Surau di Atas Kuburan

0
135 views

thebittersweetnessoflife.blogspot.comDi daerah saya sekarang ini sedang giat direncanakan pembangunan surau, yang jadi persoalan adalah surau itu rencananya dibangun di atas tanah kuburan yang padat, bahkan kuburan itu sudah tumpang tindih. Yang ingin saya tanyakan adalah:

1.     Apakah dibenarkan orang membangun surau di atas kuburan?

2.     Siapa yang berhak mengalihkan tanah wakaf seseorang yang semula untuk kuburan lalu untuk surau, sementara yang berwakaf sudah meninggal dunia?

3.     Benarkah orang yang shalat di atas kuburan tidak mendapatkan pahala dari Allah swt?

4.     Manusiawikah orang yang membangun surau itu di atas kuburan?

Demikian hal ini saya tanyakan, atas penjelasan pengasuh saya ucapkan terima kasih.

Wassalam

Pembaca di Amuntai, Kalsel

Jawaban Pengasuh

Ketentuan Islam yang berkaitan dengan kuburan memang banyak orang yang tidak tahu atau melupakan hukumnya, padahal didalam Islam terdapat ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan hal ini. Diantara ketentuan terhadap kuburan adalah tidak boleh diinjak dan dibangunkan bangunan di atasnya, dalam hal ini diantara hadits Rasul saw adalah yang artinya: “Telah berkata Jabir: Rasulullah saw melarang mendidirikan apa-apa di atas kubur dan diinjak”: (HR. Tirmidzi). Dalam hadits yang lain artinya: “sesungguhnya menginjak bara api atau pedang itu, lebih aku sukai daripada aku menginjak kubur seorang muslim (HR. Ibnu Majah).

Dari hadits-hadits di atas jelas bahwa kita tidak dibenarkan membangun sesuatu di atas kubur, baik masjid, mushalla apalagi hanya sekadar bangunan biasa seperti rumah kecil untuk menghormati orang yang sudah meninggal, padahal orang yang sudah meninggal itu tidak akan merasakan adanya bangunan di atas kubur, kita sendiri dilarang mengkramatkan kuburan. Apalagi seseorang mau membangun sesuatu di tanah kuburan itu, maka kuburan yang ada harus dipindahkan dulu ke tempat lain, itupun dengan alasan yang bisa dibenarkan oleh syariat Islam. Dengan demikian, membangun mushalla di atas kuburan sangat tidak dibenarkan dalam pandangan Islam.

Yang berhak untuk mengalihkan fungsi tanah wakaf adalah orang diberi wakaf, tapi kalau yang memberi wakaf berniat untuk tanah kuburan, maka sulit pengalihannya, disamping karena wakaf itu untuk umum, juga kuburannya sudah berfungsi, apalagi orang yang berwakaf sudah meninggal dunia. Dengan begitu, karena wakaf itu untuk kuburan fungsikanlah tanah itu untuk kuburan. Dalam kaitan lain tentang pengalihan fungsi wakaf, misalnya seseorang mewakafkan tanahnya untuk dibangun masjid kepada sebuah yayasan, yayasan itu sendiri sedang membangun bangunan lain, misalnya sekolah dan sebagainya, maka untuk penataran bangunan yang baik, posisi bangunan masjid agak begeser ke tanah yang lain, hal itu mungkin saja, karena wewenang pengelola ada pada pengurus yayasan tanpa mengurangi niat baik pemberi wakaf.

Tentang orang yang shalat di atas kubur, di atas sudah dikemukakan haditsnya bahwa duduk, berdiri atau menginjak kuburan tidak dibenarkan di dalam Islam, termasuk shalat lagi pula mengapa orang shalat di atas kuburan?. Kalau kaitannya dengan bangunan mushalla di atas kuburan, kan di atas sudah dijelaskan. Karena dilarang, bisa jadi bukan pahala yang didapat, tapi malah berdosa.

Oleh karena itu adab seorang muslim terhadap kuburan tentu saja harus kita pahami bersama, karena akhlak di dalam Islam bukan hanya kepada orang yang hidup, tapi juga kepada orang yang sudah mati.

Demikian jawaban singkat pengasuh, semoga bermanfaat bagi kita bersama dan masalah yang terjadi didaereh anda itu bisa diselesaikan secara baik-baik.