Syahwat dan Syariah

0
165 views

Setiap manusia memiliki berbagai macam keinginan atau kesenangan pada sesuatu yang sering disebut dengan syahwat, ini merupakan pemberian dari Allah swt ke dalam jiwanya dan Allah swt menyebutkan beberapa hal yang umumnya disenangi oleh manusia sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS Ali Imran/3:14).

annajma09.files.wordpress.comDalam ensiklopedia Al-Qur’an dinyatakan bahwa syahwat berarti kesenangan. Dalam bentuk kata kerja, kata itu berarti “mencintai” atau “menyenangi sesuatu.” Al Asfahani seperti yang dikutif dalam buku itu menjelaskan bahwa syahwat pada dasarnya berarti nafsu terhadap sesuatu yang diingini. Ia membagi syahwat menjadi dua macam, yaitu (1) syahwah shadiqah (syahwat yang benar), berupa keinginan yang jika dipenuhi  bisa merusak badan seperti nafsu makan ketika lapar; dan (2) syahwah kadzibah (syahwat yang tidak benar) yang jika tidak terpenuhi tidak berakibat apa-apa bagi badan.

Potensi Penting

Syahwat pada manusia tidak harus kita pandang secara negatif, karena itu ibadah puasa sebenarnya tidak dimaksudkan untuk membunuh syahwat hingga manusia tidak punya selera terhadap segala sesuatu yang ada di muka bumi ini, tapi mendidik untuk memiliki kemampuan mengendalikannya, hal ini karena syahwat sebenarnya potensi penting yang ada pada diri kita dalam konteks pengabdian kepada Allah swt. Karena itu, DR. M. Ratib An Nablusi dalam kata pengantar bukunya Muqawwamat At Taklif menyebutkan dua hakikat syahwat. Pertama, Allah tidak menciptakan syahwat di dalam diri kita kecuali agar dengannya kita naik kearah Allah, Tuhan langit dan bumi. Syahwat adalah tangga sebagai media kita untuk mendaki, sekaligus turunan-turunan yang akan menjerumuskan kita. Jadi syahwat bersifat netral, bisa membawa anda naik menuju Allah dan mampu menjermuskan hamba –kita berlindung kepada Allah- ke tingkat manusia terendah.

Kedua, Allah tidak menciptakan syahwat di dalam diri kita kecuali Dia ciptakan juga saluran yang bersih sebagai media mengekspresikannya. Di dalam Islam, tidak ada pengekangan, yang ada adalah pembatasan dan pengaturan. Kecintaan kepada perempuan misalnya, saluran yang bersih baginya adalah pernikahan. Bila anda mengapresiasikan dorongan syahwat ini pada saluran yang telah tersedia, maka Allah akan berbahagia dan menciptakan kebahagiaan. Namun bila anda mengapresiasikannya pada saluran yang tidak disyariatkan oleh Allah, anda akan sengsara dan menciptakan kesengsaraan.

Ketika menafsirkan ayat di atas, Sayyid Quthb dalam tafsirnya menyebutkan: “Ungkapan kalimat ini tidak memiliki konotasi untuk menganggapnya kotor dan tidak disukai. Tetapi, ia hanya semata-mata menunjukkan tabiat  dan dorongan-dorongannya, menempatkannya pada tempat tanpa melewati batas, serta tidak mengalahkan apa yang lebih mulia dan lebih tinggi dalam kehidupan serta mengajaknya memandang ke ufuk lain setelah menunjukkan vitalnya apa-apa yang diingini itu dengan tanpa tenggelam dan semata-mata bergelimang di dalamnya. Disinilah keistimewaan Islam dengan memelihara fitrah manusia dan menerima kenyataannya serta berusaha mendidik, merawat dan meninggikannya. Bukan membekukan dan mematikannya.”

Bingkai Syariah

Agar syahwat menjadi potensi yang tersalurkan dalam pengabdian kepada Allah swt, maka ia harus dibingkai dan diarahkan oleh syariat. Secara harfiyah, menurut Al Asfahani syariat berarti ath thariqah al wadhihah (jalan yang jelas). Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa syariat adalah ketentuan Allah swt yang tertuang dalam ajaran Islam yang memberi arahan dalam perjalanan hidup manusia agar tidak menyimpang ke jalan yang keliru. Karena itu, syariat Islam harus kita ikuti sebagaimana yang dipesankan Allah swt dalam firman-Nya: Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak Mengetahui (QS Al Jatsiyah/45:18).

Sebagai manusia, kita amat membutuhkan syariat yang datang dari Allah swt, karena Dia yang mencipta kita tentu lebih tahu ketentuan hidup seperti apa yang cocok untuk kita jalani. Agar kita mau menjalankan syariat Islam, menjadi penting bagi kita memahami apa sebenarnya tujuan dari syariat sehingga dengan memahaminya kita menjadi antusias terhadapnya dan tidak merasa sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan hanya karena di dalamnya ada perintah dan larangan.

Paling tidak, ada dua tujuan utama dari syariat Islam yang amat penting untuk kita pahami. Pertama, untuk mewujudkan kemaslahatan atau kebaikan, karenanya di dalam Islam ada perintah yang bila kita laksanakan, maka akan kita dapatkan sejumlah kebaikan, baik secara fisik maupun mental, di dunia maupun di akhirat. Ini berarti, harus kita sadari bahwa dibalik perintah pasti ada kebaikan yang ingin diwujudkan Allah swt terhadap diri kita, keluarga dan masyarakat secara luas. Diantara contohnya, ketika Allah swt memerintahkan shalat, ternyata hal itu dapat mencegah diri kita dari melakukan perbuatan yang tercela dan berbagai kemunkaran bila shalat memang dikerjakan dengan sebaik-baiknya, Allah swt berfirman: Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al Ankabut/29:45).

Disamping itu, puasa diperintahkan kita agar kita menjadi orang yang bertaqwa, sesuatu yang amat penting dalam menjalani kehidupan yang baik di dunia ini, Allah swt berfirman: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS Al Baqarah/2:183). Bahkan secara duniawi puasa itu juga bisa membuat manusia menjadi sehat secara fisik yang sudah dibuktikan dalam ilmu kedokteran karena memang Rasulullah saw menyatakan demikian.

Kedua, untuk mencegah terjadinya mafsadat atau kerusakan. Karena itu, di dalam syariat Islam terdapat larangan yang tidak dimaksudkan untuk melarang manusia menikmati segala sesuatu dalam kehidupan dunia, tapi lebih mengarahkannya untuk menikmati segala sesuatu secara benar. Sebagai contoh, zina merupakan sesuatu yang dilarang di dalam Islam, ini bukan berarti seorang muslim tidak boleh melampiaskan keinginan seksualnya, boleh saja seorang muslim melampiaskannya melalui prosedur yang benar, yakni mendahuluinya dengan aqad nikah yang sah. Zina, apalagi yang dilakukan kepada banyak orang telah terbukti membawa kerusakan, bahkan tidak hanya bagi pelakunya, tapi juga bagi keluarga dan masyarakatnya secara luas, kerusakan yang tidak hanya bedrsifat fisik tapi juga mental. Karenanya, larangan yang dikemukakan Allah swt mulai dari mendekatinya sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS Al Isra/17:32).

Disamping itu, Allah swt juga melarang kita makan dan  minum secara berlebihan, dan ini harus kita sadari bahwa bukan makan dan minumnya yang dilarang, tapi sikap berlebihannya yang tidak dibenarkan, karena memang amat berbahaya bagi manusia secara fisik dan mental dan ini sudah terbukti dengan begitu banyak penyakit yang timbul karena berlebihan dalam makan minum dan penyakit-penyakit ini menjadi penyebab kematian banyak orang, Allah swt berfirman: Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS Al A’raf/7:31).

Dengan demikian, kemampuan mengendalikan hawa nafsu yang berpangkal dari syahwat membuat manusia menjadi begitu mulia, bila tidak kesesatan hidup tidak terelakkan, Allah swt berfirman: Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah Telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS Al Jatsiyah/45:23).

Sekarang pilihan ada pada kita masing-masing, mau mengikuti syahwat tanpa kendali atau syahwat yang dibimbing oleh syariat Islam. Ibadah Ramadhan yang sedang kita jalani dan seluruh peribadatan di dalam Islam sebenarnya mendidik kita untuk memenuhi syahwat dengan syariat.

By Drs. H. Ahmad Yani