Tawhîd dan Persatuan

0
24 views
www.istockphoto.com

Abd. Muid N.

Ada sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, al-Baihaqy, dan Ibnu ‘Ady. Isi Hadits tersebut adalah pesan Rasulullah saw untuk memperbanyak empat hal di bulan Ramadhan yaitu: 1) memperbanyak penyaksian kepada keesaan Allah swt; 2) memperbanyak permohonan ampun kepada Allah swt; 3) memperbanyak memohon surga; dan 4) memperbanyak memohon dihindarkan dari neraka.

Tentu saja maksud Rasulullah saw bukan hanya menganjurkan memperbanyak mengucapkan keempat hal tersebut lewat lisan, tetapi juga lewat penghayatan dan perbuatan. Mari kita lihat satu-persatu anjuran tadi.

Pertama, memperbanyak penyaksian kepada keesaan Allah swt. Kalimat persaksian itu bisa berbunyi seperti ini: Nasyhadu an laa ilaaha illal Laah.  Mengesakan Allah swt berarti tiga hal: tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun, tidak pamrih dalam beribadah dan hanya bermohon ridha-Nya, dan tidak berpecah-belah dalam kehidupan yang mengakibatkan rapuhnya sebuah masyarakat.

Mempersekutukan Allah swt dengan sesuatu bisa hadir dalam bentuk keyakinan adanya sesuatu yang berpengaruh signifikan dalam kehidupan selain Allah swt. Misalnya, jika seseorang sudah mulai menganggap atasannya jauh lebih memengaruhi kehidupannya selain Allah swt, maka dia mulai menghadirkan sekutu bagi Allah swt. Adapun tidak pamrih dalam beribadah adalah mengharapkan sesuatu yang lain selain ridha Allah swt dalam beribadah. Misalnya bersedekah agar mendapatkan pujian manusia.

Yang juga tidak kalah penting dari makna persaksian terhadap keesaaan Allah swt adalah tidak berpecah-belah dalam kehidupan yang mengakibatkan rapuhnya sebuah masyarakat. Hal ini disebutkan di dalam QS. al-Rum/30:31-32: Muniibiina ilay-Hi wattaquu-Hu wa aqiimush shalaata wa laa takuunuu minal musyrikiin. Minal ladziina farraquu diinahum wa kaanuu syiya’an, kullu hizbin bimaa ladayhim farihuun. Artinya: dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta laksanakanlah shalat  dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

Ayat di atas memberi ciri orang yang menyekutukan Allah swt dengan 1) memecah belah agama menjadi golongan-golongan; 2) membanggakan golongan sendiri. Kedua hal itu bermakna satu yaitu, mendirikan golongan-golongan dalam agama untuk menunjukkan dirinya yang paling benar dalam beragama.

Apakah ayat di atas adalah larangan untuk berorganisasi? Apakah ayat di atas adalah larangan untuk bebas berpendapat. Tentu saja tidak. Rasulullah saw bahkan menganjurkan hidup terorganisir dan tidak pernah membatasi kreativitas sahabatnya dalam berpendapat.

Pada mulanya, organisasi dibuat untuk dua hal yaitu untuk memudahkan kehidupan dan untuk mencapai kebenaran secara bersama-sama. Namun yang dikritik oleh ayat di atas adalah ketika organisasi yang mulanya dibuat untuk kedua tujuan tadi malah mulai mengingkari tujuan awalnya.

Yang awalnya untuk mempermudah kehidupan, mulai berubah mempersulit kehidupan. Satu kelompok mulai menghalangi perkembangan kelompok lain karena berbeda kelompok. Bahkan suatu kelompok mulai memberangus kelompok lain karena berbeda pendapat.

Semua itu terjadi berawal dari ketika suatu kelompok mulai merasa paling benar dan kelompok lain dianggap salah. Kelompok yang paling benar ini kemudian mulai membanggakan kebenaran versinya dan mulai menghina kesalahan yang terjadi pada kelompok lain. Lebih lanjut, organisasi yang tadinya dibuat untuk mencapai kebenaran secara bersama-sama, mulai melupakan tujuan mencari kebenaran tetapi beralih menjadi mencari pembenaran kemudian buta terhadap kelemahan manusiawi kelompoknya sendiri tetapi sangat pedas mengritik kelompok lain. Perpecahan pun tinggal menunggu waktu. Inilah yang disebutkan di dalam al-Quran dengan: Kullu hizbin bimaa ladayhim farihuun (Tiap kelompok memanggakan kelompok mereka sendiri)

Kedua, memperbanyak permohonan ampun kepada Allah swt. Kalimat permohonan ampunan itu bisa berbunyi: Wa nastaghfirullaah. Permohonan ampun penting bukan hanya karena kita memang punya dosa dan jika kita memohon ampunan maka Allah pasti mengampuni kita, tetapi yang juga penting adalah permohonan ampunan menanamkan kesadaran kepada kita untuk tidak menjadi manusia yang sok suci. Persaan sok suci ini berbahaya karena menjadikan kita sombong, merasa benar sendiri, dan mengakibatkan umat Islam berpecah-belah. Seandainya setiap persoalan kita hadapi dengan kerendahan hati, maka kehidupan umat Islam di Indonesia tidak akan seruwet ini. Padahal bahkan Nabi Muhammad saw pun beristighfar 70 kali sehari padahal beliau adalah orang yang paling suci.

Jika dihubungkan dengan ayat al-Quran tadi, tentang larangan suatu kelompok membanggakan kelompoknya sendiri secara berlebihan, maka bisa bermakna bahwa satu kelompok tidaklah wajar merasa paling benar, bersih, dan suci karena sebagai manusia, semua pasti punya kesalahan dan dosa dan karena itu, itu perlu memperbanyak permohonan ampun kepada Allah swt, baik secara berkelompok maupun perorangan.

Ketiga, memperbanyak memohon surga. Kalimat permohonan surga bisa seperti ini: Nas’alu-Ka ridhaa-Ka wal jannah. Memang Rasulullah saw pernah bersabda bahwa seluruh umatnya masuk surga kecuali yang enggan, tapi siapa yang bisa memastikan dirinya tidak termasuk orang yang enggan? Siapa yang bisa memastikan bahwa amalan baiknya cukup mengantarkannya ke surga? Ini persoalan yang sulit dan menyadarkan kita bahwa surga belum berada dalam genggaman kita. Dengan menyadari itu saja, itu sudah cukup untuk kita tidak berani membangga-banggakan kebenaran kelompok kita. Jika kita sudah cukup sibuk memikirkan sedikitnya peluang kita mendapatkan surga, maka kita tidak sempat lagi mengingat kebanggaan kelompok kita apalagi mengingat kekurangan kelompok lain dalam beragama.

Keempat, memperbanyak memohon dihindarkan dari neraka. Kalimat permohoan dihindarkan dari neraka bisa seperti ini: Na’uudzu bi-Ka min sakhathi-Ka wan naar. Mengapa harus bergandengan antara memohon surga dengan berlindung dari neraka? Bukankah cukup salah satunya saja? Ada beberapa makna yang mungkin dari kenyataan itu. Di antaranya, ada kemungkinan orang yang memang masuk surga tetapi mampir dulu di neraka. Bisa pula bermakna bahwa yang membawa kita masuk surga berbeda dengan yang menghindarkan kita dari neraka.

Yang membawa kita masuk surga adalah memperbanyak amalah kebaikan sedangkan yang menghindarkan kita dari neraka adalah menjauhi perbuata dosa. Bukankah kedua hal itu adalah dua hal yang berbeda? Ya, berbeda karena lebih penting bagi kita untuk berupa semaksimal mungkin menghindari dosa, kemudian berupaya semaksimal mungkin untuk memperbanyak pahala.

Pertimbangannya sederhana. Bukankah dosa membuat hati kita semakin kotor? Dan bukankah hati yang kotor menyulitkan kita beribadah dan melakukan perbuatan baik? Sebaliknya, bukankah hati yang bersih membuat kita lebih mudah melakukan ibadah dan perbuatan baik?

Keempat anjuran Rasulullah saw di atas bisa dibaca dengan mudah lewat bacaan yang sangat masyhur, yaitu: Nasyhadu an laa ilaaha illal Laah. Wa nastaghfirullaah. Nas’alu-Ka ridhaa-Ka wal jannah. Wa na’uudzu bi-Ka min sakhathi-Ka wan naar.[]