Teologi UN (Lagi)

0
30 views

Papan pengumuman di pojok sekolah yang biasanya dicuekin, pagi itu tampak mendapatkan perhatian melimpah. Puluhan anak berpakaian putih abu-abu mengerubunginya. Berdesak-desakan dengan raut muka penuh ketegangan. Mata mereka melotot khusyuk menelusuri tiap urutan nama dan nomor-nomor yang tertera di sana. Bagi mereka, nama dan nomor itu bukan sekadar deretan huruf dan angka. Nama dan nomor itu lebih menyerupai password.

Ya, password yang menentukan apakah mereka nanti pulang ke rumah dengan kepala tegak atau tidak; apakah masa depan mereka muram atau tidak; apakah tiap tetes keringat orang tua untuk pembayaran SPP mereka terbayar atau tidak; dan juga menentukan apakah nanti yang tumpah adalah air mata bahagia atau air mata sedih.

Di saat-saat seperti itu, satu-satunya yang penting di dunia ini adalah pengumuman yang terpampang di papan di pojok sekolah. Dan tiba-tiba salah seorang di antara mereka berteriak histeris lalu jatuh tersungkur, seperti tentara perang yang terkena peluru, jatuh tak sadarkan diri. Bisa dipastikan pengumuman itu telah melukainya. Luka yang tidak mampu disangga oleh tubuh dan kesadarannya. Dia bukan satu-satunya. Dari Sabang hingga Merauke entah berapa yang tersungkur jatuh karena serangan papan pengumuman. Ada juga papan pengumuman yang tersungkur jatuh karena diserang oleh mereka yang tidak puas atas hasil UN.

Ketika UN akan dilaksanakan, beberapa waktu lalu, ramai diberitakan dilaksanakannya Shalat Malam dan Shalat Dhuha oleh para calon peserta. Menarik untuk melihat di mana Shalat Malam dan Shalat Dhuha itu kini, baik oleh mereka yang lulus UN maupun yang tidak lulus. Entah karena tidak dicover oleh media atau karena memang tidak terlaksana, tidak ada kabar tentang bagaimana nasib segala bentuk ibadah yang dulu begitu giat dilaksanakan menjelang pelaksanaan UN.

Mungkin boleh diandai-andai bahwa segala bentuk ibadah yang dulu dilakukan sebelum UN adalah respon terhadap keterdesakan adanya keharusan untuk lulus. Dan kini setelah semua terjadi, yang lulus bersukacita dan yang tidak lulus tinggal meratapi nasib. Bagimana nasib Shalat Malam dan Shalat Dhuha?

Jika keterdesakan harus lulus yang menjadi motivasi ibadah, maka momentum Shalat Malam dan Shalat Dhuha telah lewat. Maka bisa dipahami jika yang lulus tidak lagi merasa penting untuk Shalat Malam atau Shalat Dhuha. Demikian pula mereka yang tidak lulus, dengan motivasi yang sama. Bagi yang tidak lulus, momentum ibadah seperti itu juga telah lewat. Lalu untuk apa lagi ibadah? Ibarat proposal yang telah ditolak, maka sekarang waktunya diam. Tuhan dianggap tidak memperhatikan ibadah yang dulu telah dilakukkan. Kalaupun akan mengajukan proposal lagi lewat ibadah, maka itu nanti. Mungkin itu akan terjadi pada sekitar petengahan bulan Mei karena kabarnya, pada waktu itu akan ada ujian susulan. Kita tunggu saja.[]

By Abdul Muid Nawawi