Tahun Baru: Sinergi Alam untuk Kemajuan

0
155 views

by Dr. Abd. Muid N., MA.

Risalah Sang Waktu

Secara umum, para pemikir tentang waktu bisa dibagi ke dalam dua aliran. Pertama, pandangan statis dan kedua, pandangan dinamis. Bagi yang berpandangan statis, perubahan temporer adalah ilusi.[1] Bagi mereka ketika manusia memberi makna pada waktu, menamainya, dan memujanya, maka itu hanyalah ilusi manusia sendiri bukan waktu itu. Sedangkan dari yang perpandangan dinamislah kita menemui pandangan bahwa waktu seperti sungai yang mengalir.

Tidak bisa ditolak bahwa sebahagian umat Islam memang memandang perjalanan waktu itu seartifisial merah atau tidaknya tanggal. Ada saja individu atau kelompok umat Islam yang sudah pasti akan marah jika 1 Muharram tidak lagi ditanggalmerahkan, namun jika mereka ditanya: Apakah mereka telah mengisi waktu-waktu yang telah diberikan Tuhan itu dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan umat Islam khususnya dan peradaban manusia pada umumnya? Jawabannya bisa beragam karena itu sering dianggap sebagai persoalan yang berbeda.

Ya, setiap detik adalah bermakna. Bahkan, bagi orang Indonesia, dua hari libur untuk Idul Fitri tidak akan sanggup menampung saratnya makna yang ada di dalam lebaran. Kalau memang dua hari itu cukup, tidak harus ada H-10 dan H+10, kan? Jika memang dua hari itu cukup, maka tidak perlu ada fenomena pulang kampung yang seakan-akan—oleh para pelakunya—itu adalah perjalanan pulang kampung yang terakhir karena begitu banyak yang harus dipertaruhkan dengan pulang kampung itu, termasuk jiwa.

Memang waktu bisa bermakna banyak hal. Banyak yang menyebut waktu itu mengalir seperti aliran sungai. Upaya untuk memaknai sang waktu bisa disebut seperti mengambil air dari sungai itu, menutupnya rapat-rapat dan menyimpannya. Kapanpun si pengambil air itu ingin melihat air tersebut, ia tinggal mengambilnya di tempat ia menyimpannya.

Di zaman ketika hampir setiap orang punya handphone dan hampir setiap handphone punya kamera seperti saat ini, orang-orang seperti beramai-ramai mengambil air dari sungai sang waktu yang terus mengalir. Hampir setiap momen tidak dibiarkan lewat begitu saja tanpa “diabadikan” lewat jepretan kamera dan lalu disebarluaskan lewat bluetooth, MMS, atau situs jejaring sosial yang sekarang sangat diminati—seperti facebook, twitter, my space, dan sebagainya.

Memang aneh masyarakat modern, setelah mereka menganggap biasa-biasa saja hari-hari besar keagamaan karena dipandang tidak mempunyai kesakralan apa-apa, mereka malah menjadi mensakralkan banyak waktu. Untuk apa mereka “mengabadikan” momen-momen itu jika tidak mensakralkannya?

Memerahkan tanggal di hari-hari besar agama seperti mengambil air dari aliran sungai. Ini adalah sebuah upaya untuk memaknai hari-hari itu dengan cara yang sangat sederhana. Namun kita sepakat, menghargai waktu yang telah diberikan oleh Allah tidak cukup dengan memerahkan tanggal. Kita harus mengisinya dengan cara yang sesuai dengan fungsi kekhalifahan dan kemanusiaan kita di muka bumi. Memakmurkan dunia.

Di dalam tradisi Islam, baik dalam Hadits maupun al-Qur’an, waktu itu menduduki posisi yang sangat penting. Di dalam salah satu Hadits Qudsi yang juga termaktub di dalam kitab Shahîh Al-Bukhârî diriwayatkan oleh Abu Hurayrah ra. disebutkan bahwa: “Allah Berfirman: Manusia menghina-Ku dengan menyalahkan waktu (dahr); Akulah waktu (Anâ ad-dahr). Perintah ada di tangan-Ku, dan Aku menyebabkan pergantian siang dan malam” (hadits 4452)

Di tempat lain, dalam Musnad Imâm Ahmad, juga diriwayatkan oleh Abu Hurayrah: “Rasulullah saw. bersabda: Janganlah engkau menyalahkan waktu (ad-dahr) karena sesungguhnya Allah berfirman bahwa Akulah Ad-Dahr” (hadits 10043). Karena itu bahkan madzhab Zhahiriy memahami waktu sebagai sifat sejati Allah.[2]

Di dalam al-Qur’an, ditemukan kesan bahwa waktu adalah hal yang sangat penting karena Allah sering menjadikan waktu sebagai alat untuk bersumpah seperti ayat Wan nahâri idzâ tajallâ (Demi siang apabila terang-benderang).[3] Dan waktu itu sendiri mengaitkan antara aktivitas alam raya (makrokosmos) seperti bulan dan matahari dengan aktivitas manusia (mikrokosmos). Allah berfirman: “Dia-lah Tuhan yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkannya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu (hisâb) (QS. al-Mâ’idah/5: 5).

Begitu pentingnya waktu dalam Islam, perubahan waktu menentukan jenis ritual peribadatan yang dilakukan manusia kepada Tuhannya. Misalnya kemunculan bulan sabit di langit menentukan tanggal haji dan akhir bulan Ramadhan. Waktu-waktu shalat juga mengikuti perjalanan waktu seperti shalat isya setelah senjakala terbenam, shalat subuh ketika fajar menjelang, shalat zhuhur ketika matahari memuncak, shalat ashar ketika matahari tergelincir, dan shalat magrib ketika matahari terbenam.[4]

Tahun ini, paling tidak, kita mengalamai dua tahun baru yang berdekatan; tahun baru masehi 2010 dan tahun baru hijriah 1431. Mungkin ada baiknya jika kita menyempatkan diri bertanya: apa sebenarnya yang baru? Atau, kebaruan itu seperti apa?

Yang pasti, ada angka yang berubah dan itulah mungkin yang dianggap baru. Tahun 2009 dianggap lama dan yang baru adalah 2010; tahun 1431 telah berlalu dan menjelang 1431 yang baru. Namun jika hanya itu, maka alangkah artifisialnya makna kebaruan itu. Betapa sia-sia perayaan yang menghamburkan jutaan atau milyaran rupiah atas nama perubahan yang sangat di permukaan.

Kebaruan seharusnya belangsung pada tingkat kesadaran, bukan ketidaksadaran. Dan kesadaran itu tertuju pada masa depan sebagai akibat dari semangat vital (elan vital).[5] Itu sulit karena itu membutuhkan permenungan. Dan kebaruan yang ditawarkan oleh Tahun Baru bisa saja adalah kebaruan yang semu. Apanya yang baru? Bukankah sebagai hitungan masa, tahun yang mendatangi kita adalah tahun yang semakin menua dan renta? Ini dibuktikan dengan bilangannya yang semakin banyak, menembus angka 2000. Mungkin karena itu pula kata “baru” dalam bahasa Arab yang berarti jadîd seakar kata dengan kata jadd yang berarti “kakek”.[6]

Jadîd juga seakar kata dengan jidd yang berarti “bersungguh-sungguh” dan jadd yang berarti “sangat”.[7] Karena itu, kebaruan hanya berada pada tingkat kesadaran. Dan untuk membangkitkan kesadaran dari balik selimut kealpaan dan kelalaian, dibutuhkan kesungguhan. Masa yang akan datang menjadi baru hanya jika dilihat sebagai momentum untuk semakin memperbaiki diri atau kesempatan untuk membuktikan bahwa kita tidak akan pernah lagi terjatuh dalam kekeliruan yang sama. Dalam bahasa agamanya, ini disebut tawbah.

Karena itu, sebagai sebuah tradisi, Islam adalah tradisi yang amat sangat menghargai waktu—adapun umat Islam jika tidak menghargai waktu, maka itu adalah persoalan yang berbeda. Dua rujukan pokok dalam beragama Islam—al-Qur’an dan Hadits—membuktikan perhatian mereka terhadap sang waktu, bahkan Tuhan dalam Islam disebut sebagai “Sang Waktu” dalam salah satu Hadits Qudsi. Ritual dalam Islam juga membuktikan hal yang sama. Hampir tidak ada waktu yang dilepas begitu saja tanpa doa. Ketika malam menjelang, panggilan shalat magrib dikumandangkan. Ketika malam berada di penghujungnya, panggilan shalat subuh yang diperdengarkan. Ada juga doa di akhir tahun dan ada doa awal tahun. Seakan-akan ada kesedihan yang ingin diungkapkan dengan berlalunya waktu dan ada kesyukuran yang ingin disampaikan dengan datangnya waktu yang lain; juga ada penekanan bahwa waktu yang telah lewat tidak akan pernah kembali lagi. Tanggal 1 Januari 2010 bukan pengganti sepadan bagi tanggal 1 Januari 2009. Keduanya adalah hal yang sangat berbeda, bukan pula pengulangan. Karena hidup adalah prose mengada terus-menerus,waktu seperti sungai yang mengalir dan karena itu, kita tidak bisa mencebur ke dalam sungai yang sama dua kali sebab kita tidak bisa dijamah dua kali oleh air yang sama.[8] Tanggal 1 Januari 2009 telah lewat, membeku dalam sejarah. Berganti hari lain yang berbeda.

Momentum Kebaruan

Antara momentum dan makna, kini saling tumpang tindih tidak karuan. Pernah ada masa di zaman primtif ketika perayaan Tahun Baru berkaitan dengan munculnya Taboo pada panen baru, yang menetapkan hasil panen tahun itu dapat dimakan dan tidak berbahaya bagi seluruh masyarakat. Ini berarti pembagian waktu ditentukan oleh ritual yang menjamin kesinambungan hidup masyarakat dalam keseluruhannya, kata Mircea Eliade. Artinya, perayaan Tahun Baru erat hubungannya dengan momentum kelangsungan hidup kemanusiaan. Dalam hal ini, ada sebuah makna universal yang melekat pada sebuah perayaan Tahun Baru. Makna yang menentukan momentum dengan menjunjung tinggi kelestarian alam.[9]

Namun kini, di masa posmodern, hidup yang berorientasi kebendaan sedang meraja. Setiap saat bisa dilantik menjadi momentum untuk melampiaskan hasrat kesenangan dan hura-hura. Lihatlah di supermarket atau mall yang disebut-sebut sebagai rumah suci masyarakat konsumen yang diperbudak oleh barang-barang belanjaannya. Tidak ada waktu yang tidak dikaitkan dengan budaya objek konsumsi, belanja, membeli. Setiap momen, tidak peduli momen sekular atau religius, selalu dikatikan dengan hal-hal yang bersifat duniawi.

Bulan Desember hingga Januari orang-orang dijejali sale, sale, dan sale dengan berbagai pengatasnamaan; bisa itu atas nama Dikson Natal, Diskon Akhir Tahun, Diskon Awal Tahun, Diskon Tahun Baru, Diskon Fitri, Diskon Kurban, Cuci Gudang, dan sebagainya. Bulan Februari dipastikan berwarna merah muda dengan Valentine sebagai jualannya dan itu akan berlangsung sampai bulan Maret. Bulan April, Mei, Juni dan Juli adalah masa-masa liburan panjang dan awal tahun ajaran baru sekolah. Maka, lahirlah istilah-istilah seperti Dikson Liburan, Diskon Masuk Sekolah, dan sebagainya. Agustus juga tidak akan pernah dilepaskan begitu saja karena di situ ada Hari Kemerdekaan RI, maka ada Diskon Merdeka! Yang tidak ada adalah merdeka dari diskon-diskon. Makna-makna yang melekat pada setiap waktu, khususnya tahun baru, bukan lagi makna yang universal, tetapi parsial dan temporal. Tidak ada hubungannya dengan alam raya secara keseluruhan, juga tidak ada hubungannya dengan kedalaman rasa kemanusiaan.

Ironisnya, bukan hanya siklus hari-hari yang tampaknya sekular yang menjadi jualan kehidupan bendawi ini, tetapi juga hari-hari besar yang seharusnya religius seperti hari-hari besar keagamaan. Lihatlah bagaimana Idul Fitri yang seharusnya adalah momentum untuk berbagi secara tulus telah menjadi momentum untuk unjuk penampilan fisik dan unjuk kedermawanan atau unjuk makan sebanyak-banyaknya dan tampil semewah-mewahnya, berderma sedahsyat-dahsyatnya biar orang lain mengetahuinya.

Lucunya pula, ada saja orang yang mencemburui kemeriahan tahun baru masehi yang dianggap mengalahkan kemeriahan tahun baru hijriah. Mengapa tahun baru masehi sedemikian hingar-bingar sedangkan tahun baru hijriah tidak? Namun jika direnungkan, pemaknaan akan kedatangan tahun baru hijriah tidak perlu sama dengan tahun baru masehi. Mungkin di tahun baru hijriah, yang kita butuhkan bukan hingar-bingar kebisingan, tetapi malah keheningan dan kesyahduan.

Dunia modern memang memproklamirkan sirnanya segala hal yang sakral, termasuk agama. Kita tahu modernitas dimulai dari periode Renaisans—periode yang merupakan awal dari perkembangan sains dan teknologi, perluasan dan ekspansi perdagangan, perkembangan wawasan modern tentang humanisme; sebagai tantangan terhadap kepercayaan keagamaan Abad Pertengahan dan sebagai satu bentuk pendewaan rasionalitas dalam pemecahan masalah-masalah manusia. Semangat Renaisans ini terlihat jelas pada pemikiran Descartes, yang melalui wawasan humanismenya, menjadikan manusia—dengan kemampuan rasionalnya—sebagai aku (subjek) yang sentral dalam pemecahan masalah dunia. Yang lahir kemudian adalah self-determination dan self-affirmation yang memerdekakan manusia dengan akal budinya yang merupakan awal keterputusan manusia dari Tuhan, atau segala yang sakral.[10]

Proses self-determination lalu memutuskan manusia dari nilai-nilai mitos, spirit ketuhanan, dan memungkinkan manusia untuk mengukir dunianya sendiri, di mana manusia menciptakan kriteria-kriteria serta nilai-nilai untuk perkembangan diri mereka sendiri sebagai subjek yang merdeka. Manusia kemudian perpaling kepada ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang ideal menggantikan mitos, legenda, atau wahyu.[11] Setelah itu, apakah dunia sakral benar-benar hilang di panggung kehidupan manusia? Tidak.

Namun dunia modern justru membangun dunia sakralnya sendiri. Sebagaimana disebutkan sebelumnya bagaimana hari-hari yang sebenarnya biasa menjadi sakral bagi masyarakat modern seperti hari-hari belanja itu. Kita sekarang hidup di dunia kode, dalam makna yang dicetuskan oleh Jean Baudrillard. Dulu tanda dikaitkan dengan objek, tetapi sekarang keterkaitan itu sudah dihapus; tanda tidak lagi menunjukkan realitas. Bahkan realitas telah mati digantikan oleh tanda-tanda. Contoh paling pas di mana kode berkembang biak adalah dalam fashion.[12]

Konsep fashion sendiri, menurt Baudrillard, tidak bisa dipisahkan dari konsep daur ulang. Fashion tidak mengikuti sistem kemajuan tetapi pada pengulangan-pengulangan. Karena kode yang ditancapkan oleh kapitalisme atau para produsen ke dalam fashion, maka setiap orang merasa perlu untuk memperbaharui diri mereka setiap tahun, setiap bulan atau setiap musim lewat pakaian, barang-barang dan mobil mereka. Bila mereka tidak mengikuti pola itu, mereka akan dikeluarkan dari anggota sejati masyarakat konsumer.[13]

Bagi masyarakat konsumer, belanja adalah segalanya. Apa yang menempel di tubuh mereka adalah segalanya, bahkan lebih penting daripada tubuh mereka sendiri. Ketika orang lain berbondong-bondong mengganti tipe handphone mereka, maka di saat bersamaan, masyarakat modern mengganti tipe handphone mereka tanpa pernah berfikir apakah pergantian itu esensial atau tidak; apakah dia sendiri membutuhkan pergantian itu atau tidak. Yang penting adalah membeli dan membeli.

Padahal sebenarnya produsen tidak sedang memainkan substansi tetapi memainkan tanda, kode, dan simulasi yang sering berulang-ulang, itu-itu juga. Kita bisa lihat bagaimana perubahan model celana pada masyarakat. Pernah ada masa ketika yang trendi adalah model celana panjang yang bagian bawahnya lebar hingga menyapu tanah. Lalu trend itu lewat dan model seperti itu menjadi kuno, digantikan oleh model yang di bagian bawah pinggang gombrong dan bagian kaki kecil hingga hanya muat untuk diselipi kaki, itupu dengan kesulitan. Lalu di waktu yang berbeda, model celana bagian bawah lebar itu kembali lagi dan model sebelumnya lewat. Kini, model celana dengan lubang kaki kecil itu kembali lagi dengan sedikit perubahan, yaitu pinggang yang tidak lagi gombrong tetapi menyempit ngepres. Kita akan sangat mudah menemukan anak-anak muda yang merasa rendah diri jika tidak mengikuti model “terkini” itu. Padahal tampak dalam sejarahnya perubahan yang ditawarkan adalah perubahan yang itu-itu juga. Namun masyarakat sudah terhanyut dalam arus mode yang begitu deras, hampir-hampir tidak ada kesempatan melawan atau sekadar beristirahat. Lalu masyarakat yang ada adalah masyarakat yang lupa diri karena dirinya yang sebenarnya telah ditukarkan dengan apa yang menempel di tubuhnya. Harga dirinya adalah harga mode pakaian yang menempel di tubuhnya.

Begitu seterusnya yang terjadi sepanjang tahun hingga lingkaran hidup manusia adalah lingkaran belanja dan pemenuhan hasrat bendawi.

Kebaruan Hakiki

Ketika meneliti gagasan tentang waktu dalam sufisme Persia, Gerhard Böwering mengatakan bahwa waktu menggelincirkan dan mengikis kesadaran kita terus-menerus. Waktu memaksa kita merasa bahwa masa kini adalah nyata sedangkan masa lalu dan masa depan tidaklah nyata. Masa silam tidak ada dan masa depan belumlah datang.[14] Manusia memang selalu berada dalam himpitan masa lalunya dan masa depannya. Sering terjadi masa lalu adalah wilayah yang tidak dipahami dan karena itu, wilayahnya menjadi gelap. Sedangkan masa depan tidak mudah ditebak. Oleh sebagian orang, keadaan seperti ini membuat mereka terlena dan membiarkan itu apa adanya. Kebutaan mereka tentang masa lalu mereka biarkan tanpa upaya untuk memahaminya. Karena itu, kemampuan mereka untuk membaca masa depan sangat terbatas. Karena pada dasarnya kemampuan untuk memahami masa lalu adalah bahan satu-satunya untuk membaca dan memprediksi masa depan. Kegelapan masa lalu membuat masa depan juga gelap dan cara teraman kemudian adalah hidup semata-mata untuk masa kini, saat ini.

Kesadaran bahwa yang nyata hanyalah masa kini sedangkan masa lalu dan masa datang adalah ilusi merupakan persoalan besar karena masa lalu dan masa datang menentukan masa kini. Ketika Umar bin Khattab menetapkan penanggalan kalender hijriah—bukan dari tahun kelahiran Nabi Muhammad atau dari tahun turunnya wahyu pertama—, pertimbangannya adalah persoalan momentum yang terjadi di masa lalu. Momentumnya adalah ketika kaum Muslim mulai menjalankan rencana Ilahi dalam sejarah dengan menjadikan Islam sebagai realitas politik karena Al-Qur’an menegaskan bahwa seluruh umat beragama harus mengemban tugas menegakkan masyarakat yang adil dan merata.[15]

Masa depan juga adalah sesuatu yang tidak bisa dihilangkan dari kesadaran. Jika itu hilang maka kita akan sama dengan kaum kafir Quraisy yang mengajukan gugatan kepada Rasulullah saw. dan berkata: Apabila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru? (QS. Al-Israa/18: 49). Kita akan menemukan gugatan-gugatan serupa di dalam ayat-ayat lainnya seperti QS. al-Isrâ/18: 98, QS. al-Mu’minûn/23: 35 dan 82, QS. as-Shaffât/37: 16 dan 53, QS. al-Wâqi`ah/56: 47, dan QS. an-Nâzi`ât/79: 11

Kaum kafir Quraisy ini adalah contoh kehidupan yang kehilangan orientasi masa depan hingga mereka memandang hidup itu hanya kini dan saat ini. Bagi mereka hidupan setelah kematian seperti peta buta, tak terbaca. Secara khusus mereka menyebut konsep waktu mereka dengan dahr yang mereka anggap sebagai sesuatu yang mutlak menentukan hidup dan mati mereka.

Menurut Effat al-Syarqawi, orang Arab jahiliyyah hampir-hampir tidak mempunyai konsep tentang permulaan sejarah. Sebaliknya, perhatian terhadap akhir sejarah cukup besar. Konsepsi itupun bersifat individual, seperti problema kematian.[16]

Menurut kebanyakan teks-teks dari zaman jahiliyyah, kematian merupakan ketentuan pasti yang tidak bisa dihindari: “Lari seseorang tidak akan pernah melampaui ajalnya”. Dengan demikian, waktu adalah simbol kesirnaan. Jadi, dengan semakin berlalunya waktu, kehidupan seseorang pun semakin mendekati ajalnya. Di sinilah kata ad-dahr menjadi kata dalam bahasa Arab yang paling erat kaitannya dengan ide kematian dan mengandung makna-makna kekurangan, penderitaan, dan ketidakmampuan untuk merealisasikan cita-cita.[17]

Selain ad-dahr, ada kata-kata lain yang menunjukkan waktu seperti az-zamân. Menurut Effat—mengutip Lisân al-`Arab—sama dengan ad-dahr, az-zamân juga memandang waktu dari sudut kesulitan, sakit, dan penderitaannya. Kata al-hîn juga demikian. Bahkan kata al-hîn jika diganti harakatnya menjadi al-hayn, maka akan berarti hancur. Hampir semakna dengan itu adalah kata al-yawm. Dalam bahasa Arab, itu berarti panjang sekali. Karena itu, hari penuh derita disebut sebagai hari-hari yang panjang atau berhari-hari, meski cuma sehari.[18]

Bagi orang Arab jahiliyyah, dahr juga dipahami sebagai siang dan atau malam dalam wujudnya yang hampir mitis karena dahr menelan semuanya, menjadi penyebab kebahagiaan duniawi dan khususnya penderitaan duniawi. Ad-dahr adalah penentu kematian dan takdir. Dahr senantiasa bergerak; mengubah segala sesuatu, dan tidak satupun mampu menghentikannya. Dahr adalah waktu dalam arti manifestasi nasib (manûn) yang kekuatan destruktifnya diharapkan oleh Arab jahiliyyah menimpa Nabi Muhammad saw.: “Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya (rayb al-manûn)(QS. ath-Thûr/52: 30). Ketika takdir yang sudah ditetapkan mendekati masa ajal yang tidak bisa dihindari, waktu mengekspresikan transiensi segala hal, membawa nasib baik kesukuan atau menyebabkan kematian seorang sahabat atau saudara.[19]

Bagi orang Arab jahiliyyah, dahr seperti busur yang tidak pernah gagal mengena sasarannya. Dahr mengayun seperti seperti nasib, ia dapat ditransendensi oleh sebuah momen yang terekam dalam ingatan kesukuan, kerapkali dilanggengkan dalam puisi sebagai salah satu zaman yang memerangkap pikiran manusia.[20]

Pandangan jahiliyyah tentang waktu yang disebut dahr ini ditentang oleh al-Qur’an dan disebut sebagai kekafiran Arab karena mereka meyakin bahwa: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa (dahr)(QS. al-Jâtsiyah/45: 24). Di zaman jahiliyyah, tidak ada kebangkitan atau kehidupan setelah kematian.[21] Karena masyarakat jahiliyyah, seperti disebutkan oleh Ibn `Uyaynah, meyakini bahwa dahr lah yang membinasakan mereka, menghidupan dan mematikan mereka.[22]

Dalam tradisi Islam, masa lalu dalam makna ad-dahr, tidak lagi merupakan kesirnaan yang punah bersama-sama dengan berlalunya hari yang membangkitkan perasaan kehilangan dan penyesalan atas apa yang telah lewat. Namun, segala tindakan yang dilakukan pada masa lalu menjadi wujud yang tetap, hidup, dan terpelihara dalam buku catatan tindakan. “Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu” (QS. al-Isrâ/17: 13-14). Ayat dengan nada yang serupa bisa ditemui pada QS. al-Mujâdilah/58: 6, QS. Al-Kahf/18: 49, QS. Yâsîn/36: 12, dan sebaginya.[23]

Jika masa depan orang Arab Jahiliyyah berakhir di tangan ad-dahr  yang berisikan problem perjalanan hidup dan kegelisahan eksistensial dan karena itu penuh dengan sikap pertanyaan, keraguan, pesimisme mutlak, kekhawatiran akan hal yang tidak diketahui, dan ketidakberdayaan di hadapan kejamnya kesirnaan, maka al-Qur’an menggantinya dengan optimisme dan keimanan terhadap keabadian. Di hadapan keabadian mutlak ini, yang merupakan sumber segala wujud, kegelisahan terhadap hal yang tidak diketahui (kesirnaan dan kehancuran) berubah menjadi kerinduan terhadap hal yang diketahui (karunia keabadian).[24]

Karena itu, al-Qur’an menawarkan konsep ad-dahr yang berbeda dari yang dipahami orang Arab jahiliyyah. Sebuah konsep ad-dahr yang terbebaskan dari makna-makna penderitaan dan kesusahan karena dihubungkan dengan ide tentang keabadian. Kehidupan diisi dengan tujuan-tujuan wujud sehingga kegelisahan terhadap hal yang tidak diketahui pun berubah menjadi kerinduan terhadap hal yang diketahui. Karenanya, ad-dahr dalam konsep al-Qur’an tidak lagi mengandung pengertian penderitaan. Firman Allah: “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir”. (QS. al-Insân/76: 1-3).[25]

Kata ad-dahr dalam ayat ini dipergunakan bagi zaman yang tidak dibebani dengan makna-makna penderitaan dan kematian sebagaimana dipahami orang Arab jahiliyyah. Ayat ini menceritakan bahwa manusia telah melewati masa di mana waktu itu ia belum merupakan sesuatu yang dapat disebut, malah dilupakan dan tidak mendapatkan perhatian karena masih dalam bentuk yang sangat dini untuk disebut manusia atau bisa juga ayat ini berarti ketika bumi ini masih kosong dari manusia sehingga manusia belum merupakan sesuatu yang dapat disebut. Kita sama sekali tidak menemukan ungkapan atau makna penderitaan dalam ayat ini.[26]

Yang kita temukan dalam ayat ini adalah bahwa waktu itu harusnya diisi dan karena itulah manusia bisa “disebut”. Bagi yang melihat waktu sebagai sesuatu yang dinamis, waktu didasarkan pada prinsip-prinsip perubahan (kejadian-kejadian yang membentuknya tidak dapat diulang) dan kreativitas yang konstan. Karena itu, waktu itu harus kretif: jika waktu tidak mempunyai daya cipta, maka itu berarti sama sekali bukan waktu. Dalam waktu yang sesungguhnya, setiap momen baru secara kualitatif berbeda dengan momen sebelumnya.[27]

Secara puitis Malik bin Nabi menggambarkan waktu sebagai sungai purba yang mengalir di dunia sejak azali. Ia mengalir di kota-kota dan menghidupkan aktivitasnya dengan energinya yang abadi, atau membuatnya tidur pulas dininabobokan oleh senandung waktu yang lenyap entah ke mana. Ia juga membanjiri setiap jengkal bumi semua bangsa, dan memasuki setiap bidang individu, dengan arus waktunya sehari-hari yang tidak mungkin bisa dihentikan.[28]

Namun, lanjut Malik bin Nabi, waktu adalah sungai bisu, sehingga kita acapkali melupakannya, dan peradaban pun juga melupakannya pada saat ia sedang lengah atau melepaskan kesempatan sangat berharga yang tidak mungkin bisa diganti.[29]

Malik bin Nabi memandang bahwa oleh umat Islam, waktu belum dianggap sebagai hal yang penting. Kenyataan menunjukkan bahwa puncak-puncak peradaban kini tidak berada di dunia Islam padahal waktu yang Tuhan berikan kepada umat manusia semua sama, dua puluh empat jam sehari. Malik bin Nabi bertanya: Ketika lonceng berbunyi sebagai panggilan kepada kaum pria, wanita, dan anak-anak untuk bekerja di negara-negara maju, maka ke mana bangsa-bangsa Muslim menggerakkan langkahnya? Di sinilah kita merasakan adanya sesuatu yang sangat memprihatinkan. Di dunia Islam kita kenal mengenal makhluk yang bernama “waktu”. Malangnya, waktu yang kita kenal ini adalah waktu yang berakhir dengan “tidak ada apa-apanya”.[30]

Malik bin Nabi pun merasa wajar jika saat ini dunia Muslim bukan lah dunia produsen, tetapi dunia konsumen. Produksi-produksi kini berada di belahan dunia lain dan kita hanya menjadi penonton. Karena pemahaman kita tentang waktu belum selesai, maka kita tidak akan pernah memahami bahwa ada hubungan antara waktu dengan pengaruh dan produk. Mereka yang memanfaatkan waktu dengan baik maka dengan sendirinya adalah para penguasa-penguasa berpengaruh karena produk-produk yang mereka hasilkan.[31] Apalagi kini kekuasaan tidak lagi diukur dengan luasnya wilayah. Kekayaan juga tidak lagi diukur dari seberapa luasnya tanah, tetapi lebih diukur dari kecepatan itu sendiri.[32]

Umat Islam tidak pernah salah ketika menganggap waktu adalah semata gerak teologis yang berdampak religius dan kesalihan individual. Namun alangkah baiknya jika umat Islam juga melihat waktu adalah gerak ilmiah dengan fakta objektif yang bisa dipahami, dijelaskan, dan dijadikan pelajaran.

Al-Qur’an sangat sering berkisah tentang masa lalu dan karena itu, masa lalu adalah sesuatu yang sangat penting. Umat Islam juga tahu itu, namun mereka umumnya membaca masa lalu dan al-Qur’an sekadar membaca untuk mencari pahala dan tidak membacanya dalam bingkai ilmiah. Dampaknya adalah tidak pernah lagi ada orang seperti Ibnu Khaldun; orang yang memandang masa lalu sebagai sesuatu yang penuh inspirasi untuk memahami masa depan. Pewaris-pewaris Ibnu Khaldun malah terlahir bukan di dunia Muslim. Tinggallah nama Ibnu Khaldun tidak lebih diabadikan sekadar sebagai nama-nama institusi—mungkin juga nama balai pertemuan—bukan dalam pemikiran.

Karena itu, masa lalu dalam al-Qur’an tetap terpelihara dan tidak akan hilang serta musnah karena selalu dikaitkan dengan keimanan dan tanggung jawab atas perbuatan yang baik. Firman Allah: (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu” (QS. al-Hadîd/57: 23).

Namun memang juga penting untuk disadari oleh umat Islam bahwa memahami waktu jangan sama dengan orang modern memahaminya. Modernitas membuat segalanya harus cepat, bahkan super cepat. Lalu dunia modernitas adalah dunia yang riuh-rendah, sibuk, hiruk-pikuk, tancap gas, dan sering tanpa jeda sama sekali. Karena jeda adalah berarti ketertinggalan dan itu sama dengan digilas oleh zaman. Lalu manusia yang tampak adalah manusia robot. Manusia seperti ini tidak beda dengan detak jam di tangannya. Dia adalah detak jam tangannya, dan jam tangannya adalan detak dirinya.

Kecepatan kini menjadi tanda bagi kemajuan, sedangkan kelambatan adalah tanda bagi keterbelakangan. Kemajuan memang ditandai oleh perubahan-perubahan dan dinamika, tetapi di dunia yang menjadikan kecepatan sebagai ukuran, kemajuan dan perubahan-perubahan itu menjadi bukan yang terpenting karena yang paling penting adalah kecepatan itu sendiri. Kecepatan perubahan model handphone memang penting tetapi bagi konsumen, perubahan itu sendiri tidaklah penting; yang paling penting adalah kecepatan memiliki handphone seri terbaru, tidak peduli perubahan signifikan apa saja yang terjadi dalam kecepatan itu dan lebih-lebih lagi tidak peduli apakah kecepatan perubahan itu ada hubungannya dengan kepentingan sang konsumen. Karena kelicikan produsen, maka yang paling penting adalah kecepatan (siapa yang paling cepat) untuk memiliki barangnya, bukan apakah barang itu sendiri penting bagi konsumen atau tidak.

Manusia pun mabuk kecepatan di mana-mana, di jalan raya, di pabrik, di kantor; hingar-bingar pencitraan di televisi; mereka yang baru sejam lalu dipuji dan dipuja mendadak dicaci dan dimaki. Pergantian produk di Super Mall; barang baru kemarin dibeli telah menjadi usang karena adanya produk baru yang lebih baru dan lebih baik bahkan dari produsen yang sama; pergantian tema dan gaya di atas panggung tontonan; film yang beru sepekan kita tonton telah menjadi tontonan lama berganti tontonan baru yang lebih mutakhir dengan teknologi yang lebih canggih.[33]

Modernitas juga memahami dunia adalah dunia yang diatur oleh rutinitas dan jadwal yang secara psikologis membuat lupa kepada akhir dan ujung karena puncak segala hal adalah jadwal dan rutinitas itu sendiri. Tanpa jeda. Padahal seharusnya di setiap gerakan pasti ada jeda. Ada waktu untuk merenungi, paling tidak, renungan bahwa ke mana semua ini akan berakhir. Ada ruang bagi perjalanan kehidupan yang bermakna dan bernilai luhur (spiritual, moral). Kecepatan itu penting namun jangan sampai kecepatan itu menguasai kemanusiaan kita. Kecepatan harus tetap berada di bawah kontrol kemanusiaan kita. Sayangnya, jangankan mengontrol kecepatan, kecepatan bahkan belum pernah lahir dari umat Islam.

Namun tetap penting bahwa ada satu saat ketika jeda adalah satu-satunya pilihan, tidak ada pilihan lain. Dan semuanya berakhir. Mati.[]

Oleh Abdul Muid Nawawi

 

Bahan Bacaan

Armstrong, Karen, Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang Dilakukan oleh Orang-Orang Yahudi, Kristen, dan Islam Selama 4.000 Tahun, (Bandung: Mizan, 2001)

Böwering, Gerhard, “Gagasan Tentang Waktu dalam Sufisme Persia”, dalam Leonard Lewisohn, et all. (ed.) Warisan Sufi: Sufisme Persia Klasik dari Permulaan hingga Rumi (700-1300), (Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2002)

Cavallaro, Dani, Teori Kritis dan Teori Budaya, (Yogyakarta: Niagara, 2004)

Eliade, Mircea, Mitos Gerak Kembali Yang Abadi: Kosmos dan Sejarah, (Yogyakarta: Ikon, 2002)

Ma’luf, Louis dan Bernard Tottel, al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’laam, (Beirut: Dar al-Masyriq, 1987)

Nabi, Malik bin, Membangun Dunia Baru Islam, (Bandung: Mizan, 1994)

Piliang, Yasraf Amir, Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna, (Yogyakarta: Jalasutra, 2003)

Piliang, Yasraf Amir, Sebuah Dunia Yang Dilipat: Realitas Kebudayaan Menjelang Milenium Ketiga dan Matinya Posmodernisme, (Bandung: Mizan, 1998)

Ritzer, George, Teori Sosial Postmodern, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2003)

al-Syarqawi, Effat, Filsafat Kebudayaan Islam, (Bandung: Pustaka, 1986)

http://www.moqatel.com

(Tulisan ini pernah dimuat dalam Jurnal Bimas Islam Kemenag RI)

[1] Lih. Dani Cavallaro, Teori Kritis dan Teori Budaya, (Yogyakarta: Niagara, 2004), h. 327.

[2] Gerhard Böwering, “Gagasan Tentang Waktu dalam Sufisme Persia”, dalam Leonard Lewisohn, et all. (ed.) Warisan Sufi: Sufisme Persia Klasik dari Permulaan hingga Rumi (700-1300), (Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2002), h. 254.

[3] QS. al-Layl/92: 2.

[4] Gerhard Böwering, “Gagasan Tentang Waktu dalam Sufisme Persia”, h. 255.

[5] Lih. Dani Cavallaro, Teori Kritis dan Teori Budaya, h. 332.

[6] Lih. Louis Ma’luf dan Bernard Tottel, al-Munjid fî al-Lughah wa al-A’lâm, (Beirut: Dar al-Masyriq, 1987), h. 80-81.

[7] Lih. Louis Ma’luf dan Bernard Tottel, h. 80-81.

[8] Lih. Dani Cavallaro, Teori Kritis dan Teori Budaya, h. 329.

[9] Lih. Mircea Eliade, Mitos Gerak Kembali Yang Abadi: Kosmos dan Sejarah, (Yogyakarta: Ikon, 2002), h. 53.

[10] Lih. Yasraf Amir Piliang, Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna, (Yogyakarta: Jalasutra, 2003), h. 76.

[11] Lih. Yasraf Amir Piliang, Hipersemiotika, h. 76.

[12] Lih. George Ritzer, Teori Sosial Postmodern, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2003), h. 158.

[13] Lih. Yasraf Amir Piliang, Sebuah Dunia Yang Dilipat: Realitas Kebudayaan Menjelang Milenium Ketiga dan Matinya Posmodernisme, (Bandung: Mizan, 1998), h. 301.

[14] Gerhard Böwering, “Gagasan Tentang Waktu dalam Sufisme Persia”, h. 251.

[15] Karen Arsmstrong, Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang Dilakukan oleh Orang-Orang Yahudi, Kristen, dan Islam Selama 4.000 Tahun, (Bandung: Mizan, 2001), h. 215.

[16] Effat Al-Syarqawi, Filsafat Kebudayaan Islam, (Bandung: Pustaka, 1986), h. 198.

[17] Effat Al-Syarqawi, Filsafat Kebudayaan Islam, h. 198-199.

[18] Effat Al-Syarqawi, Filsafat Kebudayaan Islam, h. 200-201.

[19] Gerhard Böwering, “Gagasan Tentang Waktu dalam Sufisme Persia”, h. 252.

[20] Gerhard Böwering, “Gagasan Tentang Waktu dalam Sufisme Persia”, h. 252.

[21] Gerhard Böwering, “Gagasan Tentang Waktu dalam Sufisme Persia”, h. 252.

[22] http://www.moqatel.com

[23] Effat Al-Syarqawi, Filsafat Kebudayaan Islam, h. 203-204.

[24] Effat Al-Syarqawi, Filsafat Kebudayaan Islam, h. 204.

[25] Effat Al-Syarqawi, Filsafat Kebudayaan Islam, h. 207.

[26] Effat Al-Syarqawi, Filsafat Kebudayaan Islam, h. 207-208.

[27] Lih. Dani Cavallaro, Teori Kritis dan Teori Budaya, h. 330.

[28] Malik bin Nabi, Membangun Dunia Baru Islam, (Bandung: Mizan, 1994), h. 137.

[29] Malik bin Nabi, Membangun Dunia Baru Islam, h. 137.

[30] Malik bin Nabi, Membangun Dunia Baru Islam, h. 138.

[31] Malik bin Nabi, Membangun Dunia Baru Islam, h. 138.

[32] Yasraf Amir Piliang, Sebuah Dunia Yang Dilipat, h. 123.

[33] Lih. Yasraf Amir Piliang, Sebuah Dunia Yang Dilipat, h. 124.