Tafsir dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan

0
102 views

Al-Qur’an sebagai petunjuk diyakini dapat berdialog dengan seluruh manusia sepanjang zaman. Perkembangan hidup manusia mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap akal pikirannya. Ini juga berarti mempunyai pengaruh terhadap pengertian dan pemahaman terhadap ayat-ayat al-Qur’an.

Pada abad-abad pertama Islam, ulama sangat berhati-hati dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Bahkan sebagian di antara para ulama tidak memberikan jawaban ketika ditanya tentang pengertian suatu ayat.

Mereka menyadari keagungan al-Qur’an dan bahwa al-Qur’an merupakan firman Allah yang tidak boleh ditafsirkan secara spekulatif. Kehati-hatian ini menjadikan Abu Bakar as-Shiddiq berucap, “Langit apa yang menjadi teduhanku, bumi apa yang menjadi pijakanku, jika aku berucap menyangkut al-Qur’an yang tidak kuketahui”. Diriwayatkan oleh Imam Malik bahwa Sa’id bin Musayyab bila ditanya mengenai tafsir suatu ayat, beliau berkata, “Kami tidak berbicara mengenai al-Qur’an sedikit pun”. Demikian juga halnya dengan Sali bin Abdullah bin Umar, Al-Qasim bin Abi Bakar, Nafi’, Al-Asma’i, dan lain-lain.

Pada abad berikutnya, sebagian besar ulama berpendapat bahwa setiap orang boleh menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an selama ia memiliki syarat-syarat tertentu. Dari sinilah penafsiran terhadap al-Qur’an mengalami perkembangan yang sangat pesat dengan corak penafsiran yang beragam; ada yang berdasarkan riwayat-riwayat, ada yang berdasarkan nalar penulisnya, dan ada pula yang menyatukan antara keduanya. Agaknya benar pandangan yang menyatakan bahwa “sepanjang sejarah, tidak dikenal suatu kitab apa pun yang telah ditafsirkan, diterangkan, dikumpulkan interpretasi para ahli terhadapnya dalam kitab yang berjilid-jilid seperti halnya al-Qur’an”.

Perkembangan ilmu pengetahuan juga menghasilkan sejumlah penafsiran yang bercorak ilmiah. Tafsir Fakhr Ar-Razy, yang memuat pejelasan-penjelasan yang sangat luas tentang persoalan-persoalan filsafat dan logika, adalah salah satu contohnya. Abu Hayyan dalam tafsirnya menulis bahwa “Al-Fakhr ar-Razy di dalam Tafsirnya mengumpulkan banyak persoalan secara luas yang tidak dibutuhkan dalam ilmu tafsir. Karenanya, sebagian ulama berkata, bahwa di dalam tafsirnya terdapat segala sesuatu kecuali tafsir”.(Abu Hayyan, Al-Bahr al-Muhîth, 1978, Jilid I, h. 13).

Kecenderungan penafsiran ilmiah di kalangan ulama merupakan salah satu bentuk reaksi terhadap kondisi umat Islam, khususnya pada pertengahan abad 19 M. Umat Islam mengalami tantangan yang sangat hebat, baik dalam bidang politik, militer, sosial, maupun budaya. Di satu sisi, Kekuatan Barat mulai tampil dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang sangat pesat, sementara di sisi lain umat Islam mengalami kemunduran secara sosial dan pengetahuan. Keadaan seperti ini menimbulkan perasaan rendah diri atau inferiority complex pada sebagian besar umat Islam. Salah satu bentuk reaksi dari kondisi ini adalah kecenderungan umat Islam memberikan pembenaran terhadap satu teori ilmiah yang baru ditemukan dengan mengatakan bahwa hal tersebut juga telah disebutkan di dalam al-Qur’an.

Kita tidak dapat membenarkan atau menyalahkan teori-teori ilmiah dengan ayat-ayat al-Qur’an. Sebab, kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang bersifat relatif, yang suatu saat bisa dipatahkan oleh kebenaran ilmiah yang lain yang lebih kuat darinya, sedangkan al-Qur’an adalah kebenaran yang mutlak. Tidak dipungkiri bahwa al-Qur’an memang memuat sejumlah pemaparan ilmiah. Tetapi, tujuan pemaparan ayat-ayat tersebut adalah untuk menunjukkan kebesaran Tuhan dan keesaan-Nya, serta mendorong manusia untuk mengadakan observasi dan penelitian demi lebih menguatkan iman dan kepercayaan kepada-Nya. Apalagi uraian ayat-ayat ilmiah dalam al-Qur’an tidak disampaikan secara detil, sehingga ia membutuhkan penelitian lebih lanjut dan memungkinkan terjadinya perbedaan pendapat dalam uraiannya.

Membahas hubungan antara al-Qur’an dan ilmu pengetahuan bukan dinilai dari benar-tidaknya suatu teori ilmiah berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an atau banyaknya cabang-cabang ilmu pengetahuan yang diuraikan oleh al-Qur’an, tetapi yang lebih utama adalah melihat adakah al-Qur’an atau jiwa ayat-ayatnya menghalangai perkembangan ilmu pengetahuan atau justru mendorongnya. (Malik bin Nabi, Intâ al-Mustasyriqîn wa Atsaruhû fi al-Fikr al-Islâmy al-Hadîts, h. 123)

Dalam al-Qur’an ditemukan kata-kata “ilmu” – dengan berbagai bentuknya – terulang sebanyak 854 kali. Di samping itu, banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menganjurkan untuk menggunakan akal pikiran, penalaran, dan sebagainya. Bahkan tidak itu saja, al-Qur’an juga mengemukakan hal-hal yang bisa menimbulkan hambatan kemajuan pengetahuan, antara lain:

  1. subjektivitas: a) suka dan tidak suka (antara lain QS. 43:78; 7: 79); b) taqlid atau mengikuti tanpa alasan (antara lain QS. 33: 67; 2: 170)
  2. Angan-angan dan dugaan yang tak beralasan (antara lain QS. 10: 36)
  3. Bergegas-gegas dalam mengambil keputusan atau kesimpulan (antara lain QS. 21: 37)
  4. Sikap angkuh atau enggan mencari atau menerima kebenaran (antara lain QS 7: 146)

Ayat-ayat semacam ini memberikan dorongan terhadap ilmu pengetahuan yang telah melahirkan pemikir-pemikir dan ilmuwan-ilmuwan Islam dalam berbagai disiplin ilmu. “Tiada yang lebih baik dituntun dari suatu kitab akidah (agama) menyangkut bidang ilmu kecuali anjuran untuk berpikir… serta tidak menetapkan suatu ketetapan yang menghalangi umatnya untuk menggunakan akalnya atau membatasinya menambah pengetahuan selama dan di mana saja ia kehendaki.”(Abbas Mahmud Al-Aqqad, al-Falsafah al-Qur’âniyyah, h.12). Ini adalah korelasi pertama dan utama antara al-Qur’an dan ilmu pengetahuan.

Korelasi kedua dapat ditemukan pada isyarat-isyarat ilmiah yang tersebar dalam sekian banyak ayat al-Qur’an yang berbicara tentang alam raya dan fenomenanya. Hanya saja redaksi yang digunakan oleh al-Qur’an bersifat singkat, teliti, dan padat. Tetapi justru di sinilah keluasan makna yang bisa dicakup dan diuraikan dari pemahaman terhadap ayat-ayat tersebut. Suatu isyarat ilmiah yang diuraikan oleh ayat al-Qur’an yang singkat dan padat tersebut dapat dilihat dari berbagai sudut pandang disiplin ilmu pengetahuan, sehingga bisa menghasilkan sejumlah pemahaman yang berbeda sesuai sudut pandang ilmiah yang dipakai untuk menelitinya.

Dengan pemahaman korelasi antara al-Qur’an dan ilmu pengetahuan seperti ini, maka kita akan menemukan bahwa antara agama dan ilmu pengetahuan tidak mungkin timbul pertentangan, selama keduanya menggunakan metode dan bahasa yang tepat. Richard Gregory dalam Religion in Science and Civilization menulis, “Agama dan ilmu pengetahuan adalah dua faktor utama yang mempengaruhi perkembangan insani di seluruh taraf-taraf peradaban; agama adalah suatu reaksi kepada satu gerak batin menuju apa yang diyakini kesuciannya, sehingga menimbulkan rasa hormat dan takzim; sedangkan ilmu pengetahuan merupakan tumpukan pengetahuan tentang objek alam yang hidup dan yang mati”. Selanjutnya dia berkata, “Di dalam sinar kebaktian kepada cita-cita yang tinggi, maka ilmu pengetahuan sangat perlu bagi kehidupan kita dan agama menentukan arti hidup manusia; kedua-duanya dapat menemukan lapangan umum untuk bekerja, tanpa ada pertentangan antara keduanya.

(Tulisan ini disadur dari beberapa tulisan dan buku Prof. Dr. M. Quraish Shihab)

BAGI
Artikel SebelumnyaMiskin
Artikel BerikutnyaJibril Pun Mengajarkan ‘Kebugaran’