Tahallul

0
46 views

Menurut bahasa kata tahallul berasal dari kata tahallala ya tahallalu yang mengandung makna berlepas dari sesuatu, menjadi halal yang sebelumnya haram, menjadi boleh’ atau ‘dihalalkan’. Secara istilah Tahallul  ialah diperbolehkan, halal, keluar atau membebaskan diri dari seluruh  larangan atau pantangan selama Ihram. Prakteknya adalah dengan mencukur rambut kepala seluruhnya atau mencukur dengan memendekkan rambut kepala bagi jamaah laki-laki dan beberapa helai rambut kepala untuk jamaah perempuan yang telah menyelesaikan rukun dan wajib umroh dan haji, sebagaimana firman Allah swt,

لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ ۖ

Sesungguhnya kamu tetap memasuki Masjidil Haram (pada masa ditentukan) dalam keadaan aman (menyempurnakan ibadah kamu) dengan mencukur kepala kamu dan kalau (tidak pun) menggunting sedikit rambutnya… .” (QS. Al-Fath[48]: 27)

Macam-macam Tahallul

Tahallul dalam ibadah umroh dan haji adalah salah satu rukun yang harus dilakukan oleh jamaah yang sedang melaksanakan umroh atau haji. Tahallul dalam ibadah umroh pelaksanaannya adalah setelah jamaah umroh selesai melakukan Sai setelah Thawaf. Jadi begitu selesai Sai atau berlari-lari kecil tujuh kali dari bukit Shofa ke bukit Marwah, maka jamaah Umroh langsung melakukan Tahallul.

Khusus bagi jamaah laki-laki yang sudah memiliki niat untuk badal umroh, baik untuk orang tua dan keluarga yang sudah tiada, atau sudah tua atau sedang jatuh sakit dan tidak memungkinkan berangkat ke Baitullah maka pada saat tahallul pada umroh pertama ini tentu jangan dicukur gundul. Nanti setelah pelaksanaan badal umroh selesai maka silakan tahallul dengan cukur gundul.

Sedangkan tahallul dalam ibadah haji ada dua macam tahallul, yaitu:

Pertama, Tahallul awal dalam rangkaian ibadah haji adalah melepaskan diri dari larangan Ihram, setelah melakukan dua di antara tiga perbuatan berikut :

  1. Melontar Jamratul Aqabah dan bercukur.
    2. Melontar Jamratul Aqabah dan Tawaf Ifadah,
    3. Tawaf Ifadah, Sai dan bercukur.
    Tatacaranya yaitu dengan bercukur atau menggunting rambut yang dilakukan lebih awal ketika sudah sampai di Mina setelah mabit dari Muzdalifah pada 10 Zulhijjah, yang dilanjutkan dengan melontar Jumratul Aqabah. Begitu jamaah haji sudah melakukan tahallul awal maka ia sudah boleh melepas ihromnya dan dihalalkan bagi jemaah haji melakukan segala larangan ihram, kecuali hubungan suami isteri dan melakukan akad nikah. Untuk jamaah haji Indonesia kebanyakan melaksanakan Tahallul awal ini dengan cara ini.

Namun ada juga sebagian jamaah haji Indonesia yang melakukan dengan cara kedua dan ketiga. Cara ini memang lebih berat karena jamaah haji harus berangkat ke Makkah. Sementara kendaraan dari Mina ke Makkah agak sulit, macet total. Kesulitan kedua, setelah selesai Tahallul di Masjidil Haram, jamaah juga harus segera kembali ke Mina lagi untuk melakukan mabit atau menginap dan melontar jumroh tanggal 11, 12 dan 13 Dzuhijjah. Jamaah haji harus sudah sampai di Mina sebelum matahari tenggelam. Sebab apabila sampai di Mina setelah matahari tenggelam maka wajib membayar dam. Jadi dalam sehari tersebut jamaah harus bolak-balik Mina – Makkah – Mina. Kelebihan yang diperoleh adalah jamaah haji bisa melaksanakan sholat Idul Adha di Masjidil Haram.

Kedua, Tahallul Tsani / Qubra

Tahallul tsani atau qubro atau tahallul akhir dalam rangkaian ibadah haji adalah melepaskan diri dari keadaan Ihram setelah melakukan secara lengkap ketiga-tiga ibadah berikut:

  1. Melontar Jamratul Aqabah.
    2. Bercukur dan Tawaf Ifadah,
    3. Sai
    Tahallul Tsani ini dilakukan para jamaah haji setelah melakukan thawaf dan sai haji, sekembalinya ke Makkah setelah selesai wukuf di Arofah. Yaitu setelah melakukan semua rukun haji termasuk satu wajib haji yaitu melontar Jamratul Aqabah, walaupun belum melontar tiga jamrah dan bermalam di Mina, maka halal semua larangan ihram.

Adapun kadar rambut yang dipotong atau dicukur dalam tahallul adalah Bagi wanita tidak ada gundul, akan tetapi disyariatkan mencukur pendek. Yang disunnahkan mengambil sepanjang ruas jemari. Dia dibolehkan mengambil kurang dari itu. Karena tidak ada ketentuan dalam agama akan hal itu.

Rasulullah saw bersabda:

(لَيْسَ عَلَى النِّسَاء حَلْق , إِنَّمَا عَلَى النِّسَاء التَّقْصِيْر (رواه أبو داود

“Tidak ada bagi wanita gundul rambutnya, sesungguhnya bagi para wanita cukur rambut saja.” (HR. Abu Daud)

Dari Ali ra berkata:

(نَهَى رَسُوْلُ الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم أَنْ تَحْلِقَ المَرْأَة رَأْسَهَا  (رواه الترمذي

“Rasulullah saw melarang wanita menggundul kepalanya.” (HR. Tirmizi)

Adapun untuk laki-laki maka digundul lebih baik karena Rasulullah saw berdoa untuk memintakan ampun bagi mereka yang mencukur gundul rambutnya sampai tiga kali. Pada kali keempat, barulah beliau mendoakan orang yang hanya menggunting sebagian rambutnya.

Referensi:

  1. Syauqi Dhaif, Al-Mu’jam al-Wasith
  2. Ibnu Mandzur, Lisanul ‘Arab
  3. Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah
  4. Imam Abu Daud, Sunan Abu Daud
  5. Imam At-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi
BAGI
Artikel SebelumnyaMereka Tak Merdeka
Artikel BerikutnyaPepatah