Tersunnikan

0
222 views

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Imam Syafi’i yang kondang sebagai imam madzhab dalam Sunni pernah terbelit masalah karena urusan Syiah. Kita tahu, di bukan satu-satunya untuk urusan ini. Dalam salah satu penggalan hidupnya yang penuh warna, Imam Syafi’i pernah mentap dan menjadi professor di Yaman yang ketika itu (sampai sekarang) Syiah sangat kuat keberadaannya.

Imam Syafi’i memang sosok yang multi telenta. Selama menetap di Yaman itu, beliau rajin menggubah syair-syair yang bernada memuja keluarga Nabi (Ahlul Bait). Mendengar itu, Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad yang sangat anti Syiah mengancam mengadili dan membunuh Imam Syafi’i karena tuduhan sebagai pengikut Syiah. Menjadi Syiah memang tindakan subversif karena kelompok Syiah kala itu adalah kekuatan subversif terhadap Baghdad.

Akhirnya memang Imam Syafi’i tidak jadi dipancung oleh sang khalifah. Imam Syafi’i sering menang dalam adu argumen, termasuk ketika beliau dituduh Syiah. Ketika itu, Imam Syafi’i berkata: “Jika yang Khalifah maksudkan orang Syiah adalah orang yang memuji-muji keluarga Nabi, maka bunuhlah saya, tetapi semua orang lain yang mengagungkan keluarga Nabi juga harus dibunuh.” Namun antara Sunni dan Syiah memang sudah mengalami perang, baik fisik maupun ideologis, yang cukup lama dan sering melibatkan kekuasaan sehingga sulit untuk menyebutnya murni teologis.

Imam Syafi’i sendiri tampak tidak pernah mempermasalahkan dia Syiah atau bukan. Toh salah satu tokoh terbesar Syiah, Imam Ja’far Shadiq adalah guru bagi banyak orang, termasuk Imam Syafi’i sendiri dan banyak orang-orang Sunni lainnya.

Ada yang menduga persoalan Syiah versus Sunni selalu meruncing karena fenomena itu bukan sekadar persoalan adanya dua madzhab yang berbeda tetapi di balik itu ada perseturan tak berujung antara Arab melawan Persia. Syiah adalah perwakilan bagi Persia dan Sunni adalah Arab. Bahkan sampai sekarang. Benarkah demikian? Bisa saja, namun tentu itu bukan satu-satunya faktor apalagi jika dikaitkan dengan kontroversi Syiah di Indonesia. Kalaupun benar, berarti konflik Sunni vs Syiah di berbagai belahan dunia hanyalah medan perang bagi dua ideologi besar yang sedang bertarung memperebutkan pengaruh.

Cak Nur menyebutkan bahwa meski Persia adalah salah satu wilayah yang sejak masih sangat awal Islam menyebar sudah merupakan daerah kekuasaan para khalifah, Persia belum sempat “terarabkan” (“tersunnikan”?).

Bahan Bacaan

Budhi Munawar-Rachman, Ensiklopedi Nurcolish Madjid, Bandung: Mizan, 2006.