Tauhid

0
11 views

muslim.or.idTauhid secara bahasa diambil kata Wahhada Yuwahhidu Tauhidan yang artinya mengesakan. Satu suku kata dengan kata wahid yang berarti satu atau kata ahad yang berarti esa. Dalam ajaran Islam Tauhid itu berarti keyakinan akan keesaan Allah swt. Tauhid merupakan inti dan dasar dari seluruh tata nilai dan norma Islam, sehingga oleh karenanya Islam dikenal sebagai agama tauhid yaitu agama yang mengesakan Tuhan.

Secara istilah, tauhid berarti mengesakan Allah swt dalam hal Mencipta, Menguasai, Mengatur dan mengikhlaskan (memurnikan) peribadahan hanya kepada-Nya, meninggalkan penyembahan kepada selain-Nya serta menetapkan Asma’ul Husna (Nama-nama yang Bagus) dan Shifat Al-Ulya (sifat-sifat yang Tinggi) bagi-Nya dan mensucikan-Nya dari kekurangan dan cacat.

Dalam perkembangan sejarah kaum muslimin, tauhid itu telah berkembang menjadi nama salah satu cabang ilmu Islam, yaitu ilmu Tauhid yakni ilmu yang mempelajari dan membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan keimanan terutama yang menyangkut masalah ke-Maha Esa-an Allah swt.

Tauhid adalah risalah para Nabi dan Rasul

Tauhid adalah merupakan risalah atau ajaran yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul hal ini ditegaskan oleh firman Allah swt,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “ bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. Al-Anbiya [21]: 25).

Ayat diatas diperjelas kembali oleh Allah swt dengan ayat-ayat yang lainnya yang lebih dihususkan kepada para nabi dan rasul tentang risalah tauhid ini, seperti dalam surat Al-A’raf ayat 59, risalah tauhid diajarkan dan diperintahkan kepada nabi Nuh untuk didakwahkan kepada Ummatnya,

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّيَ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Sesungguhnya Kami telah mengutus nabi Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata:” wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya,” sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat). (QS. Al-A’raf [7] : 59).

Begitu pula terhadap para nabi yang lainnya seperti Nabi Hud mengajarkan tauhid dalam surat Hud[11] ayat 50, Nabi Shalih mengajarkan tauhid dalam surat Hud [11] ayat 61, Nabi Syu’aib mengajarkan tauhid dalam surat Hud[11] ayat 84, Nabi Musa mengajarkan tauhid dalam surat Thoha [20] ayat 13-14, Nabi Ibrahim, Ishaq dan Ismail juga mengajarkan tauhid dalam surat al-Baqarah[2] ayat 133, juga Nabi Isa ajarannya adalah tauhid surat al-Maidah[5] ayat 72.

Urgensi Tauhid

Urgensi tauhid dalam Islam dapat dilihat antara lain dari :

Pertama, Sejarah perjuangan Rasulullah saw, dimana hampir selama periode Makkah Rasulullah saw mengerahkan usahanya untuk membina tauhid ummat Islam. Rasul selalu menekankan tauhid dalam setiap ajarannya, sebelum seseorang diberi pelajaran lain, maka tauhid ditanamkan lebih dahulu kepada mereka.

Kedua, Setiap ajaran yang menyangkut ibadah mahdhoh umpamanya senantiasa mencerminkan jiwa tauhid itu, yakni dilakukan secara langsung tanpa perantara.

Ketiga, Setiap perbuatan yang bertentangan dengan jiwa dan sikap tauhid yaitu perbuatan syirik dinilai oleh al-Qur’an sebagai dosa yang paling besar

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah swt tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari(syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya, barangsiapa yang mempersekutukan Allah swt, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar (QS. an-Nisa'[4]: 48 ). 

Hukum mempelajari ilmu tauhid

Hukum mempelajarinya adalah fardhu ‘ain bagi setiap muslim dan muslimah sampai ia betul-betul memiliki keyakinan dan kepuasan hati serta akal bahwa ia berada di atas agama yang benar. Sedangkan mempelajari lebih dari itu hukumnya fardhu kifayah, artinya jika telah ada yang mengetahui, yang lain tidak berdosa. Allah swt berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah. (QS. Muhammad [47]:19).

Macam-Macam Tauhid

Tauhid dibagi menjadi 3 macam yakni tauhid rububiyah, uluhiyah dan Asma wa Sifat. Mengamalkan tauhid dan menjauhi syirik merupakan konsekuensi dari kalimat sahadat yang telah diikrarkan oleh seorang muslim.

1.    Tauhid Rububiyah

Beriman bahwa hanya Allah swt satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta. Sebagaimana firman Allah swt,

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

”Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu” (QS. Az Zumar[39]: 62).

Hal yang seperti ini diakui oleh seluruh manusia, tidak ada seorang pun yang mengingkarinya. Orang-orang yang mengingkari hal ini, seperti kaum atheis, pada kenyataannya mereka menampakkan keingkarannya hanya karena kesombongan mereka. Padahal, jauh di dalam lubuk hati mereka, mereka mengakui bahwa tidaklah alam semesta ini terjadi kecuali ada yang membuat dan mengaturnya. Mereka hanyalah membohongi kata hati mereka sendiri. Hal ini sebagaimana firman Allah swt,

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ ، أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ بَل لّا يُوقِنُونَ

 “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).“ (QS. Ath-Thur[52]: 35-36)

Namun pengakuan seseorang terhadap Tauhid Rububiyah ini tidaklah menjadikan seseorang beragama Islam karena sesungguhnya orang-orang musyrikin Quraisy yang diperangi Rosulullah mengakui dan meyakini jenis tauhid ini. Sebagaimana firman Allah swt,

قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ، قُلْ مَن بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلا يُجَارُ عَلَيْهِ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ، سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ

“Katakanlah: ‘Siapakah Yang memiliki langit yang tujuh dan Yang memiliki ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Alloh.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak bertakwa?’ Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari -Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Alloh.’ Katakanlah: ‘Maka dari jalan manakah kamu ditipu?’” (QS. Al-Mu’minun[23]: 86-89).

2.    Tauhid Uluhiyah/Ibadah

Beriman bahwa hanya Allah swt semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bangiNya. Sebagaimana firman Allah swt,

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

 “Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang orang yang berilmu (juga menyatakan demikian). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Ali-Imran[3]: 18).

Beriman terhadap uluhiyah Allah swt merupakan konsekuensi dari keimanan terhadap rububiyah-Nya. Mengesakan Allah swt dalam segala macam ibadah yang kita lakukan. Seperti shalat, doa, nadzar, menyembelih, tawakkal, taubat, harap, cinta, takut dan berbagai macam ibadah lainnya. Dimana kita harus memaksudkan tujuan dari kesemua ibadah itu hanya kepada Allah semata. Tauhid inilah yang merupakan inti dakwah para Rosul dan merupakan tauhid yang diingkari oleh kaum musyrikin Quraisy. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah swt mengenai perkataan mereka itu,

أَجَعَلَ الآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu Sesembahan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS. Shaad[38]: 5).

Dalam ayat ini kaum musyrikin Quraisy mengingkari jika tujuan dari berbagai macam ibadah hanya ditujukan untuk Allah swt semata. Oleh karena pengingkaran inilah maka mereka dikafirkan oleh Allah dan Rosul-Nya walaupun mereka mengakui bahwa Allah swt adalah satu-satunya Pencipta alam semesta.

3.    Tauhid Asma wa Sifat

Maknanya adalah beriman bahwa Allah swt memiliki nama dan sifat baik (asma’ul husna) yang sesuai dengan keagungan-Nya. Umat Islam mengenal 99 asma’ul husna yang merupakan nama sekaligus sifat Allah swt.

Bidang Pembahasan Ilmu Tauhid

Ilmu tauhid membahas enam hal, yaitu:

Pertama, Iman kepada Allah swt, tauhid kepada-Nya, dan ikhlash beribadah hanya untuk-Nya tanpa sekutu apapun bentuknya.

Kedua, Iman kepada rasul-rasul Allah swt para pembawa petunjuk ilahi, mengetahui sifat-sifat yang wajib dan pasti ada pada mereka seperti jujur dan amanah, mengetahui sifat-sifat yang mustahil ada pada mereka seperti dusta dan khianat, mengetahui mu’jizat dan bukti-bukti kerasulan mereka, khususnya mu’jizat dan bukti-bukti kerasulan Nabi Muhammad saw.

Ketiga, Iman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah swt kepada para nabi dan rasul sebagai petunjuk bagi hamba-hamba-Nya sepanjang sejarah manusia yang panjang.

Keempat, Iman kepada malaikat, tugas-tugas yang mereka laksanakan, dan hubungan mereka dengan manusia di dunia dan akhirat.

Kelima, Iman kepada hari akhir, apa saja yang dipersiapkan Allah swt sebagai balasan bagi orang-orang mukmin (surga) maupun orang-orang kafir (neraka).

Keenam, Iman kepada takdir Allah swt yang Maha Bijaksana yang mengatur dengan takdir-Nya semua yang ada di alam semesta ini. Allah swt berfirman:

 

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

 “Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.” (QS. Al-Baqarah[2]: 285)

Manifestasi Tauhid

I’tikad dan keyakinan tauhid mempunyai konsekuensi bersikap tauhid dan berfikir tauhid seperti ditampakkan pada:

a.    Tauhid dalam ‘ibadah dan do’a.  Yaitu tidak ada yang patut disembah kecuali hanya Allah dan tidak ada dzat yang pantas menerima dan memenuhi do’a kecuali hanya Allah. ( QS. Al-Fatihah[1]: 5 ).

b.    Tauhid dalam mencari nafkah dan berekonomi.  Yaitu tidak ada dzat yang memberi rizki kecuali hanya Allah  (QS. Hud[11]: 6 ). Dan pemilik mutlak dari seluruh apa yang ada adalah Allah swt. (QS. al-Baqarah[2]: 284),(QS. an-Nur[24], 33).

c.    Tauhid dalam melaksanakan pendidikan dan da’wah.  Yaitu bahwa yang menjadikan seseorang itu baik atau buruk hanyalah Allah swt.  Dan hanya Allah swt yang mampu memberikan petunjuk kepada seseorang (QS. al-Qoshosh[28]: 56), (QS. an-Nahl[16]: 37).

d.    Tauhid dalam berpolitik.  Yaitu penguasa yang Maha Muthlaq hanyalah Allah swt. (QS. al-Maidah[5]: 18), (QS. al-Mulk[67]: 1). Dan seseorang hanya akan memperoleh sesuatu kekuasaan karena anugerah Allah semata-mata (QS. Ali-‘Imran[3]: 26). Dan kemulyaan serta kekuasaan hanyalah kepunyaan Allah swt. (QS. Yunus[10]: 65).

e.    Tauhid dalam menjalankan hukum.  Bahwa hukum yang benar adalah hukum yang datang dari Allah swt. Serta sumber kebenaran yang muthlaq adalah Allah swt. (QS. Yusuf[12]: 40 dan 67).

f.     Tauhid dalam sikap hidup secara keseluruhan, bahwa tidak ada yang patut ditakuti kecuali hanya Allah swt. (QS. at-Taubah[9]: 18),(QS. al-Baqarah[2]: 150).  Tidak ada yang patut dicintai kecuali hanya Allah swt ( dalam arti yang absolut ) (QS. at-Taubah[9]: 24).  Tidak ada yang dapat menghilangkan kemudharatan kecuali hanya Allah swt. (QS. Yunus[10]: 107).  Tidak ada yang memberikan karunia kecuali hanya Allah swt. (QS. Ali-‘Imran[3]: 73).  Bahkan yang menentukan hidup dan mati seseorang hanyalah Allah swt. (QS. Ali-‘Imran[3]: 145).

g.    Sampai pada ucapan sehari-hari yang senantiasa dikembalikan kepada Allah swt seperti :  Mengawali pekerjaan yang baik dengan Bismillah yang bermakna atas nama Allah.  Mengakhiri pekerjaan dengan sukses membaca Alhamdulillah yang bermakna segala puji bagi Allah.  Berjanji dengan ucapan Insya Allah yang bermakna kalau Allah swt menghendaki.  Bersumpah dengan WAllahi, BIlahi, TAllahi yang bermakna demi Allah swt.  Menghadapi sesuatu kegagalan dengan Masya Allah yang bermakna semua berjalan atas kehendak Allah swt.  Mendengar berita orang yang meninggal dunia dengan mengucapkan Inna LIlahi Wa Inna Ilaihi raji’un yang bermakna kami semua milik Allah swt dan kami semua akan kembali kepada Allah swt.  Memohon perlindungan dari sesuatu keadaan yang tidak baik dengan ucapan A’udzu bIlahi mindzalik yang bermakna aku berlindung kepada Allah swt dari keadaan demikian, Mengagumi sesuatu dengan ucapan Subhanallah yang bermakna Maha Suci Allah  swt. Terlanjur berbuat khilaf dengan ucapan, Astaghfirullah yang bermakna aku mohon ampun kepada Allah swt dan lain-lain.

h.    Berhindar dari kepercayaan-kepercayaan, serta sikap-sikap yang dapat mengganggu jiwa dan ruh tauhid seperti :  Mempercayai adanya azimat, takhyul, meminta-minta kepada selain Allah swt, mengkultuskan sesuatu selain Allah swt, melakukan tasybih, musyabihah ( antrofomorfisme ) yaitu menganggap Allah swt berjisim dan lain-lain.