Syafaat

0
46 views

Syafaat berasal dari kata asy-syafa’(ganda) yang merupakan lawan kata dari al-witru (tunggal), yaitu menjadikan sesuatu yang tunggal menjadi ganda, seperti membagi satu menjadi dua, tiga menjadi empat, dan sebagainya. Ini pengertian secara bahasa.

Sedangkan secara istilah, syafaat berarti menjadi penengah bagi orang lain dengan memberikan manfaat kepadanya atau menolak madharat, yakni pemberi syafaat itu memberikan manfaat kepada orang itu atau menolak madharatnya.

 

Syafaat terdiri dari dua macam:

A. Syafaat yang didasarkan pada dalil yang kuat dan shahîh, yaitu yang ditegaskan Allah swt dalam Kitab-Nya, atau dijelaskan Rasulullah saw. Syafaat tidak diberikan kecuali kepada orang-orang yang bertauhid dan ikhlas, karena Abu Hurairah ra berkata:

 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم –  أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ ( رواه البخاري)

 “Wahai Rasulullah saw, siapa yang paling bahagia mendapatkan syafaatmu?” Beliau menjawab, “Orang yang mengatakan,’Lâ ilâha illallah’ dengan ikhlas dalam hatinya.”(HR Bukhori)

 

Syafaat mempunyai tiga syarat: Pertama, Allah swt meridhai orang yang memberi syafaat. Kedua, Allah swt meridhai orang yang diberi syafaat. Ketiga, Allah swt mengizinkan pemberi syafaat untuk memberi syafaat.

 

Syarat-syarat di atas secara global dijelaskan Allah swt, dalam firman-Nya:

 

وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَوَاتِ لا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى

“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna kecuali sesudah Allah swt, mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai-Nya.” (QS An-Najm [53]:26)

 

Kemudian firman Allah swt.

… مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ

“Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah swt, tanpa izin-Nya.”

(QS Al-Baqarah[2]:255)

 

Lalu firman Allah swt.

 

يَوْمَئِذٍ لا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلا

 

“Pada hari itu tidak berguna syafaat, kecuali (syafaat) orang yang Allah swt, maha pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya.” (QS Thahaa[20]: 109)

 

Kemudian firman Allah swt.

 

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يَشْفَعُونَ إِلا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ

 

 “Allah swt mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah swt dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (QS Al-Anbiyâ [21]: 28)

 

Menurut para ulama, syafaat yang diterima, dibagi menjadi dua macam:

1. Syafaat umum. Makna umum, Allah swt mengizinkan kepada salah seorang dari hamba-hamba-Nya yang shalih untuk memberikan syafaat kepada orang-orang yang diperkenankan untuk diberi syafaat. Syafaat ini diberikan kepada Nabi Muhammad saw, nabi-nabi lainnya, orang-orang jujur, para syuhadâ, dan orang-orang shalih. Mereka memberikan syafaat kepada penghuni neraka dari kalangan orang-orang beriman yang berbuat maksiat agar mereka keluar dari neraka.

 

2. Syafaat khusus, yaitu syafaat yang khusus diberikan kepada Nabi Muhammad saw, dan merupakan syafaat terbesar yang terjadi pada hari Kiamat. Tatkala manusia dirundung kesedihan dan bencana yang tidak kuat mereka tahan, mereka meminta kepada orang-orang tertentu yang diberi wewenang oleh Allah swt, untuk memberi syafaat. Mereka pergi kepada Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa. Tetapi mereka semua tidak bisa memberikan syafaat hingga mereka datang kepada Nabi Muhammad saw, lalu beliau berdiri dan memintakan syafaat kepada Allah swt, agar menyelamatkan hamba-hamba-Nya dari adzab yang besar ini. Allah swt pun memenuhi permohonan itu dan menerima syafaatnya. Ini termasuk kedudukan terpuji yang dijanjikan Allah swt, di dalam firman-Nya:

 

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

 

“Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS Al-Israa'[17]:79)

 

Di antara syafaat khusus yang diberikan kepada Rasulullah saw adalah syafaatnya kepada penghuni surga agar mereka segera masuk surga, karena penghuni surga ketika melewati jembatan, mereka diberhentikan di tengah jembatan yang ada di antara surga dan neraka. Hati sebagian mereka bertanya-tanya kepada sebagian lain, hingga akhirnya mereka bersih dari dosa. Kemudian mereka baru diizinkan masuk surga. Pintu surga itu bisa terbuka karena syafaat Nabi saw.

 

B. Syafaat bâthil yang tidak berguna bagi pemiliknya, yaitu anggapan orang-orang musyrik bahwa tuhan-tuhan mereka dapat memintakan syafaat kepada Allah swt. Syafaat semacam ini tidak bermanfaat bagi mereka seperti yang difirmankan-Nya,

 

فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ   

“Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan syafaat.” (Qs Al-Mudatstsir [74]:48)

 

Demikian itu karena Allah swt, tidak rela kepada kesyirikan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik itu dan tidak mungkin Allah swt memberi izin kepada para pemberi syafaat itu, untuk memberikan syafaat kepada mereka, karena tidak ada syafaat kecuali bagi orang yang diridhai Allah swt. Allah swt tidak meridhai hamba-hamba-Nya yang kafir dan Allah swt tidak senang kepada kerusakan.

 

Sumber: Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin, Fatawa arkânil Islâm atau Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji, terj. Munirul Abidin, M.Ag. (Darul Falah 1426 H.), hlm. 116 – 119.

 

BAGI
Artikel SebelumnyaFacebook
Artikel BerikutnyaMitra Perjuangan