menyadari dengan hati nuraninya bahwa hal itu memang tidak halal baginya,  Allah swt berfirman: Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui (QS AlBaqarah/2:188).

Dengan demikian, sekalipun ada peluang untuk mendapatkan harta dalam jumlah yang banyak dan mudah, namun ternyata tidak benar menurut ketentuan Islam, maka kita tidak akan mengambilnya, sebab jangankan yang jelas-jelas tidak halal, yang syubhat atau meragukan saja harus kita tinggalkan, begitulah sikap yang ditunjukkan oleh orang-orang yang hendak menjaga kesucian dirinya.

Namun yang amat kita sayangkan adalah hingga hari ini begitu banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta, hal itu  dilakukan oleh para pejabat hingga orang biasa

2.    Thayyib

Sesudah harta diperoleh dengan cara yang halal, prinsip penting yang harus diperhatikan adalah thayyib atau baik, yakni gunakan harta yang kita miliki untuk segala kebaikan. Ketika kita punya uang tapi digunakan untuk membeli sesuatu yang tidak baik, maka itu namanya tabdziir yang pelakunya disebut dengan mubadzdzir yang sering diterjemahkan dengan kata boros, karena penggunaan uang untuk sesuatu yang tidak baik namanya pemborosan, sedangkan untuk kebaikan, habis sekalipun tidak masalah kalau memang harus demikian, Allah swt berfirman: Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya (QS AlIsraa/17:26-27).

Namun yang amat disayangkan adalah banyak orang termasuk yang mengaku muslim menggunakan uang atau hartanya untuk sesuatu yang tidak baik seperti mengunakan uang untuk berjudi, berzina dengan pelacur yang harus dibayar dengan uang, membeli minuman keras, membeli narkoba termasuk membeli rokok. Termasuk dalam kategori ini adalah menggunakan harta yang dimiliki seperti uang dan kendaraan untuk melakukan kemaksiatan, memiliki rumah untuk aktivitas yang tidak dibenarkan oleh Allah swt dan rasul-Nya.

Ada banyak contoh dari para sahabat Nabi yang menggunakan uangnya untuk segala kebaikan. Sa’ad bin Rabi siap membagi dua semua hartanya untuk diberikan separuhnya kepada Abdurrahman bin Auf sebagai bukti persaudaraan dengannya sesaat sesudah para sahabat tiba di Madinah dari Makkah dalam perjalanan hijrah, hal ini karena Abdurrahman dipersaudaraan dengan Sa’ad. Ketika para sahabat menginfakkan harta di jalan Allah untuk perang Tabuk, bahkan sampai ada yang siap memberikan seperempat, setengah bahkan tigaperempat hartanya, Abu Bakar ash Shiddik justeru menginfakkan semua harta yang dimilikinya, begitulah diantara contoh yang mengagumkan bagaimana para sahabat menggunakan hartanya secara thayyib.

3.    Berkah

Setiap orang tentu saja ingin memperoleh keberkahan dalam hidupnya di dunia ini. Karena itu kita selalu berdo’a dan meminta orang lain mendo’akan kita agar segala sesuatu yang kita miliki dan kita upayakan memperoleh keberkahan dari Allah swt. Secara harfiyah, berkah berarti an nama’ waz ziyaadah yakni tumbuh dan bertambah, ini berarti berkah adalah kebaikan yang bersumber dari Allah swt yang ditetapkan terhadap sesuatu sebagaimana mestinya sehingga apa yang diperoleh dan dimiliki akan selalu berkembang dan bertambah besar manfaat kebaikannya. Kalau sesuatu yang kita miliki membawa pengaruh negatif, maka kita berarti tidak memperoleh keberkahan yang diidamkan itu.

Dalam konteks harta, keberkahan berarti memberi manfaat yang banyak, melebihi jumlahnya sehingga banyak orang yang merasakan manfaat harta yang kita miliki. Rumah, kendaraan, uang dan berbagai hal yang kita miliki dirasakan manfaatnya oleh banyak orang, tidak hanya diri dan keluarga, tapi juga orang lain.

Termasuk dalam keberkahan dari harta yang kita miliki adalah rasa cukup untuk kita manfaatkan, seberapapun jumlahnya. Ini merupakan sikap qana’ah yang dimiliki karena adanya sikap tawakkal atau berserah diri kepada Allah swt setelah berusaha semaksimal mungkin sehingga apa yang diperoleh bisa disyukurinya. Karena itu, harta yang diperoleh dengan adanya rasa cukup menjadi harta yang terbaik, Rasulullah saw bersabda:

خَيْرُ الرِّزْقِ الْكَفَافُ

Sebaik-baik rizki adalah kecukupan (HR. Ahmad).

Realita kehidupan menunjukkan kepada kita betapa banyak orang yang sudah memperoleh harta dalam jumlah yang banyak, tapi mereka masih saja merasa sedikit sehingga ia terus memperbanyaknya dengan cara-cara yang tidak halal, inilah salah satu bentuk orang yang tidak bersyukur.

Manakala kita sudah memiliki dan mewujudkan prinsip-prinsip penting dalam kaitan dengan harta, maka harta itu akan membawa kebahagiaan dalam kehidupan kita di dunia maupun akhirat.

By Drs. H. Ahmad Yani

BAGI
Artikel SebelumnyaDo’a Sujud Tilawah
Artikel BerikutnyaSuami yang Kikir