Teganya Teganya

0
550 views
siagaindonesia.com

Abd. Muid N.

Pesantren itu tampak dipenuhi anak-anak laki-laki dan perempuan dengan usia sekira 5 sampai 12 tahun yang bermain, berlari, bercanda, dan ada juga yang latihan tari daerah. Satu dua yang menenteng buku, itupun tidak dibaca, hanya sekali-kali dilirik. Wajah-wajah mereka jelas masih memancarkan keluguan dan kepolosan yang amat sangat.

Di beberapa pojok masjid, ada juga yang tampak serius menghafal al-Quran. Di pojok lain, ada yang duduk memandangi kawan-kawannya bermain. Tatapannya kosong, seperti dia sedang tidak berada di tempatnya duduk. Mungkin dia sedang melamun rindu, teringat ibu, ayah, kakak, adik, atau mainannya di rumah. Mentari yang semakin turun ke ufuk barat memaksa mereka berhenti. Berhenti bermain. Berhenti merindu. Mereka harus mandi sore dan bergegas ke masjid. Pelajaran malam akan hendak dimulai.

Di tengah pesantren, sebuah baliho menghadap ke pintu gerbang terpampang lebar bertuliskan kata “TITIP”. Kata itu semacam singkatan. Tiap hurufnya mengandung kepanjangan. Namun yang menarik adalah kepanjangan huruf pertama T = tega.

Agaknya baliho itu, oleh pembuatnya, memang tidak diperuntukkan bagi santri tetapi bagi orang tua mereka agar tega meninggalkan anak mereka didik di pesantren itu.

Pengasuh pesantren itu pasti tahu bahwa untuk meninggalkan anaknya, semua orang tua santri harus mempunyai tingkat ketegaan yang sangat tinggi untuk berpisah dengan anak yang baru beberapa tahun lepas dari buaian ibunya. Tidak mudah. Namun ratusan anak yang berlari, belajar, dan merindu tadi adalah tanda bahwa ada ratusan pula pasangan orang tua yang tega melakukannya. Mereka seperti sepakat menekuni sebuah semboyan: tega adalah kunci kesuksesan di masa depan.

Tega itu sendiri adalah semacam kemampuan khusus untuk mengambil jarak dari sesuatu yang disukai. Hidup ini memang harus diisi dengan berbagai macam ketegaan. Sesuka apapun seseorang terhadap siaran televisi tertentu, dia harus tega meninggalkannya sekitar 15 menit jika waktu shalat telah tiba. Sesuka apapun seseorang makan jengkol, dia harus tega meninggalkannya di siang hari bulan suci Ramadhan.

Tega bukan sebentuk perlawanan terhadap hasrat-hasrat manusiawi. Tega lebih merupakan mekanisme kontrol diri untuk memudahkan manusia mencapai hasrat-hasrta tertingginya. Adalah manusiawi jika seseorang ingin sukses dalam hidup. Konsekuensinya, beberapa ketegaan harus dijalani. Seorang pedagang yang ingin sukes harus tega memakai modal miliknya untuk dipertaruhkan sebagai usaha dengan risiko bangkrut.

Sekumpulan anak-anak laki-laki dan perempuan dengan usia sekira 5 sampai 12 tahun yang bermain, belajar, dan merindu itu pun sedang melaksanakan prosesi tega. Demi masa depan cerah yang menanti, mereka harus tega berpisah dari ibu, ayah, kakak, adik, mainan, makanan, dan segala faslitas yang dulunya tersedia baik di rumah sendiri.

Sabar, Kawan. Tetaplah berlari, belajar, dan merindu. Tuhan tidak tidur.[]