Teologi Natal dan Tahun Baru

0
34 views

Perayaan Natal selalu menyimpan kontroversi bagi umat Muslim. Bukan pada perayaannya yang memang hampir semua kalangan umat Muslim sepakat jika itu tidak boleh, tetapi pada pengucapan selamat Natal. Hal yang agak berbeda terjadi pada fenomena tahun baru.

Kontroversi pengucapan selamat Hari Natal bagi umat Muslim seperti sudah merupakan acara tahunan, serupa dengan perayaan Hari Natal itu sendiri. Hampir bisa dipastikan tahun depan, kontroversi serupa akan tetap bersemi. Dan itu berlanjut hingga kontroversi perayaan Tahun Baru Masehi.

Mengapa mengucapkan selamat Hari Natal sering dianggap berkonsekuensi teologis? Umumnya jawaban yang diajukan adalah bahwa memang perayaan Natal adalah peristiwa teologis sehingga mengucapkan selamat atas peristiwa tersebut adalah juga tindakan teologis. Salah satu alasan mengapa Natal dianggap peristiwa teologis adalah anggapan sebagian pelaku perayaan Natal bahwa yang terlahir saat itu adalah Tuhan, bukan manusia biasa.

Sampai di situ, dapat dipahami mengapa Natal bisa dianggap sebagai peristiwa teologis. Namun terasa masih ada alur logika yang tidak terlalu nyambung jika mengucapkan selamat Natal juga adalah peristiwa teologis. Bukankah yang diberi selamat adalah orang yang merayakannya bukan kelahiran Tuhannya? Bukankah tidak mesti yang mengucapan selamat Natal berteologi sama dengan yang diberi selamat? Peristiwa pengucapan selamat atas sebuah peristiwa tidak serta-merta membuat yang merayakan dan yang mengucapkan selamat berada dalam ruang teologis yang sama.

Tahun baru pun mendapatkan perlakuan yang serupa. Karena dianggap (atau memang?) rangkaian dari perayaan Natal, maka perayaan tahun baru juga dianggap berkonsekuensi teologis. Jika perayaan Natal saja konsekuensi teologisnya masih bisa diperdebatkan, apalagi perayaan tahun baru. Namun tetap saja kontroversi tahun baru tidak kalah hangat dengan Natal.

Yang menarik adalah jika kontroversi perayaan Natal umumnya hanya pada pengucapan selamatnya, bukan pada perayaannya, maka pada perayaan tahun baru, titik berat kontroversinya ada pada keduanya, baik perayaan tahun baru maupun pada pengucapan selamat tahun baru.

Apa yang menghubungkan antara semua kenyataan ini? Tentu bukan peristiwa jamak umat Muslim merayakan Natal. Yang jamak adalah umat Muslim yang mengucapkan selamat Natal. Demikian pula yang jamak adalah umat Muslim merayakan tahun baru dan saling mengucapkan selamat tahun baru.

Karena itu, benang merah ada pada jamak atau tidaknya sebuah peristiwa dilaksanakan oleh umat Muslim. Di situlah titik pusaran kontroversinya. Di situlah perebutan makna terjadi antara yang pro dan kontra. Sangat mungkin kedua pihak menyadarai bahwa sebenarnya tidak ada hal subtansial yang terjadi pada pengucapan selamat Natal dan tahun baru, namun kedua pihak terus melanjutkan perdebatan. Kenyataan ini sekaligus menjadi jawaban dari pertanyaan mengapa mengucapkan selamat Waisak tidak terlalu menggemakan kontroversi. Lalu peristiwa teologisnya mana? Hampir tidak ada. Itu lebih merupakan alat pengesahan argumen oleh, baik kelompok yang mengharamkan maupun yang membolehkan.

Sejarah memang sering berkisah tentang bagaiman teologi lebih sering dijadikan alat untuk mencari kesalahan, bukan untuk menemukan kebenaran; mencari keributan, bukan menemukan kedamaian.[]

Abdul Muid Nawawi