Takdir Ini

0
214 views
http://kevindailystory.com

Oleh Abd. Muid N.

Persoalan takdir mungkin hanya milik mereka yang bertuhan karena persoalan takdir muncul dari relasi hamba dengan Tuhan dalam hal kuasa. Karena itu, besar kemungkinan takdir adalah bahasan penting semua agama. Bagi yang tidak bertuhan, barangkali tidak ada takdir. Kalaupun ada, mungkin bukan persoalan. Kalaupun takdir itu persoalan, barangkali yang tak bertuhan itu menganut paham Qadariyyah.

Dalam sejarah Islam, kita mengenal aliran Jabariyyah (keterpaksaan oleh Allah SWT) yang lebih menekankan kepada kuasa Tuhan dan aliran Qadariyyah (keberdayaan manusia) yang menganggap kuasa manusia itu ada.

Dengan kata lain, persoalan takdir adalah pemerhadapan manusia bertuhan di satu sisi dengan Tuhan bermanusia di sisi berlawanan, lalu mengerucut menjadi sebuah pertanyaan: manakah di antara keduanya yang lebih berkuasa? Jabariyyah bertegas: Tuhan lah penguasa segalanya. Qadariyyah menentang: manusia lah penentu nasibnya sendiri.

Jika kita hendak mempersempit persoalan, maka kita bertanya: takdir adalah persoalan bagi siapa? Bagi manusia bertuhan? Atau bagi Tuhan bermanusia? Ya, tentu saja takdir bukan persoalan bagi Tuhan tetapi persoalan bagi manusia bertuhan. Lalu manusia sendiri lah yang membelah dirinya menjadi Jabariyyah dan Qadariyyah. Dan mereka bertengkar.

Kalo dipikir-pikir, jangan-jangan Jabariyyah serta Qadariyyah bukanlah dua kelompok manusia yang sedang beradu kuat. Keduanya hadir hanyalah sabagai umpama. Toh, tidak ada manusia yang Jabariyyah 100% atau Qadariyyah 100%. Jabariyyah dan Qadariyyah tidak lebih gambaran manusia itu sendiri, secara individual.

Pada diri seorang manusia lah sesungguhnya Jabariyyah dan Qadariyyah itu berebut kuasa. Seorang manusia bisa saja memulai paginya dengan Qadariyyah lalu terlelap malam dalam keadaan Jabariyyah. Atau sebaliknya.

Di kala seluruh urusan terasa mudah dan berada dalam kekangnya, manusia bersikap Qadariyyah. Tuhan pun dibuat beringsut menjauh. Namun kala urusan tersendat dan yang terjadi berada di luar kendali, manusia lalu bersikap Jabariyyah. Tuhan kemudian muncul di mana-mana.

Jika yang di atas itu benar, maka mungkin benar pula mereka yang berkata bahwa agama lahir di lembah ketidakberdayaan manusia. Namun yang berkata seperti itu mungkin lupa bahwa yang Qadariyyah pun bertuhan. Bukankah Qadariyyah adalah konsekuensi dari persoalan takdir. Dan bukankah persoalan takdir hanya dimiliki oleh mereka yang bertuhan?

BAGI
Artikel SebelumnyaAs(h)li