Tetangga Oh, Tetangga

0
45 views

 

Abd. Muid N.

Semut di seberang lautan tampak jelas. Gajah di pelupuk mata tidak tampak. Ini adalah adagium yang mungkin pas ditujukan bagi makhluk yang bernama: tetangga. Tetangga yang dimaksud di sini bermakna resiprokal karena penulis sekaligus juga adalah seorang tetangga bagi tetangganya. Di dunia yang semakin mengglobal dan jendela dunia ada di mana-mana; televisi, radio, internet, handphone, dsb; membuat jarak dan waktu bukan penghalang bagi siapapun untuk saling berkoneksi ria. Namun tetangga tetaplah makhluk yang tidak terjamah.

Globalisasi “tidak lewat” depan rumah kita. Juga tidak di rumah tetangga. Kedahsyatan globalisasi bahkan tidak cukup memaksa untuk sekadar menyapa tetangga. Atau justru karena globalisasi lah tetangga dengan tetangga jadi ada jarak? Jika demikian, maka globalisasi berhasil membuat yang jauh terasa dekat, dan yang dekat terlupakan.

Penulis sendiri tidak begitu mengenal tetangganya. Tidak ada waktu adalah alasan utama sekaligus alasan ngeles. Hari dimulai dari jam 5 dan semua orang sibuk di rumah masing-masing mengurus keberangkatan ke tempat kerja. Petang adalah waktu pulang dan masing-masing telah lelah, tidak ada tenaga untuk berbicara dan menyapa. Malam, apalagi. Hari libur adalah hari untuk keluarga, bukan untuk tetangga.

Nabi Muhammad saw. adalah seorang nabi yang punya perhatian khusus terhadap tetangga, bahkan ada sabda beliau yang mengaitkan antara posisi tetangga dengan kualitas keimanan seseorang. “Yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, hendaklah memuliakan tetangganya,” kata Nabi Muhammad suatu ketika. Mengapa tetangga sedemikian penting? Jika dipikir-pikir, ya, memang penting. Di kala rumah ditinggal tanpa penghuni, maka tetangga lah yang paling dekat untuk diminta kesediaan untuk turut menjaganya. Ketika ada bencana – apa pun juga – maka tetangga yang paling dekat untuk dimintai pertolongan. Jika ada rejeki melimpah datang, tetangga juga ada? Belum tentu.

Di banyak sabda Nabi Muhammad saw., ada nuansa kedekatan setiap tetangga disinggung. Bukan hanya kedekatan jarak, tapi juga kedekatan emosional. Di masa modern, tetangga justeru adalah pihak yang paling patut dicurigai, jangankan didekati. Mari kita simak kata seorang sastrawan Irving Layton: “Tetangga lebih memilih untuk dicemburui daripada dicintai.” Atau ungkapan seorang penulis Amerika Carl Sandburg: “Cintailah tetanggamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri, tapi jangan biarkan pagarmu terbuka.”

Sejarah membuktikan bahwa “kedekatan” adalah biang permusuhan. Sering terjadi kelompok-kelompok yang saling berdekatan baik secara genetis, geografis, emosional, maupun tradisi, justeru menampilkan petumpahan darah paling kelam. Seorang kawan pernah berkata: “Piring hanya akan memacahkan piring yang berdekatan dengannya.” Islam dan Kristen adalah termasuk dalam rumpun agama Semit, bersama Yahudi. Islam dan Kristen pernah terlibat dalam serial Perang Salib yang berlangsung berabad-abad dan pengaruhnya masih terasa sampai detik ini. Kini pusat pusaran konflik di Timur Tengah berada di Palestina, Yerussalem, kota suci tiga agama Semit yang “bersaudara dan bertetangga”. Tetangga, oh tetangga.[]