Sujud Tilawah, Rukun Shalat Tak Teratur?

0
51 views

behesti.wordpress.comAda beberapa hal yang terjadi pada masyarakat, tapi hal itu meragukan saya, karena itu ingin saya tanyakan duduk masalahnya. Diantaranya:

Pertama, Di dalam shalat berjamaah, imam membaca surat yang di dalamnya terdapat ayat sajadah yang bila berjumpa dengan ayat itu maka kita disunnahkan untuk sujud tilawah. Kalau di luar shalat bagi saya tidak ada masalah, tapi bagaimana kalau di dalam shalat, apakah hal ini tidak berarti mengganggu rukun shalat, apakah yang sunnah bisa mengalahkan yang rukun, apakah hal itu tidak menambah rukun atau sunat di dalam shalat?

Kedua, Suatu ketika, seseorang memperoleh uang haram, uang itu dibelikan ayam untuk diternak hingga ayamnya makin banyak, lalu dibelikan juga kambing hingga peternakan maju, dia bisa bangun rumah, menyekolahkan anak. Karena sudah merasa cukup dia ingin bertaubat, bagaimana taubatnya itu, apakah uang yang dulu menjadi modal dikeluarkan dulu, padahal hartanya sudah bercampur ANTARA YANG HALAL dengan yang haram?

Ketiga, Seorang anak disekolahkan oleh pamannya hingga ia mendapatkan pekerjaan, tentu saja sang anak ingin membalas jasa kepada pamannya, tapi dianggap sepele saja mengingat sang paman memang orang yang mampu. Langkah apa yang harus dilakukan agar hasil yang diperolehnya tetap mendapat berkah dan tidak menyalahi agama?

Demikian hal ini saya sampaikan, atas jawaban pengasuh saya ucapkan terima kasih.

Wassalam

Nur Salim, Jambi

Jawaban Pengasuh.

Shalat merupakan salah satu ibadah yang segala ketentuan dan tata caranya sudah ditetapkan oleh Allah swt dan Rasul-Nya. Salah satu dalil yang bisa kita jadikan sebagai rujukan adalah satu hadits yang artinya: “Dari Abi Rafi’ Ash Shaigh, ia berkata: Aku pernah shalat isya bersama Abu Hurairah, lalu ia membaca idzassamaa-un-syaqqat, kemudian dia sujud dalam surat tersebut, maka aku bertanya: apa ini?. Ia menjawab: Aku pernah sujud dalam surat tersebut di belakang Abu Qasim (Nabi Muhammad)Saw, karena itu aku terus menerus sujud dalam surat tersebut hingga aku bertemu dia (di akhirat)” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas menunjukkan bahwa bila bertemu dengan ayat-ayat sajadah, maka Rasulullah sujud meskipun hal ini di dalam shalat dan hal itu tidak sampai mengganggu rukun-rukun di dalam shalat, begitu juga dengan sujud sahwi yang dilakukan sesudah tasyahud akhir sebelum salam. Dengan begitu yang sunat memang tidak boleh mengalahkan yang wajib atau rukun tapi dalam soal ini bukan berarti yang sunat mengalahkan yang rukun karena ada contohnya dari Rasulullah saw.

Tentang orang yang memperoleh uang haram, pada hakikatnya uangnya sendiri tidak bersalah, jadi uangnya tidak perlu dibakar atau disobek, yang salah adalah cara mendapatkannya dan memperbaikinya dengan taubat. Tapi kalau mendapatkan uang yang tidak halal itu dengan cara mencuri, maka uang hasil curian itu harus dikembalikan kepada orang yang dicuri. Kalau uang itu sudah dijadikan sebagai usaha, maka kepada orang yang dicuri minta diikhlaskan setelah hasilnya dibagi dua, ambillah kesepakatan bahwa uang yang dicuri itu merupakan modal yang keuntungannya dibagi dua. Tapi kalau uang haram dari cara-cara lain, misalnya judi dan sejeniny, maka yang penting orang yang memperolehnya harus bertaubat. Tentu saja harta yang semakin banyak itu harus dizakatkan sebagai pembersih dari kekotoran. Akhirnya hanya Allah yang tahu, apakah dia bisa membersihkan hartanya atau tidak, yang penting dia telah bertaubat yang sesungguh-sungguhnya.

Adapun anak yang disekolahkan oleh pamannya karena orang tuanya sudah tidak ada atau tidak mampu, memang menjadi kewajiban sang paman untuk membantu keluarganya yang susah dan dalam menolong keluarganya yang susah itu, tidak boleh terpikir dalam benaknya bahwa sang anak harus membalas jasa kelak dikemudian hari. Kalau dikemudian hari sang anak bisa memberikan uang ala kadarnya sebagai tanda balas jasa maka sang paman harus menerimanya dengan senang hati, kalau ternyata sang paman sudah berkecukupan, maka alihkan dana itu misalnya untuk bea siswa kepada orang-orang yang miskin sehingga pahalanya akan bertambah besar.

Anak yang sudah bekerja itu harus bekerja sebagaimana biasa, bekerja dengan baik. Jangan terpikir dalam benaknya karena dia harus membalas jasa pamannya dalam jumlah yang besar, maka dia harus mencari tambahan penghasilan meskipun caranya tidak benar, inilah yang tidak dibenarkan.