Taqwa Dalam Perceraian, 1

0
23 views

styledweller.blogspot.comDalam kehidupan ini, memiliki ketaqwaan kepada Allah swt merupakan sesuatu yang amat penting, itu sebabnya para Nabi mengarahkan umatnya untuk bertaqwa kepada Allah swt dan arahan taqwa ini dilanjutkan oleh para khatib, muballig dan ulama. Taqwa dalam arti melaksanakan perintah Allah swt dan meninggalkan segala larangan-Nya dibutuhkan dalam berbagai keadaan, saat hidup dengan suasana yang menyenangkan maupun menyakitkan, saat harta berlimpah maupun kekurangan harta dan begitulah seterusnya. Diantara suasana yang tidak menyenangkan adalah ketika terjadinya perceraian.

Menurut catatan Kementerian Agama, dalam satu tahun ada 2 juta pernikahan melalui Kantor Urusan Agama (KUA) di seluruh Indonesia, namun yang bercerai dalam satu tahun tidak kurang dari 200 ribu. Itu artinya, angka perceraian di negeri kita mencapai tidak kurang dari 10 persen. Kenyataan menunjukkan bahwa meskipun awalnya tidak ada yang menginginkan terjadi perceraian dalam rumah tangga, hal itu mungkin saja terjadi, bahkan kadang-kadang tidak bisa dihindari, karenanya secara hukum cerai itu halal meskipun dibenci oleh Allah swt. Dalam bahasa aran cerai adalah thalaq yang artinya melepas, yakni melepas ikatan pernikahan antara suami dengan isteri. Dalam menghadapi perceraian, umumnya masyarakat kita, baik suami isteri yang bercerai maupun orang tua dan keluarga dari kedua belah pihak tidak menunjukkan ketaqwaannya. Karena itu amat penting masalah ini kita bahas, apalagi dalam surat At Thalaq [65] yang membicarakan masalah perceraian disisipkan oleh Allah swt masalah taqwa, maka diantara isyarat yang kita tangkap adalah bila dalam masalah perceraian saja seorang muslim harus menunjukkan ketaqwaannya, apalagi saat mau menikah dan dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Taqwa Suami.

Posisi sentral dalam kehidupan rumah tangga terletak pada suami, karena posisinya sebagai kepala rumah tangga. Kematangan pribadi, kasih sayang dan tanggungjawabnya kepada keluarga harus terus ditunjukkannya meskipun perceraian dengan isterinya terjadi, Karena itu ada beberapa keharusan seorang suami terhadap isteri dan anaknya dalam kaitan perceraian. Pertama, menempuh jalur perceraian sebagai pilihan terakhir setelah berbagai cara untuk mencegahnya sudah dilakukan seperti menasihati, pisah ranjang, memberi sanksi hingga mencari juru damai agar sang isteri bisa memperbaiki diri, Allah swt berfirman: Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya (meninggalkan kewajiban bersuami isteri. Nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya), maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam[293] dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS An Nisa [4]:34-35)

Kedua, menceraikan isteri saat suci, tidak saat haid agar ia bisa menghitung masa iddahnya. Karena itu sebagaimana diriwayatkan Muslim dari Abdurrahman bin Aiman, ketika sahabat Abdullah bin Umar menceraikan isterinya pada saat isterinya sedang haid dan Umar bin Khattab menanyakan masalah ini kepada Rasulullah saw, maka beliau menjawab: “hendaklah dia rujuk kepadanya, bila, bila isterinya telah suci, maka dia boleh menceraikan dan boleh juga melanjutkan ikatan perkawinan”. Peristiwa ini merupakan asbabun nuzul dari firman Allah swt: Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang (mengerjakan perbuatan-perbuatan pidana, berkelakuan tidak sopan terhadap mertua, ipar, besan dan sebagainya). Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru (keinginan dari suami untuk rujuk kembali apabila talaqnya baru dijatuhkan sekali atau dua kali).(QS At Thalaq [65]:1).

Ketiga, bila memungkinkan untuk diusahakan rujuk sebelum berakhirnya masa iddah, maka amat bagus bila suami isteri rujuk kembali, karena mungkin setelah berpisah selama tiga bulan, mungkin sudah bisa merenung dan mengevaluasi akan pentingnya melanjutkan kehidupan rumah tangga sebelum betul-betul berpisah secara total dalam konteks ikatan suami isteri, namun bila memang tidak memungkinkan, tetap saja harus berpisah secara baik-baik sehingga sang isteri bisa bebas untuk menentukan masa depannya dan saling menutup keaiban yang tidak perlu lagi diceritakan kepada orangt lain, apalagi kepada publik melalui media massa, Allah swt berfirman: Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (QS At Thalaq [65]:2).

Keempat, memberi nafkah kepada isteri hingga berakhirnya massa iddah, kecuali nafkah batin dalam arti hubungan seksual karena statusnya sudah bercerai. Nafkah lahir mencakup makan, minum, pakaian dan tempat tinggal. Dengan kata lain, seorang mantan suami masih wajib menafkahi mantan isterinya selama masa iddah seperti biasa, kecuali seksual dan seorang lelaki tidak boleh menzhalimi mantan isterinya itu, isyarat yang harus kita tangkap adalah bila sudah bercerai saja masih harus menafkahi selama masa iddah apalagi bila belum bercerai, karenanya amat disayangkan terhadap begitu banyak suami yang tidak bertanggungjawab kepada isterinya dengan tidak memberi nafkah yang sesuai dengan kemampuannya, Allah swt berfirman: Tempatkanlah mereka (para isteri) dimana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga melahirkan, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak) mu untukmu, maka berikanlah kepada mereka upahnya; dan musyawarahkanlah diantara kamu (segala sesuatu), dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menysukan (anak itu) untuknya Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (QS At Thalaq [65]:6-7).

Dalam konteks keharusan menafkahi mantan isteri, seorang lelaki tidak boleh khawatir dengan kondisi ekonominya, karena bila ia mau menunjukkan ketaqwaan dalam masalah ini, insya Allah ada rizkinya, bahkan dari arah yang dia sendiri tidak menduga-duga, tugas kita adalah berusaha dan setelah itu bertawakkal kepada Allah swt sebagaimana firman-Nya: Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS At Thalaq [65]:3).

Kelima, memberi nafkah kepada anak dan bermusyawarah, ini merupakan kewajiban bapak kepada anak yang dihasilkan dari pernikahan, jangan sampai seorang wanita menjadi begitu susah menafkahi anaknya, sementara sang bapak pergi begitu saja dan mungkin menikah lagi dengan wanita lain. Bila anak yang dihasilkan masih dalam masa penyusuan ibunya, maka sang bapak harus menafkahi anaknya dengan membayar upah menyusui kepada bekas isterinya, karena itu salah satu yang harus dimusyawarahkan oleh suami isteri yang bercerai adalah soal menafkahkan anak yang dalam proses penyusuan idealnya berlangsung dua tahun, namun bila hendak dikurangi atau bila seorang ibu tidak memiliki banyak air susu, termasuk bila adanya tuntutan upah yang terlalu besar dan sang bapak tidak sanggup memenuhinya, bisa saja penyusuan itu diserahkan kepada orang lain bila disepakati dalam musyawarah, Allah swt berfirman: Para ibu hendaklah menyusukan anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bartaqwalah kepada Allah  dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (QS Al Baqarah [2]:233).

Dari ayat di atas, dapat diambil sebuah pelajaran bahwa dalam kehidupan keluarga, musyawarah antara suami isteri dalam berbagai persoalan merupakan perkara yang amat penting sehingga diisyaratkan bahwa sudah bercerai saja masih harus bermusyawarah, apalagi bila belum bercerai. Karenanya sangat tragis bila dalam kehidupan rumah tangga tidak ada musyawarah antara suami dengan isteri, hal ini ditegaskan lagi oleh Allah swt dalam firman-Nya: Tempatkanlah mereka (para isteri) dimana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga melahirkan, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak) mu untukmu, maka berikanlah kepada mereka upahnya; dan musyawarahkanlah diantara kamu (segala sesuatu), dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menysukan (anak itu) untuknya (QS QS At Thalaq [65]:6).

Keenam, memberikan hak kepemilikian harta dan tidak mengambil kembali apa yang sudah diberikan suami kepada isterinya, bahkan bila ada hal-hal yang belum ditunaikan oleh suami kepada isterinya, maka hal itu harus ditunaikan sebelum ia berpisah secara total, Allah swt berfirman: Dan jika kamu ingin mengganti isteri dengan isteri yang lain (cerai), sedang kamu telah memberikan seseorang diantara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata? Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat. (QS An Nisa [4]:20-21)

Termasuk memberikan hak kepemilikan harta adalah bila ada harta yang dimiliki bersama antar suami isteri seperti membeli sesuatu dengan uang bersama atau memiliki harta dengan sebab usaha bersama. Bila harta bersama saja harus dibagi dua terlebih dahulu, apalagi bila harta itu sepenuhnya milik isteri, baik berupa harta waris dari rang tuanya maupun harta yang diperoleh dengan sebab usaha sendiri.

Dengan demikian, meskipun perceraian terjadi, tidak ada kezaliman dan citra diri seorang suami diakui oleh isteri dan keluarganya serta masyarakat di sekitarnya sebagai orang dengan kepribadian mulia. Bersambung………

Drs. H. Ahmad Yani

Email: ayani_ku@yahoo.co.id

BAGI
Artikel SebelumnyaKeluarga Ideal
Artikel BerikutnyaDo’a Agar Hujan Berhenti