The Super Leader Super Manager

0
242 views

The Super Leader Super ManagerTopik kepemimpinan dan manajemen telah menjadi pembicaraan dan pembahasan sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu. Bahkan, ketika menciptakan Adam, Allah memakai istilah khalifah sebagai tujuan penciptaannya. Istilah khalifah itu sendiri sangat erat kaitannya dengan kepemimpinan.

Persoalan kepemimpinan juga disinggung dalam al-Qur’an, seperti yang terdapat dalam Surat An-Nisa ayat 59:

” Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”   

Sementara itu, salah satu krisis terbesar di dunia saat ini adalah krisis keteladanan dalam sebuah kepemimpinan. Bangsa ini membutuhkan suri tauladan yang layak ditiru yang mampu membawa rakyat ini lebih maju dan lebih bermartabat.

Teladan kepemimpinan itu sesungguhnya terdapat pada diri Rasulullah saw. Hanya saja terkadang kita enggan untuk mengambil mutiara hikmah dari suri teladan Rasulullah.

Dalam buku berjudul Muhammad Saw: The Super Leader Super Manager ini penulis mencoba melihat Rasulullah saw dengan kaca mata baru yang lebih luas yaitu bukan saja mengakui Rasulullah sebagai nabi dan rasul tetapi juga menempatkannya sebagai pemilik traits of leadership dan models of management. Kepemimpinan Rasulullah yang holistic (menyeluruh) , accepted (diterima), dan proven (terbukti), diantaranya bisa dilihat pada bidang kepemimpinan diri (self leadership), keluarga, bisnis, dakwah, sosial, politik, pendidikan, sistem hukum, dan militer.

Menurut penulis, salah satu di antara sebab ketidakmampuan kita mengambil suri tauladan Rasulullah secara holistik dan komprehensif adalah karena adanya distorsi citra (image) yang muncul dari ekses studi para orientalis. Hal ini dipaparkan penulis pada bab 1 buku ini tentang pendapat para orientalis yang tidak luput dari subyektifitas ilmiah. Dante Alighieri (1265-1321) misalnya. Ia menyampaikan bahwa:

“Muhammad adalah pemuka dari jiwa-jiwa terkutuk yang membangkitkan perpecahan dalam agama dan mengembangkan agama-agama palsu.”

Subyektifitas ilmiah juga mempengaruhi D’Herbelot ketika berpendapat tentang Muhammad saw.:

“Inilah si penipu terkenal Muhammad, pencipta dan pendiri suatu bid’ah yang telah diberi nama agama, yang kita sebut dengan Muhammadisme. Para penafsir Al-Qur’an dan sarjana-sarjana hukum Islam telah memberikan semua penghormatan kepada nabi palsu itu yang tidak pernah diberikan oleh para pengikut Aria, kaum Paulusia atau Paulunis dan kelompok-kelompok bid’ah lainnya kepada Kristus.”

Faktor lain yang menurut penulis mereduksi nilai keteladanan leadership dan manajemen Rasulullah saw adalah rabun dekat dari kaum muslimin itu sendiri. Yang dimaksud rabun dekat adalah ketidakmampuan melihat perjalanan hidup Rasulullah saw secara lengkap dan holistik baik dimensi sosial, politik, militer, edukasi, dan hukum kemudian memformulasikan nilai-nilai keteladanan tersebut ke dalam suatu model yang dapat diteladani dengan mudah.

Hal lain yang menghambat peneladanan Muhammad saw secara holistik adalah jiwa prasangka buruk (prejudice), sinis, dan apologetik setiap kali teladan yang baik (uswah hasanah) rasulullah saw akan dibawa keluar dari masjid dan mushalla. Seolah-olah tidak ada hubungan kuat antara sunnah Rasulullah saw dan kehidupan bisnis, kebijakan fiskal dan moneter. Padahal Muhammad saw telah menghabiskan 25 tahun di pasar sebagai manajer, investor, dan wirausahawan.

Muhammad seolah-olah berat untuk diambil suri tauladannya dalam pengembangan diri (self development) padahal ia menghadapi hari-hari yang berat di masa kecil dan di sepanjang masa kerasulannya. Ia memotivasi diri, bangkit dari kekalahan, hingga menyemangati sahabat-sahabatnya.

Jarang juga kita melihat studi yang mendalam tentang strategi militer Rasulullah saw padahal ia telah memimpin lebih dari sembilan perang besar dan 53 ekspedisi militer.

Dengan uraian penulis yang mencoba memadukan secara sistematis antara suri tauladan Muhammad saw dengan disiplin leadership dan manajeman modern ini, diharapkan bahwa teritorial suri tauladan Rasulullah saw tidak lagi hanya di dalam masjid dan mushalla, tetapi mulai keluar merambah manajemen pasar modal, perbankan, asuransi, sistem hukum, manajemen stratejik, pembiayaan ekspor-impor, sistem pendidikan, dan bidang-bidang kehidupan lainnya.

Judul Buku     : Muhammad Saw The Super Leader Super Manager

Penulis          : Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec (Nio Gwan Chung)

Penerbit        : ProLM Centre & Tazkia Publishing

Cet. ke          : XVI, Agustus 2009

Volume          : 339 halaman

BAGI
Artikel SebelumnyaFaktor Keshalehan
Artikel BerikutnyaAspartame