Tauhid dan Fenomena Pluralitas

0
50 views

Dunia begitu dinamis karena manusia berpikir dan bertindak. Segala pemikiran yang dilakukan manusia berkembang dari waktu ke waktu karena manusia juga berkembang dan lingkungan membuat manusia belajar. Pemikiran, ide, dan gagasan besar menghasilkan faedah yang besar pula. Para penemu di masa lalu telah membuktikan hal itu, lalu lahirlah peradaban.

Sejak zaman ketika manusia menggunakan batu tajam untuk berburu kemudian masuk ke era di mana manusia mulai berbudaya bercocok tanam untuk hidup hingga segala kecanggihan teknologi jaman sekarang ketika manusia mampu mengontrol dunia lewat ujung jarinya, gagasan-gagasan manusia telah berkembang sangat signifikan. Namun sadar atau tidak, peradaban manusia berdampak serius kepada lingkungannya. Pemanasan global, perubahan iklim, dan kenaikan permukaan air laut menjadi fenomena lingkungan yang merupakan buah dari apa yang telah diperbuat manusia karena perkembangannya itu.

Apa yang sekarang disebut peradaban manusia mutakhir tidak lepas dari peran dunia Islam ketika lahir orang-orang seperti Ibnu Sina dan lainnya yang mampu membuktikan bahwa Muslim mampu berpikir inovatif untuk merubah keadaan di lingkungan sekitarnya menuju hidup yang lebih baik. Namun kita harus menggaribahawi bahwa peradaban yang dibangun oleh Muslim lama didasarkan pada sebuah prinsip yang tidak lekang oleh zaman, yaitu tauhid. Secara harfiah tauhid berarti “keesaan”. Dalam peradaban, konsep tauhid ini menjadi lebih dalam dan luas lagi pemahamannya. Dalam Islam, tauhid adalah cara pandang umat Islam terhadap realitas, kebenaran, dunia, ruang, dan waktu.

Realitas, kebenaran, dunia, ruang, dan waktu menjadi unsur-unsur atau sarana yang memicu perkembangan pemikiran manusia untuk membentuk suatu peradabaan dari pemikiran-pemikiran yang telah termanifestasi. Keutamaan manusia ada pada kekuatan pemahamannya memicu imajinasi, memori, intuisi, observasi, dan lainnya. Fungsi-fungsi dan kekuatan dalam manusia inilah yang membuat manusia mampu memahami kehendak Tuhan.

Peradabaan hanya akan tercipta ketika manusia tidak hanya berhasil mengubah dirinya sendiri karena perkembangan progresif pemikiran dan ide-ide teraplikasinya, tapi manusia juga mampu mengubah masyarakat, alam, atau lingkungannya.

Dalam membangun peradaban, umat Islam tidak mungkin bekerja tanpa menyerap unsur-unsur peradaban lainnya. Selalu ada sinergi antara gagasan yang dibawa oleh Islam dengan gagasan-gagasan yang sudah ada sebelum Islam. Inilah yang disalahpahami oleh beberapa kalangan bahwa unsur-unsur luar mencemari orisinalitas Islam itu sendiri.

Sebuah peradaban akan bertahan dan terus melakukan kemajuan jika mampu menyerap unsur-unsur dari luar dirinya. Karena itu, salah satu prinsip peradaban Islam adalah rasionalitas. Ketika ada suatu pemikiran yang bertentangan dengan rasio maka secara otomatis tertolak.

Salah satu bentuk kekhawatiran atas masuknya unsur-unsur asing dalam peradaban Islam adalah kebencian pada perbedaan, khususnya perbedaan keyakinan. Orang-orang seperti ini akan sangat mudah mengambil jalan kekerasan di saat mereka merasa ada ancaman yang menjangkau ideologi mereka. Sikap tidak toleran biasanya muncul dari kondisi seperti ini. Dampaknya bisa sangat serius. Warga etnis Rohingya di Myanmar harus meregang nyawa. Beberapa aliran yang dianggap sesat di Indonesia juga harus menjadi korban ketidaksukaan mayoritas.

Dalam kaitannya dengan tauhid sebagai inti peradaban, artikel ini ingin menekankan bahwa kesatuan tidak hanya ada pada sisi Ketuhanan tetapi juga pada sisi kemanusiaan. Satu Tuhan di satu sisi sangat berkaitan dengan satu kemanusiaan di sisi lain. Keragaman manusia dengan segala kekayaan kulturalnya adalah kehendak Allah jua. Tugas manusia bukan untuk membasmi keragaman dan memproklamirkan keseragaman, tetapi menyiasati keragaman yang sudah merupakan keniscayaan untuk dijadikan alat untuk membangun peradaban yang berguna bagi semua.

Para pendiri bangsa Indonesia rupanya cukup mamahami keragaman masyarakat Indonesia yang adalah atas kehendak Tuhan semata. Karena itulah mereka melahirkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Radiv Muhammad Aflah Annaba

Mahasiswa Universitas Paramadina Angkatan 2011 NIM 112105001