Teologi UN

0
46 views

Oleh Abd. Muid N.

Ujian Nasional (UN) telah tiba. Ini berarti masa-masa yang sulit dan menegangkan sekaligus mengkhawatirkan banyak pihak, baik siswa atau siswi maupun orang tua mereka, juga termasuk, para guru dan kepala sekolah. Ketegangan itu lalu menuntut penyaluran, kompensasi. Sebagai masyarakat religius, ada yang menyalurkannya dalam bentuk doa bersama—banyak sekolah di Jawa Timur yang melakukan Istighosah dalam rangka menyambut UN. Ada juga yang mengadakan sungkeman kepada orang tua dengan harapan dosa-dosa kedurhakaan tidak menjadi penghalang datangnya rezeki kelulusan. Bukan apa-apa, UN dianggap sebagai penentu muram tidaknya masa depan. Tidak lulus UN berarti masa depan terbentang tidak lebar.

Persoalan lain adalah bahwa sistem kelulusan yang berlaku dalam UN banyak dianggap tidak semata-mata rasional, bahkan cenderung mitis. “Betul itu,” kata seorang kawan. “Anak si Anu tidak lulus padahal dia anak yang pandai. Sedangkan anak si Anu lulus padahal semua tahu anak itu bego gak ketulungan.” Berarti ada sistem yang tidak rasional sedang belaku dan mengancam.

Mungkin kenyataan seperti itu yang “memaksa” tempat-tempat ibadah menjadi lebih ramai daripada biasanya menjelang UN. Ada semacam makhluk tak dikenal yang sedang mengancam lewat UN dan diyakini bisa ditanggulangi dengan mengintensifkan ibadah, paling tidak sebelum UN. Setelah UN, dan setelah lulus/tidak, itu bukan lagi hal penting.

Ancaman “makhluk asing” tadi membuat agama dan peribadatan semakin semarak.

Ada seorang filsuf yang “mencurigai” adanya “sistem kehendak” yang bekerja di alam bawah sadar setiap tindak keagamaan atau di setiap kepercayaan atau sebagaimana dibahasakan oleh A. Setyo Wibowo, “mekanisme internal kebutuhan untuk percaya”.

Bahwa berdzikir, shalat malam, dan sungkeman adalah sesuatu yang sah-sah saja pada dirinya sendiri itu benar. Itu adalah satu hal, sedangkan pelaksanaannya adalah hal yang berbeda. Bahwa ibadah-ibadah yang tersebut tadi mempunyai “daya” untuk meluluskan peserta UN, itu juga adalah hal yang berbeda. Sedangkan percaya bahwa ibadah itulah yang meluluskan adalah persoalan yang lain pula.

Seorang siswa yang meyakini bahwa ibadah itu penting dalam rangka kelulusannya berbeda dengan siswa yang “merasa butuh” untuk meyakini bahwa ibadah itu penting dalam rangka kelulusannya. Memang terkadang dalam hidup ini, kita merasa meyakini sesuatu padahal sebenarnya kita sedang mengekspresikan kebutuhan kita terhadap keyakinan itu demi kepentingan kita pribadi dan mungkin tidak ada hubungannya dengan ibadah itu sendiri, dengan kata lain kita sebenarnya bukan percaya tetapi “kita butuh untuk percaya”. Lalu yang terjadi adalah kebutuhan yang tidak sakral (profan) diekspresikan dalam bentuk aktivitas ibadah yang sakral.[]

Bahan Bacaan

Setyo Wibowo, Gaya Filsafat Nietzsche, Yogyakarta: Galang Press, 2004.