Tahun Baru dan Kebaruan

0
44 views

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Begitu pentingnya waktu dalam Islam, perubahan waktu menentukan jenis ritual peribadatan yang dilakukan manusia kepada Tuhannya. Misalnya kemunculan bulan sabit di langit menentukan tanggal haji dan akhir bulan Ramadhan. Waktu-waktu shalat juga mengikuti perjalanan waktu seperti shalat isya setelah senjakala terbenam, shalat subuh ketika fajar menjelang, shalat zhuhur ketika matahari memuncak, shalat ashar ketika matahari tergelincir, dan shalat magrib ketika matahari terbenam.

Tahun ini, paling tidak, kita mengalamai dua tahun baru yang berdekatan; tahun baru masehi 2010 dan tahun baru hijriah 1431. Mungkin ada baiknya jika kita menyempatkan diri bertanya: apa sebenarnya yang baru? Atau, kebaruan itu seperti apa?

Yang pasti, ada angka yang berubah dan itulah mungkin yang dianggap baru. Tahun 2009 dianggap lama dan yang baru adalah 2010; tahun 1431 telah berlalu dan menjelang 1431 yang baru. Namun jika hanya itu, maka alangkah artifisialnya makna kebaruan itu. Betapa sia-sia perayaan yang menghamburkan jutaan atau milyaran rupiah atas nama perubahan yang sangat di permukaan.

Kebaruan seharusnya belangsung pada tingkat kesadaran, bukan ketidaksadaran. Dan kesadaran itu tertuju pada masa depan sebagai akibat dari semangat vital (elan vital). Itu sulit karena itu membutuhkan permenungan. Dan kebaruan yang ditawarkan oleh Tahun Baru bisa saja adalah kebaruan yang semu. Apanya yang baru? Bukankah sebagai hitungan masa, tahun yang mendatangi kita adalah tahun yang semakin menua dan renta? Ini dibuktikan dengan bilangannya yang semakin banyak, menembus angka 2000. Mungkin karena itu pula kata “baru” dalam bahasa Arab yang berarti jadîd seakar kata dengan kata jadd yang berarti “kakek”.

Jadîd juga seakar kata dengan jidd yang berarti “bersungguh-sungguh” dan jadd yang berarti “sangat”. Karena itu, kebaruan hanya berada pada tingkat kesadaran. Dan untuk membangkitkan kesadaran dari balik selimut kealpaan dan kelalaian, dibutuhkan kesungguhan. Masa yang akan datang menjadi baru hanya jika dilihat sebagai momentum untuk semakin memperbaiki diri atau kesempatan untuk membuktikan bahwa kita tidak akan pernah lagi terjatuh dalam kekeliruan yang sama. Dalam bahasa agamanya, ini disebut tawbah.

Karena itu, sebagai sebuah tradisi, Islam adalah tradisi yang amat sangat menghargai waktu—adapun umat Islam jika tidak menghargai waktu, maka itu adalah persoalan yang berbeda. Dua rujukan pokok dalam beragama Islam—al-Qur’an dan Hadits—membuktikan perhatian mereka terhadap sang waktu, bahkan Tuhan dalam Islam disebut sebagai “Sang Waktu” dalam salah satu Hadits Qudsi. Ritual dalam Islam juga membuktikan hal yang sama. Hampir tidak ada waktu yang dilepas begitu saja tanpa doa. Ketika malam menjelang, panggilan shalat magrib dikumandangkan. Ketika malam berada di penghujungnya, panggilan shalat subuh yang diperdengarkan. Ada juga doa di akhir tahun dan ada doa awal tahun. Seakan-akan ada kesedihan yang ingin diungkapkan dengan berlalunya waktu dan ada kesyukuran yang ingin disampaikan dengan datangnya waktu yang lain; juga ada penekanan bahwa waktu yang telah lewat tidak akan pernah kembali lagi. Tanggal 1 Januari 2010 bukan pengganti sepadan bagi tanggal 1 Januari 2009. Keduanya adalah hal yang sangat berbeda, bukan pula pengulangan. Karena hidup adalah prose mengada terus-menerus,waktu seperti sungai yang mengalir dan karena itu, kita tidak bisa mencebur ke dalam sungai yang sama dua kali sebab kita tidak bisa dijamah dua kali oleh air yang sama. Tanggal 1 Januari 2009 telah lewat, membeku dalam sejarah. Berganti hari lain yang berbeda.

Bahan Bacaan:

Gerhard Böwering, “Gagasan Tentang Waktu dalam Sufisme Persia”, dalam Leonard Lewisohn, et all. (ed.) Warisan Sufi: Sufisme Persia Klasik dari Permulaan hingga Rumi (700-1300), (Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2002)

Louis Ma’luf dan Bernard Tottel, al-Munjid fî al-Lughah wa al-A’lâm, (Beirut: Dar al-Masyriq, 1987)