Sutrah

0
11 views

Sutrah secara bahasa berasal dari kata satara-yasturu yang artinya menutupi, menyembunyikan, menghalangi. Adapun secara istilah adalah sesuatu yang dijadikan oleh seorang yang shalat di depannya sebagai pembatas antaranya dengan orang yang lewat di depannya.1

 

Masyru’iyah
Terkait dalil disyariatkannya sutrah, kita bisa temukan beberapa hadits, diantaranya:

 

عَنِ ابْنِ عُمَرَقَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: لاَ تُصَلِّ إِلاَّ إِلىَ سُتْرَةٍ وَلاَ تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ، فَإِنْ أَبىَ فَلْتُقَاتِلْهُ فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِيْنَ

 

Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah bersabda, “Janganlah engkau shalat kecuali menghadap sutrah dan janganlah engkau biarkan seorangpun lewat di depanmu. Apabila dia enggan, maka perangilah karena sesungguhnya bersamanya ada qarin (setan).”(H.R: Muslim)

Hadits lain menyebutkan:

 

 عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلىَ سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا وَلاَ يَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا فَإِنْ جَاءَ أَحَدٌ يَمُرُّ فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّهُ شَيْطَانٌ

 

Dari Abu Said Al-Khudri berkata: Rasulullah bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian melakukan shalat, maka hendaknya dia bersutrah dan mendekat kepadanya. Dan janganlah dia membiarkan seorangpun lewat di depannya, apabila dia enggan maka perangilah karena dia adalah setan.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah)

Hukum Sutrah

Semua ulama sepakat bahwa sutrah bagi orang shalat itu memang disyariatkan. Tetapi ketika berbicara hukumnya, ada sedikit perbedaan, yaitu antara yang mewajibkan dan mengatakan sunnah.

Bisa dikatakan ulama dari zaman salaf hampir tidak ada yang mengatakan bahwa hukum sutrah bagi orang shalat adalah wajib. Jumhur ulama madzhab Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah berpendapat bahwa sutrah bagi orang shalat hukumnya adalah sunnah.

Meski jumhur ulama mengatakan sunnah, mereka berbeda pendapat tentang kesunnahannya; Menurut pendapat Hanabilah, sutrah sunnah hanya bagi imam dan munfarid saja. Sedangkan menurut Malikiyyah dan Hanafiyyah, hukumnya sunnah bagi yang dihawatirkan akan ada orang lewat. Menurut Syafi’iyyah dan salah satu pendapat Hanabilah, hukumnya sunnah muthlak tanpa ada batasan.

Berikut penjelasan dari pendapat para ulama tadi:

1. Pendapat Yang Mewajibkan

Kalau diteliti lebih jauh, cuma ada dua orang saja yang mengatakan dengan tegas, hukum sutrah dalam shalat hukumnya wajib, yaitu as-Syaukani  dan al-Albani dan beberapa murid beliau

a. As-Syaukani (w. 1250 H)

Asy-Syaukaaniy rahimahullah berkata :

 

قوله فليُصلِ إلى سترة فيه أن اتخاذ السترة واجب

 

Perkataan beliau ‘maka, hendaklah ia shalat menghadap sutrah’; padanya terdapat satu petunjuk bahwa mengambil sutrah (saat shalat) adalah wajib” (As-Syaukani, Nailu al-Authar, 3/5)

b. Al-Albani (w. 1420 H)

Al-Albani ketika mengomentari hadits sutrah, beliau berkata:

 

ففي الحديث إيجاب السترة

 

Hadits ini memberikan pengertian tentang wajibnya sutrah. (al-Albani, Hujjatu an-Nabi, 22, lihat pula: sifat shalat Nabi: 82, Tamam al-Minnah: 300)

2. Pendapat Yang Menyunnahkan

Bisa dikatakan hampir ulama salaf dari madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali berpendapat bahwa sutrah itu sunnah hukumnya.

Bahkan Ibnu Rusyd al-Hafid al-Malikiy (w. 595 H) berani memberikan statement bahwa hukum sunnah merupakan kesepakatan semua ulama.

 

وَاتَّفَقَ العُلَمَاءُ بِأَجْمَعِهِمْ عَلَى اسْتِحْبَابِ السُّتْرَةِ بَيْنَ الْمُصَلِّي وَالْقِبْلَةِ إِذَا صَلَّى مُنْفَرِدًا كَانَ أَوْ إِمَامًا

 

Dan para ulama –seluruhnya- telah berijmak akan istihbabnya (sunnahnya) sutroh untuk diletakan antara orang yang sholat dengan kiblat, baik jika sedang sholat sendirian atau tatkala menjadi imam”(Ibnu Rusyd, Bidayat al-Mujtahid, 1/ 82).

Hal senada juga diungkapkan oleh Imam Ibnu Quddamah al-Maqdisi al-Hanbali (w. 620 H), ketika menjelaskan hukum sutrah. Beliaau menuliskan sebagai berikut :

ولا نعلم في استحباب ذلكخلافا

“Saya tidak mengetahui ada khilaf tentang kesunnahannya (sutrah orang shalat)”.(Ibnu Quddamah, al-Mughni, 2/ 174

Maksudnya, sepanjang pengetahuan Ibnu Quddamah al-Maqdisi al-Hanbali (w. 620 H) para ulama dahulu semua mengatakan bahwa sutrah hukumnya sunnah. Beliau tidak mengetahui bahwa ada pendapat lain selain sunnah.

Ulama Modernseprti Ulama Arab Saudi seperti Bin Bazz (w. 1420 H), Muhammad bin Shalih Utsaimin (w. 1421 H), Shalih al-Fauzan dan Lajnah Daimah Arab Saudi juga berpendapat bahwa sutrah itu hukumnya sunnah.2

Dalil Yang Digunakan

1. Dalil Pendapat Yang Mewajibkan

Bagi kalangan yang mengatakan wajib, mereka berpegang pada hadits Nabi:

 

عَنِ ابْنِ عُمَرَقَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: لاَ تُصَلِّ إِلاَّ إِلىَ سُتْرَةٍ وَلاَ تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ، فَإِنْ أَبىَ فَلْتُقَاتِلْهُ فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِيْنَ

 

Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah bersabda, “Janganlah engkau shalat kecuali menghadap sutrah dan janganlah engkau biarkan seorangpun lewat di depanmu. Apabila dia enggan, maka perangilah karena sesungguhnya bersamanya ada qarin (setan).”(H.R: Muslim)

Larangan shalat kecuali menghadap sutrah ini dipahami sebagai bentuk kewajiban shalat. Apalagi ada perintah dari Nabi dari hadits:

 

 عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلىَ سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا وَلاَ يَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا فَإِنْ جَاءَ أَحَدٌ يَمُرُّ فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّهُ شَيْطَانٌ

 

Dari Abu Sa’id Al-Khudri berkata: Rasulullah bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian melakukan shalat, maka hendaknya dia bersutrah dan mendekat kepadanya. Dan janganlah dia membiarkan seorangpun lewat di depannya, apabila dia enggan maka perangilah karena dia adalah setan.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dll. dengan sanad hasan)

Oleh kalangan yang menganggap wajib, hadits-hadits diatas menunjukkan bahwa hukum sutrah adalah wajib. Hal itu karena ada perintah dari Nabi. Perintah itu asalnya wajib.

2. Dalil Pendapat Yang Menyunnahkan

Sedangkan bagi jumhur yang menganggap hukum sutrah adalah sunnah, mereka punya sudut pandang lain ketika memahami hadits-hadits tadi.

Meskipun hadits tentang sutrah itu dengan bentuk perintah, tapi tidak setiap perintah itu berkonsekwensi wajib. Jika ada petunjuk lain yang mengarahkan pada hukum sunnah, maka perintah itu maksudnya adalah sunnah dan bukan wajib.

Maka perbedaannya bukan pada hal ada dalilnya atau tidak, tapi lebih pada pemahaman hadits; apakah sampai taraf wajib atau sunnah.

Hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

 

اذا صلَّى أحدُكُم إلى شيءٍ يستُرُهُ من الناسِ،فأرادَ أحَدٌ أنْ يَجتازَ بين يديْهِ، فليدفَعْهُ، فإنْ أبى فَليُقاتِلهُ، فإنما هو شيطانٌ

 

“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah. jika ia enggan dicegah maka perangilah ia, karena sesungguhnya ia adalah setan”(H.R. Al-Bukhari)

Perkataan Nabi ‘jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah‘ menunjukkan bahwa orang yang shalat ketika itu terkadang shalat menghadap sesuatu dan terkadang tidak menghadap pada apa pun. Karena konteks kalimat seperti ini tidak menunjukkan bahwa semua orang di masa itu selalu shalat menghadap sutrah. Bahkan menunjukkan bahwa sebagian orang menghadap ke sutrah dan sebagian lagi tidak menghadap ke sutrah.

Menurut mereka yang mensunahkan diantara mereka berkata: Sutrah sudah mencukupi walau dengan garis atau ujung sajadah, namun lebih utama dengan adanya benda yang nampak setinggi pelana kuda atau lebih, seperti tas, kursi, meja, tiang, dan dinding. Berikut ini keterangan para ulama.

 Hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma:

 

رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم يُصَلِّي بمِنًى إلى غيرِ جِدارٍ       

 

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah shalat di Mina tanpa menghadap ke tembok”(HR. Al Bukhari).

Para ulama memaknai kata “tanpa menghadap tembok” disini dengan tanpa menghadap sutrah. Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) rahimahullah berkata:

قوله إلى غير جدار أي إلى غير سترة قاله الشافعي             

“Perkataannya ‘tanpa menghadap tembok’; maksudnya adalah tanpa menghadap sutrah. Hal itu dikatakan oleh Asy-Syaafi’iy” (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul-Baariy, 1/171)

Meski kalangan yang mengatakan wajib, mengatakan bahwa “tidak menghadap ke tembok” itu bukan berarti tidak menghadap apapun. Bisa jadi menghadap tongkat, batu atau yang lainnya.

Terlepas dari mana yang lebih rajih, silahkan pilih diantara dua pendapat itu. Jika menganggap wajib, maka seharusnya ada konsekwensi dibalik itu. Ketika menganggap wajib, artinya shalat tidaklah sah jika tanpa adanya sutrah.

Referensi:

1.      al-Mausuah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 24/177.

2.    Qamus Al Muhith

3.    Abdullah bin Baz, Tuhfatul ikhwaan bi Ajwibati Tata’allaqa bi Arkanil Islaam, 81.

4.    Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Fataawaa Arkaanil-Islaam, 343 soal no. 267