Sunnah

0
50 views

www.informationonline.comSunnah menurut bahasa adalah Thorîqoh dan Sîroh yang berarti jalan, perjalanan hidup, atau Jalan dan kebiasaan yang baik atau yang jelak. Menurut M.T.Hasbi Ash Shiddieqy, pengertian sunnah ditinjau dari sudut bahasa bermakna jalan yang dijalani, terpuji, atau tidak. Sesuai tradisi yang sudah dibiasakan, dinamai sunnah, walaupun tidak baik. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw, sebagai berikut :

“Barang siapa mengadakan sesuatu sunnah (jalan) yang baik, maka baginya pahala Sunnah itu dan pahala orang lain yang mengerjakan hingga hari kiamat. Dan barang siapa mengerjakan sesuatu sunnah yang buruk, maka atasnya dosa membuat sunnah buruk itu dan dosa orang yang mengerjakannya hingga hari kiamat” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).

Adapun pengertian sunnah menurut istilah ada 3 pengertian:

Pertama, sunnah menurut istilah muhadditsîn (para peneliti hadits) adalah sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, dan sifat, baik fisik ataupun kepribadian dan perjalanan hidup, baik sebelum diutus (sebagai rasul) atau sesudahnya.

Kedua, sunnah menurut istilah ushuliyyun (ahli ushul), adalah sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw yang tidak ada penyebutan secara langsung di dalam al-Qur’an, namun hanya ada penyebutannya pada sabda Nabi Muhammad saw, baik hal itu sebagai penjelas Al-Qur’an atau tidak.

Ketiga, sunnah menurut istlah fuqahâ (ahli fikih), adalah sesuatu yang bukan wajib, bukan haram dan bukan makruh (sesuatu yang apabila dikerjakan karena taat mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa).

Dari pengertian diatas bisa kita simpulkan bahwa sunnah itu terbagi kepada empat:

Pertama, Sunnah Qauliyah(perkataan)

Yang dimaksud dengan sunnah qauliyah (perkataan) disini adalah perkataan nabi Muhammad saw, yang pernah beliau ucapkan dalam berbagai bidang syariat.

Contoh perkataan beliau yang mengandung hukum syariat seperti berikut. Nabi Muhammad saw bersabda

“sesungguhnya amal-amal perbuatan itu tergantung dengan niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang itu memperoleh apa yang ia niatkan”(HR. Bukhori dan Muslim)

Hukum yang terkandung dalam sabda Nabi tersebut ialah kewajiban niat dalam segala amal perbuatan utk mendapatkan pengakuan sah dari syara’.

Kedua, Sunnah Fi’liyah(perbuatan)

Sunnah fi’liyah(perbuatan) maksudnya adalah perbuatan-perbuatan nabi Muhammad saw yang menjadi syariat bagi umatnya. Hal itu bisa diketahui dari indikasi-indikasi yang menunjukkan hal tersebut. Karena pada kenyataannya perbuatan-perbuatan nabi Muhammad saw banyak jenisnya, yaitu:

Perbuatan yang merupakan penjelasan dari peraturan yang belum jelas cara pelaksanaannya seperti cara shalat dan cara menghadap kiblat dalam salat sunah di atas kendaraan yang sedang berjalan telah dipraktikkan oleh Nabi dengan perbuatannya di hadapan para sahabat.

Perbuatan yang dilakukan dalam rangka melaksanakan ketaatan terhadap sesuatu yamg diperintahkan sebagaimana hal itu terjadi pada seluruh umatnya.

Tetapi tidak semua perbuatan nabi Muhammad saw itu merupakan syariat yang harus dilaksanakan oleh semua umatnya. Ada perbuatan-perbuatan Nabi saw yang hanya spesifik untuk dirinya bukan untuk ditaati oleh umatnya. Hal itu karena adanya suatu dalil yang menunjukkan bahwa perbuatan itu memang hanya spesifik untuk Nabi saw. Adapun perbuatan-perbuatan Nabi saw yang hanya khusus untuk dirinya atau tidak termasuk syariat yang harus ditaati antara lain ialah sebagai berikut.

a. Rasulullah saw diperbolehkan menikahi perempuan lebih dari empat orang dan menikahi perempuan tanpa mahar. Sebagai dalil adanya dispensasi menikahi perempuan tanpa mahar ialah firman Allah swt sebagai berikut.

Artinya:.. dan Kami halalkan seorang wanita mukminah menyerahkan dirinya kepada Nabi bila Nabi menghendaki menikahinya sebagai suatu kelonggaran untuk engkau bukan untuk kaum beriman umumnya.

b. Sebagian perbuatan beliau pribadi sebagai manusia. Seperti makan minum berpakaian dan lain sebagainya. Tetapi kalau perbuatan tersebut memberi suatu petunjuk tentang tata cara makan minum berpakaian dan lain sebagainya menurut pendapat yang lebih baik sebagaimana dikemukakan oleh Abu Ishaq dan kebanyakan para ahli hadis hukumnya sunah.

Ketiga, sunnah taqririyah(ketetapan), yang dimaksud dengan sunnah taqririyah ialah keadaan beliau mendiamkan tidak mengadakan sanggahan atau menyetujui apa yang telah dilakukan atau diperkatakan oleh para sahabat di hadapan beliau baik berupa diamnya beliau atau dengan diucapkannya.

Contoh yang berupa diamnya beliau terhadap perbuatan sahabat adalah dalam suatu jamuan makan sahabat Khalid bin Walid menyajikan makanan daging biawak dan mempersilakan kepada Nabi untuk meni’matinya bersama para undangan.

Rasulullah saw menjawab Tidak . Berhubung binatang ini tidak terdapat di kampung kaumku aku jijik padanya! Kata Khalid Segera aku memotongnya dan memakannya sedang Rasulullah saw melihat kepadaku. .

Contoh lain adalah diamnya Nabi terhadap perempuan yang keluar rumah berjalan di jalanan pergi ke masjid dan mendengarkan ceramah-ceramah yang memang diundang untuk kepentingan suatu pertemuan.

Adapun yang termasuk taqrir qauliyah yaitu apabila seseorang sahabat berkata aku berbuat demikian atau sahabat berbuat begitu di hadapan Rasul dan beliau tidak mencegahnya. Tetapi ada syaratnya yaituperkataan atau perbuatan yang dilakukan oleh seorang sahabat itutidak mendapat sanggahan dan disandarkan sewaktu Rasulullah saw masih hidup dan orang yang melakukan itu orang yang taat kepada agama Islam. Sebab diamnya Nabi terhadap apa yg dilakukan atau diucapkan oleh orang kafir atau munafik bukan berarti menyetujuinya. Memang sering nabi mendiamkan apa-apa yang diakukan oleh orang munafik lantaran beliau tahu bahwa banyak petunjuk yang tidak memberi manfaat kepadanya.

Keempat, sunnah yang berupa Sifat-Sifat Keadaan-Keadaan dan Himmah Rasulullah saw, Sifat-sifat beliau yg termasuk unsur sunnah ialah sebagai berikut.

a. Sifat-sifat beliau yang dilukiskan oleh para sahabat dan ahli tarikh seperti sifat-sifat dan bentuk jasmaniah beliau yang dilukiskan oleh sahabat Anas r.a. sebagai berikut. Rasulullah saw itu adalah sebaik-baik manusia mengenai paras mukanya dan bentuk tubuhnya. Beliau bukan orang tinggi dan bukan pula orang pendek. .

b. Silsilah-silsilah nama-nama dan tahun kelahiran yang telah ditetapkan oleh para sahabat dan ahli sejarah. Contoh mengenai tahun kelahiran beliau seperti apa yang dikatakan oleh Qais bin Mahramah r.a. Aku dan Rasulullah saw. dilahirkan pada tahun gajah.

c. Himmah beliau yang belum sempat direalisasikan misalnya hasrat beliau untuk berpuasa pada tanggal 9 Asyura seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a. Tatkala Rasulullah saw berpuasa pada hari Asyura para sahabat menghadap kepada Nabi, mereka berkata ‘Ya Rasulullah saw hari ini adalah yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani.’ kemudian Rasulullah saw berkata:‘Tahun yang akan datang Insya Allah aku akan berpuasa tanggal sembilan’. .Tetapi Rasulullah saw tidak menjalankan puasa pada tahun depan karena wafat.

Menurut Imam Syafii dan rekan-rekannya menjalankan himmah itu disunahkan karena ia termasuk salah satu bagian sunnah yakni sunnah hammiyah.

Sunnah Adalah Wahyu

Sunnah dengan pengertian setiap yang dinisbatkan kepada Nabi berupa perkataan, perbuatan atau persetujuan, adalah salah satu dari dua macam wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah saw, sementara yang lainnya adalah wahyu al-Qur’an yang merupakan ucapan Allah swt yang diturunkan kepada Rasulullah saw, adapun dalil yang menunjukannya adalah:

Dalam al-Qur’an:

Allah berfirman,

“Dia (Muhammad) tidak sama sama sekali mengucapkan sesuatu sesuai dengan hawa nafsunya, apa yang dia ucapkan adalah sebuah wahyu yang diberikan kepadanya.” (An-Najm: 3-4).

Dalam hadis:

“Saya telah diberikan al-Qur’an dan yang semacamnya, bukankah suatu saat ada seorang yang perutnya kenyang diatas pembaringannya kemudian berkata, “Hendaklah kalian mengambil apa yang berasal dari al-Qur’an, apa yang dihalalkan olehnya maka halalkanlah dan apa yang diharamkan olehnya maka haramkanlah, ketahuilah sesungguhnya apa yang diharamkan oleh Rasulullah sama derajatnya dengan apa yang diharamkan oleh Allah.”[13]

 

Sumber rujukan:

  1. Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits,
    Pustaka Rizki Putra, Semarang, Cet. Kedua, 1998.
  2. Qowa’idut-Tahdits karya Al-Qasimi hal. 64.
  3. Ushulul Ahkam karya Al-Amidi 1/169.
  4. Syarhul Kaukab Al-Munir 2/160.

 

 

BAGI
Artikel SebelumnyaAmbisi Akhirat
Artikel BerikutnyaNikah Siri Yes Atau No?