Teriak

0
153 views
sharonyedlin.com

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Islam sedang sering disebut dengan teriak dan semua orang bisa berdebat tentang apakah teriakan itu diteriakkan oleh Muslim sendiri atau oleh bukan Muslim yang pura-pura Muslim atau ada teori konspirasi di belakangnya atau lain-lain.

Barangkali semuanya ada. Kita tidak akan membahas semua kemungkinan, hanya sedikit membahas kemungkinan bagaimana jika teriakan tersebut berasal dari Muslim sendiri. Jika itu dikaitkan dengan Indonesia, maka sesungguhnya teriakan itu adalah teriakan yang aneh karena Islam di Indonesia terlalu mayoritas untuk berteriak. Jika itu dikaitkan dengan al-Quran, maka akan semakin aneh. Al-Quran sepertinya tidak suka berteriak.

Di dalam al-Quran disebutkan bahwa Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya. Bukankah mereka yang tinggi dan mulia tidak perlu berteriak? Memang ada desas-desus berkurangnya jumlah total populasi umat Islam di Indonesia, namun apakah jumlah yang ada sekarang sudah penting untuk memaksa kita teriak? Tentu ada kekhawatiran jika suatu sudah terlambat untuk teriak, namun perlu pula diwaspadai jangan-jangan kekhawatiran itu hanya hembusan panas dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan hendak menghacurkan Islam.

Mari kita ingat begitu mudah dan indah menjadi Muslim di negara ini. Tidak satupun rukun Islam yang sulit dilaksanakan. Di setiap musim haji betapa sibuk negara ini sampai harus ada kementerian yang khusus mengurusinya. Lembaga zakat menjamur di mana-mana. Tabligh akbar hampir setiap hari ada. Adzan berkumandang di hampir di setiap radio, televisi, dan masjid-mushalla. Partai yang berbasis massa umat Islam juga banyak. Kini, semakin banyak orang yang berjilbab dan berbusana Muslim/Muslimah.

Memang tidak dimungkiri ada saja aspirasi yang belum tersalurkan, tapi itu lebih membuktikan kebesaran hati umat Islam daripada kekalahannya dan Islam yang besar hati jauh lebih menarik daripada Islam yang teriak. Atau ada bidang-bidang tertentu di mana umat Islam masih ketingglan, namun semua bidang itu masih bisa dicapai tanpa harus teriak. Sumber daya manusia Muslim Indonesia masih terlalu canggih untuk teriak.

Tulisan ini tidak ingin menggiring pembaca untuk terlena pada kenyataan umat Islam yang baik-baik saja hingga lupa mempertahankan diri dari setiap ancaman, namun tulisan ini mengingatkan untuk tidak lupa bersyukur atas karunia Allah swt terhadap umat Islam di Indonesia.

Di setiap denyut kehidupan pasti ada hal-hal yang tidak diinginkan. Itulah yang namanya cobaan. Tapi sebagaimana tidak semua cobaan harus direspon dengan teriak, maka demikian pula kehidupan keberagamaan Islam di Indonesia tidak perlu berteriak atas ketidakpuasan yang mereka alami. Kita terlalu mulia untuk berteriak.[]