Tahniah

0
146 views

Tahniah Secara etimologi dalam bahasa Arab berasal dari kata hana-a- yahnu-u yang mengandung arti membahagiakan dan mengucapkan selamat. Adapun secara istilah, makna tahniah secara umum tidak berbeda dengan makna bahasa, namun dilihat dari konteks peristiwa istilah tahniah memiliki beberapa makna spesifik (khusus). Seperti tabriik (mendoakan keberkahan), tabsyiir (memberi kabar gembira).

Hukum Tahniah Secara Umum

Secara umum hukum tahniah adalah mustahab (sunat), karena pertama,Tahniah merupakan perpaduan antara tabrik dan doa dari seorang muslim kepada sesama muslim lainnya atas perkara yang menggembirakan dan disenanginya. Kedua, Pada tahniah terdapat mawaaddah (saling mencintai), tarahum (saling mengasihi), dan ta’athuf (saling menaruh simpati) di antara kaum muslimin.

Anjuran umum menyampaikan tahni’ah kepada sesama muslim ketika mendapatkan kenikmatan diungkap didalam Al Quran:

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

(Dikatakan kepada mereka): “Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Thur [52]:19)

Sedangkan dalam hadis diperoleh dari beberapa peristiwa, antara lain:

عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : أُنْزِلَتْ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم : {إِنَّا فَتَحْنَا لَك فَتْحًا مُبِينًا} إِلَى آخِرِ الآيَةِ ، مَرْجِعَهُ مِنَ الْحُدَيْبِيَةِ ، وَأَصْحَابُهُ مُخَالِطُو الْحُزْنِ وَالْكَآبَةِ ، قَالَ : نَزَلَتْ عَلَيَّ آيَةٌ هِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا جَمِيعًا ، فَلَمَّا تَلاَهَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ : هَنِيئًا مَرِيئًا ، قَدْ بَيَّنَ اللَّهُ مَا يُفْعَلُ بِكَ ، فَمَاذَا يُفْعَلُ بِنَا ؟ فَأَنْزَلَ اللَّهُ الآيَةَ الَّتِي بَعْدَهَا : {لِيُدْخِلَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ} حَتَّى خَتَمَ الآيَةَ.

Dari Anas, ia berkata, “Telah diturunkan ayat Inna fatahnaa laka fathan mubinan (Al Fath:1) kepada Rasul ketika kembali dari Hudaibiyah, dan para sahabatnya larut dalam kesedihan. Beliau bersabda, ‘Telah turun ayat kepadaku yang lebih aku cintai daripada dunia dan seluruh isinya. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membacanya, seorang laki-laki dari kaum itu berkat, ‘selamat lagi baik akibatnya, sungguh Allah telah menjelaskan apa yang akan diperbuat-Nya kepada Anda, apa yang akan diperbuat kepada kami? Maka Allah menurunkan ayat setelahnya: liyudkhilal mu’minina…hingga akhir ayat’.

Demikian pula peristiwa Ka’ab bin Malik yang tertinggal dari perang Tabuk, yaitu ketika Allah swt menurunkan beberapa ayat di akhir-akhir surat At-Taubah tentang diterimanya taubat Ka’ab bin Malik bersama dua orang kawannya, Rasulullah saw dan para shahabat segera memberi kabar gembira kepada Ka’ab bin Malik dan mereka (para shahabat) mengucapkan selamat kepadanya. (HR. Al Bukhari dan Muslimah dalam hadis yang panjang tentang kisah Ka’ab bin Malik yang tertinggal dari perang Tabuk).

Tahniah ‘Id

Tahniah untuk ‘Id atau hari raya, maka dalam agama Islam ada dua hari raya yaitu Idul fitri dan Idul adha. Adapun periwayatan doa tahniah ‘Id yang kami dapati adalah sebagai perbuatan para sahabat, sebagaimana dijelaskan oleh Jubair bin Nufair:

 كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذاَ إِلْتَقَوْا يَوْمَ العِيدِ يَقُولُ بَعْضُهَا لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ. قَالَ الحاَفِظُ إِسْناَدُهُ حَسَنٌ.

Adalah para sahabat Rasulullah saw, apabila saling bertemu satu sama lain pada hari raya ‘Id, berkata yang satu pada yang lainnya, Taqabbalallahu minna wa minkum. (Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan engkau).

Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan,

رَوَيْنَاهُ فِي الْمَحَامِلِيَاتِ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ

“Kami telah meriwayatkannya dalam Al Mahamiliyat dengan sanad hasan.”

Hukum tahniah kepada selain muslim dalam perayaan hari raya mereka

Adapun tahniah untuk hari raya ummat lain seperti Natal, maka para ulama berbeda pendapat:

  1. Ulama empat mazhab : Hanafi, Maliki, Syafii, Hanbali sepakat bahwa haram hukumnya memberikan ucapan selamat natal apalagi ikutan perayaannya dengan dalil bahwa itu termasuk tasyabbuh (menyerupai orang kafir) dan memberikan dukungan terhadap kekafiran mereka serta pengagungan terhadap apa yang mereka agungkan.
  2. Ulama moderen : seperti Al Qardhawi, Wahbah Az Zuhaili, Ali Jumah, Musthafa Zarqa, Rasyid Ridha dan lainnya mengatakan boleh mengucapkan selamat natal sebatas mujamalah (membalas kebaikan dengan kebaikan) dan tidak sampai ke level mengakui (iqrar) atas perayaan ritual yang mereka agungkan. Dalilnya adalah bahwa Allah swt membolehkan membalas kebaikan mereka dengan kebaikan (al bir) seperti pada QS. Al Mumtahanah[60] : 8.

لَا أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.( QS. Al Mumtahanah[60] : 8. )

  1. Jalan Tengah : Bagi yang tidak punya hubungan sosial dengan mereka seperti persahabatan atau pertemanan kerja atau jabatan negara maka lebih aman mengambil dalil yang pertama. Tetapi bagi yang mempunyai hubungan sosial dengan mereka seperti yang disebutkan barusan maka tidak apa-apa mengambil dalil yang kedua.

Referensi:

  1. Achmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir
  2. HR Ahmad, Al Musnad, III:252, No. 13.664, Ibnu Abu Syaibah, Al Mushannaf, VII:408, No. 36.937, Ibnu Hiban, Shahih Ibn Hiban, II:93, No. 371, Abu Ya’la, al-Musnad, V:385, No. hadits 3045
  3. Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, Fath Al Bari Syarh Shahih Al Bukhari, II:446
BAGI
Artikel SebelumnyaMelawan Waktu
Artikel BerikutnyaFanâ’