Tahun Baru, Tanggal Merah

0
55 views

Oleh Abd. Muid N.

Secara umum, para pemikir tentang waktu bisa dibagi ke dalam dua aliran. Pertama, pandangan statis dan kedua, pandangan dinamis. Bagi yang berpandangan statis, perubahan temporer adalah ilusi. Dan bagi mereka, ketika manusia memberi makna pada waktu, menamainya, dan memujanya, maka itu hanyalah ilusi manusia sendiri bukan waktu itu. Sedangkan dari yang perpandangan dinamislah kita menemui pandangan bahwa waktu seperti sungai yang mengalir.

Tanggal 1 Januari 2010 sudah pasti “tanggal merah”. Bagaimana dengan 1 Muharram 1430 yang bertepatan dengan 18 Desember 2009? Kenyataannya itu “tanggal merah” juga. Namun tidak semua negara sepakat dengan itu. Amerika Serikat bisa dipastikan tidak menjadikannya “tanggal merah” dan banyak negara lain yang seperti itu. Bisa kita bayangkan bagaimana sikap umat Islam jika Hari Raya Idul Fitri tidak ditanggalmerahkan.

Tidak bisa ditolak bahwa sebahagian umat Islam memang memandang perjalanan waktu itu seartifisial merah atau tidaknya tanggal. Ada saja individu atau kelompok umat Islam yang sudah pasti akan marah jika 1 Muharram tidak lagi ditanggalmerahkan, namun jika mereka ditanya: Apakah mereka telah mengisi waktu-waktu yang telah diberikan Tuhan itu dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan umat Islam khususnya dan peradaban manusia pada umumnya? Jawabannya bisa “tidak” karena itu sering dianggap sebagai persoalan yang berbeda.

Ya, setiap detik adalah bermakna. Bahkan, bagi orang Indonesia, dua hari libur untuk Idul Fitri tidak akan sanggup menampung saratnya makna yang ada di dalam lebaran. Kalau memang dua hari itu cukup menampung makna, tidak harus ada H-10 dan H+10, kan? Jika memang dua hari itu cukup, maka tidak perlu ada fenomena pulang kampung yang seakan-akan—oleh para pelakunya—itu adalah perjalanan pulang kampung yang terakhir karena begitu banyak yang harus dipertaruhkan dengan pulang kampung itu, termasuk jiwa.

Memang waktu bisa bermakna banyak hal. Banyak yang menyebut waktu itu mengalir seperti aliran sungai. Upaya untuk memaknai sang waktu bisa disebut seperti mengambil air dari sungai itu, menutupnya rapat-rapat dan menyimpannya. Kapanpun si pengambil air itu ingin melihat air tersebut, bernostalgia, ia tinggal mengambilnya di tempat ia menyimpannya.

Di zaman ketika hampir setiap orang punya handphone dan hampir setiap handphone punya kamera seperti saat ini, orang-orang seperti beramai-ramai mengambil air dari sungai sang waktu yang terus mengalir. Hampir setiap momen tidak dibiarkan lewat begitu saja tanpa “diabadikan” lewat jepretan kamera dan lalu disebarluaskan lewat bluetooth, MMS, atau situs jejaring sosial yang sekarang sangat diminati—seperti facebooktwittermy space, dan sebagainya.

Memang aneh masyarakat modern, setelah mereka menganggap biasa-biasa saja hari-hari besar keagamaan karena dipandang tidak mempunyai kesakralan apa-apa, mereka malah menjadi mensakralkan banyak waktu. Untuk apa mereka “mengabadikan” momen-momen itu jika tidak mensakralkannya?

Memerahkan tanggal di hari-hari besar agama seperti mengambil air dari aliran sungai. Ini adalah sebuah upaya untuk memaknai hari-hari itu dengan cara yang sangat sederhana. Namun kita sepakat, menghargai waktu yang telah diberikan oleh Allah tidak cukup dengan memerahkan tanggal. Kita harus mengisinya dengan cara yang sesuai dengan fungsi kekhalifahan dan kemanusiaan kita di muka bumi. Memakmurkan dunia.[]

Bahan Bacaan:

Dani Cavallaro, Teori Kritis dan Teori Budaya, Yogyakarta: Niagara, 2004