Sumpah

0
28 views

Dalam bahasa Arab sumpah disebut dengan al-aimanu, al-halfu, al-qasamu. Al-aimanu jama’ dari kata al-yamiinu (tangan kanan) karena orang Arab di zaman Jahiliyah apabila bersumpah satu sama lain saling berpegangan tangan kanan. Kata al-yamiinu secara etimologis dikaitkan dengan tangan kanan yang bisa berarti al-quwwah (kekuatan), dan al-qasam (sumpah). Dikaitkan dengan kekuatan (al-quwwah), karena orang yang ingin mengatakan atau menyatakan sesuatu dikukuhkan dengan sumpah sehingga pernyataannya lebih kuat sebagaimana tangan kanan lebih kuat dari tangan kiri. Sedangkan sumpah menurut kamus besar Indonesia adalah Pernyataan, janji atau ikrar yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Allah swt untuk menguatkan kebenaran dan kesungguhan.

Hukum Bersumpah

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum bersumpah. Pendapat-pendapat itu antara lain :

  1. Imam Malik berpendapat bahwa hukum asal sumpah adalah ‘jaiz‘(boleh). Hukumnya bisa menjadi sunnah apabila dimaksudkan untuk menekankan suatu masalah keagamaan atau untuk mendorong orang melakukan sesuatu yang diperintahkan agama, atau melarang orang berbuat sesuatu yang diperintahkan agama, atau melarang orang berbuat sesuatu yang dilarang agama Jika sumpah hukumnya mubah, maka melanggarnya pun mubah, tetapi harus membayar kafarat (denda), kecuali jika pelanggaran sumpah itu lebih baik.
  2. Imam Hambali berpendapat bahwa hukum bersumpah itu tergantung kepada keadaannya. Bisa wajib, haram, makruh, sunnah ataupun mubah. Jika yang disumpahkan itu menyangkut masalah yang wajib dilakukan, maka hukum bersumpahnya adalah wajib. Sebaliknya jika bersumpah untuk hal-hal yang diharamkan, maka hukum bersumpahnya juga sunnah dan seterusnya.
  3. Imam Syafi’i berpendapat hukum asal sumpah adalah makruh. Tetapi bisa saja hukum bersumpah menjadi sunnah, wajib, haram, atau mubah. Tergantung pada keadaaanya
  4. Menurut Imam Hanafi asal hukum bersumpah adalah ‘jaiz‘, tetapi lebih baik tidak terlalu banyak melakukan sumpah. Jika seseorang bersumpah akan melakukan maksiat, wajib ia melanggar sumpahnya. Jika seseorang bersumpah akan meninggalkan maksiat maka ia wajib melakukan sesuai dengan sumpahnya.

Syarat dan rukun sumpah

Rukun sumpah ada 4, yaitu:

  1. Muqsim(pelaku sumpah)
  2. Muqsam Bih(sesuatu yang dijadikan landasan/dasar sumpah)
  3. Adat Qasam(alat untuk bersumpah)
  4. Muqsam ‘Alaih(sesuatu yang disumpahkan)

 

Sumpah diketegorikan sah apabila terpenuhi syarat-syaratnya yaitu:

Pertama, Menyebut nama Allah swt atau salah satu sifatnya. Rasulullah saw bersabda:

مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللَّهِ أَوْ لِيَصْمُتْ.

“Sesiapa yang ingin bersumpah, maka bersumpahlah atas nama Allah atau (jika tidak) maka diamlah.”

Kedua, Orang yang bersumpah sudah mukallaf.

Ketiga, Tidak dalam keadaan terpaksa dan disengaja dengan niat untuk bersumpah.

Pelanggaran sumpah

Ada beberapa kategori pelanggaran dalam sumpah diantaranya:

  1. Jika seseorang bersumpah dengan sesuatu selain Allah swt, nama-nama Allah swt atau sifat-sifat Allah swt, sumpahnya tidak sah dan dia telah menyekutukan Allah swt. Ini adalah dosa syirik yang tidak akan diampuni oleh Allah swt jika orang itu tidak bertaubat. Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa yang bersumpah dengan menggunakan selain nama Allah maka sungguh dia telah berbuat kesyirikan.” (HR. Abu Daud no. 2829 dan At-Tirmizi no. 1455)

  1. Apabila seseorang bersumpah, kemudian sumpahnya itu dilanggar, maka dia wajib membayar kifarat (denda pengampun kesalahan). Tentang kifarat ini boleh memilih antar tiga perkara, yaitu:
  2. Memberi makan sepuluh orang miskin dengan makanan yang sah untuk fitrah, tiap-tiap orang seperempat gantang fitrah (kira-kira ¾ liter)
  3. Atau memberi pakaian 10 orang miskin, pakaian apa saja yang sesuai dengan keadaan mereka yang diberi.
  4. Atau memerdekakan hamba sahaya.

Jika ia tidak mampu membayar salah satu dari tiga perkara tersebut di atas, dia boleh berpuasa selama tiga hari. Sebagaimana firman Allah swt,

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).(QS. Al-Maidah[5]: 89)

Referensi:

  1. Manna’ Khalil Qathan, Study Ilmu-Ilmu Qur’an, terj. Mudzakir AS(Jakarta: PT Pustaka Litera Antarnusa, 2014)
  2. Nashrudin Baidan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005)
BAGI
Artikel SebelumnyaEsa
Artikel BerikutnyaAs(h)li