Taqwa Dalam Perceraian 2

0
231 views

republika.co.idDihadapan Allah swt, manusia yang paling mulia adalah siapa saja yang paling bisa menunjukkan ketaqwaan kepada-Nya. Karena itu meskipun terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan, taqwa tetap harus kita tunjukkan, salah satunya dalam perceraian antara suami dengan isteri. Setelah bentuk-bentuk taqwa seorang suami, maka semua pihak yang terkaitpun harus menunjukkan ketaqwaan dalam konteks perceraian.

Taqwa Isteri.

Perceraian bukanlah kiamat bagi siapapun, karenanya jangan sampai ketaqwaan tergadaikan hanya karena ketidakpuasan dalam berumah tangga yang berujung pada perceraian. Karena itu, sebagai wanita yang mulia, seorang isteri harus bisa mempertahankan ketaqwaannya dalam masalah ini. Pertama, tidak menuntut cerai bila tidak memiliki alasan yang bisa dibenarkan. Dalam kehidupan rumah tangga bisa jadi ada persoalan-persoalan yang mencerminkan ketidakharmonisan antara suami-isteri. Kalau kedua belah pihak mau menyelesaikan persoalan itu, tentu ada jalan keluarnya, seorang suami tidak boleh mudah menceraikan isterinya, begitu pula dengan seorang isteri yang seharusnya tidak mudah menyampaikan gugatan cerai tanpa alasan yang kuat, misalnya suaminya sakit keras yang menyebabkannya tidak bisa mencari nafkah, atau memberi nafkah tidak cukup karena memang kesulitan hidup padahal suaminya terus berusaha, ada pula isteri yang menggugat cerai hanya karena suaminya menikah lagi dengan wanita lain, padahal sang suami sudah menjalani kewajibannya dengan baik, apalagi bila ada isteri minta dicerai karena ia ingin menikah dengan lelaki lain yang menurutnya lebih baik. Ini merupakan sesuatu yang harus diwaspadai oleh para isteri karena hal ini bisa menjadi penghalang baginya untuk bisa masuk surga, sebab jangankan masuk surga, mencium baunya saja tidak, Rasulullah saw bersabda:

 

 أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلاَقَهَا مِنْ غَيْرِ مَابَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَارَائِحَةُ الْجَنَّةِ

 

Perempuan mana saja yang meminta kepada suaminya untuk menceraikannya tanpa suatu alasanpun, maka haram atasnya aroma surga (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

Kedua, tidak menuntut suami agar menceraikan isteri kedua, ketiga atau keempatnya padahal suaminya mampu melakukan hal itu, tapi karena ia tidak suka bila suaminya menikah lagi, maka ia mengultimatum sang suami: Pilih saya atau ceraikan dia” ada juga yang bilang: “pilih dia atau ceraikan saya.” Ini merupakan kalimat yang mencerminkan sikap emosi yang tidak boleh dilakukan. Meskipun demikian, seorang suami juga tidak boleh begitu saja menikah lagi dengan wanita lain tanpa mempersiapkan keluarganya sehingga jangan sampai ia mau membangun rumah kedua, tapi rumah pertama malah runtuh. Terlepas dari soal itu, seorang isteri tidak pada tempatnya bila menuntut suami untuk menceraikan isterinya yang lain, karena siapa saja yang menyebabkan terjadinya perceraian, maka dia terancam tidak diakui sebagai umat Nabi Muhammad saw, dalam satu hadits dijelaskan:

 

لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا

Bukan golongan kami orang yang merusak (hubungan) perempuan atas suaminya (HR. Abu Daud dan Hakim).

Ketiga, tidak menerima lamaran dan menikah selama masa iddah, yakni masa menunggu untuk bisa menikah lagi dengan laki-laki lain atau mau rujuk kepada bekas suaminya selama tiga kali suci setelah haid, meskipun sudah ada lelaki lain yang siap menikah dengannya, hal ini untuk memastikan bahwa rahimnya memang bersih dari kemungkinan punya anak, hal ini karena di dalam Islam nasab amat diperhatikan sehingga jangan sampai pada saat seseorang baru menjanda menikah lagi dengan lelaki lain dan hamil lalu menjadi tidak jelas sang janin ini anak dari bapak yang mana. Namun bila ternyata hamil masa iddahnya sampai melahirkan sehingga ia baru boleh menikah dengan laki-laki lain setelah melahirkan. Allah swt berfirman: Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru (suci atau haid). Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika ia (suami) menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS Al Baqarah [2]:228-289).

Masa iddah ini dijelaskan juga oleh Allah swt dalam firman-Nya yang lain: Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya(QS At Thalaq [65]:4).

Oleh karena itu, bila ada seorang janda menikah lagi dengan lelaki lain pada masa iddah maka nikahnya itu tidak sah. Namun bila ia mau rujuk lagi kepada bekas suaminya, maka hal itu lebih baik.

Taqwa Sebagai Orang Tua.

Ketika kehidupan suami isteri dikaruniai anak, maka ketika suami isteri bercerai, dituntut pula menunjukkan ketaqwaan dalam kaitan anak. Dari sisi nafkah materi, kewajiban terletak pada bapak meskipun anak itu ikut ibu, apalagi bila sang anak memang masih amat membutuhkan pengasuhan ibu, termasuk meskipun sang ibu sudah menikah lagi dengan lelaki lain sehingga sang bapak tidak boleh lepas tanggungjawab, dalam kaitan inilah sebagai orang tua mantan suami dan isteri tetap harus berkomunikasi. Kalau boleh disebut milik, maka anak yang dihasilkan dari pernikahan adalah milik suami isteri dan ketika keduanya bercerai, maka hak itu tidaklah terputus dan ini terkait dengan nasab atau garis keturunan.

Oleh karena itu, hubungan bapak dengan anak dan hubungan ibu dengan anak atau sebaliknya jangan sampai terputus atau diputus hanya karena terjadinya perceraian. Bila anak ikut bapak, maka sang bapak tidak boleh menghalangi pertemuan sang anak dengan ibu, begitu pula bila anak ikut ibu, maka sang ibu tidak boleh menghalangi pertemuan anak dengan bapaknya. Dalam konteks inilah kita dapati banyak suami isteri yang bercerai tidak menunjukkan ketaqwaan sebagai orang tua sehingga kekecewaannya yang begitu besar kepada mantan suami atau mantan isteri menyebabkan sang anak, apalagi bila perceraian terjadi saat anak masih amat kecil menjadi tidak tahu siapa bapak atau ibunya yang sesungguhnya. Padahal dari sisi hukum, misalnya terkait waris dan wali pernikahan bila anaknya perempuan tidak bisa dipisahkan begitu saja dari orang tuanya. Disinilah sebagai orang tua, suami isteri yang bercerai tidak boleh menuruti emosi, demi masa depan dan kebaikan anak-anaknya.

Hal lain yang juga penting, sebagai orang tua tentu punya tanggungjawab dalam mendidik anak-anaknya, maka ketika suami isteri telah berpisah dan anak ikut salah satu dari orang tuanya, maka bapak atau ibu tetap harus berkoordinasi atau bermusyawarah dalam kaitan dengan mendidik anak. Disinilah rumitnya efek negatif dari perceraian sehingga suami isteri yang mau bercerai harus berpikir lebih matang lagi, jauh ke depan bagi kebaikan anaknya.

Taqwa Orang Tua, Anak dan Menantu.

Ketika pernikahan dinyatakan sah, salah satu yang harus dipahami oleh orang tua adalah kedudukan menantunya seperti anak sendiri, begitu pula menantu terhadap mertua. Karena itu, meskipun perceraian terjadi, mertua tetaplah mertua yang kedudukannya seperti orang tua sehingga secara hukum selamanya tidak boleh menantu kawin dengan mertua meskipun perceraian telah terjadi, baik cerai hidup maupun cerai mati.

Namun yang amat disayangkan, dalam kehidupan masyarakat kita perceraian banyak terjadi justeru karena campur tangan orang tua atau mertua. Disinilah letak pentingnya ketaqwaan sebagai orang tua atau mertua dan menantu. Bila sudah demikian, betapa besar kelecewaan orang tua atau mertua terhadap anak dan menantunya sehingga mereka tidak menghendaki kemungkinan terjadinya rujuk bagi anaknya yang sudah bercerai, padahal Allah swt memberikan kesempatan kepada suami isteri yang bercerai untuk rujuk kembali, karena setelah berpisah beberapa pekan selama masa iddah keduanya bisa menerung dan berpikir secara jernih akan kemungkinan bisa melanjutkan ikatan suami isteri, itu sebabnya, Allah swt masih memberi peluang kepada keduanya untuk rujuk atau berpisah secara baik-baik sebagaimana firman-Nya:  Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma’ruf (pula). Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah permainan, dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab dan Al Hikmah (As Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS Al Baqarah [2]:231).

Bila ada dua pilihan untuk rujuk atau berpisah total, maka saat masa iddah belum berakhir dan mungkin saja harus perenungan dan perasaannya justeru menyadarkan mereka untuk rujuk, maka sebesar apapun kekecewaan orang btua atau mertua, bila pilihan mereka demikian,  maka orang tua jangan menghalangi maksud yang baik ini, Allah swt mengarahkan para orang tua dengan firman-Nya: Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma’ruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS Al Baqarah [2]:232).

Oleh karena itu, semua pihak, baik orang tua dan keluarga besarnya, maupun suami isteri yang bercerai, pada masa iddah seharusnya dijadikan kesempatan untuk berpikir ulang secara jernih dan objektif tentang manfaat dan mudharat bila rujuk atau berpisah, karenanya Imam Fakhrurrazi seperti yang dikutip oleh Syaikh Muhammad Ali Ash Shabuni dalam Tafsirnya Shafwatut Tafaasir menyatakan: “Hikmah dalam menetapkan hak rujuk adalah bahwa manusia selagi bersama sahabatnya dia tidak mengerti apakah perpisahan dengannya akan menjadi terasa sedih atau tidak. Apabila dia telah berpisah, maka rasa sedih akan muncul. Oleh karena itu, jikalah Allah swt menjadikan cerai hanya sekali (dilarang rujuk), maka rasa sedih akan semakin besar bagi manusia. Sebab, terkadang cinta muncul setelah perpisahan.Lalu apabila sesudah eksperimen tidak memberikan hasil yang pertama kalinya, maka Allah menetapkan hak rujuk dua kali, hal ini menunjukkan kesempurnaan rahmat Allah swt terhadap hamba-Nya.”

Dengan demikian, sebagai orang tua atau mertua yang taqwa mereka  tidak menghalangi anak dan menantu bila kemungkinan mau rujuk, karena anak dan menantunyalah yang lebih memiliki perasaan dalam kaitan ini, apalagi sejak awal tidak ada niat orang yang menikah untuk bercerai dan bila terjadi perceraian juga, masih ada kesempatan untuk rujuk bila thalaqnya satu atau dua. Semua ini memang ketentuan Allah swt yang harus kita hormati sebagaimana firman-Nya: Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya. (QS At Thalaq [65]:5).

Dari uraian di atas, menjadi jelas bagi kita betapa indah ajaran Islam yang kita yakini kebenarannya, namun keindahannya hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang bertaqwa kepada Allah swt.

Drs. H. Ahmad Yani

Email: ayani_ku@yahoo.co.id