Strategi Dakwah kepada Orang Miskin

0
26 views

Poor community: JP/R. Berto WedhatamaMasalah kemiskinan adalah masalah yang krusial dalam alam pembangunan di Indonesia saat ini. Begitu juga dalam dunia dakwah. Masalah kemiskinan seringkali menjadi alasan terhambatnya kesuksesan kegiatan dakwah di negeri ini. Namun, mengingat bahwa kemiskinan sangat dekat dengan kekufuran, maka seruan dakwah tetap harus diintensifkan bagi orang-orang miskin.

Oleh karena itu, agar dakwah itu dapat berhasil dengan baik, maka kita perlu mengenal kebutuhan-kebutuhan mereka dan melakukan strategi dengan baik. Secara lebih rinci, inilah beberapa strategi dakwah yang bisa diterapkan pada orang-orang miskin.

Pertama, karena masalah utama orang miskin adalah berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasarnya (makan, minum, istiahat), maka kegiatan dakwah harus diiringi oleh fasilitas yang meringankan kebutuhan dasar tersebut. Sudah saatnyalah kaum muslimin mulai bekerja keras menyediakan tenaga dan dana yang dapat meringankan beban kelompok miskin.

Kedua, oleh karena keluarga miskin kurang mampu menyediakan stimulasi mental (seperti permainan atau bacaan yang merangsang kreativitas), maka kegiatan dakwah harus diiringi dengan kegiatan stimulus mental tersebut. Dengan demikian, anak-anak dari kelompok keluarga miskin ini dapat meningkatkan kecerdasannya. Dengan terpupuknya kecerdasan ini, diharapkan si anak mampu bersaing untuk memperoleh pendidikan di jenjang yang lebih tinggi.

Di negara-negara yang sudah maju, pemerintah menyediakan fasilitas untuk mengembangkan kecerdasan ini. Pemerintah Amerika Serikat mengadakan program heart start, yang tujuannya memberikan stimulasi mental sedini mungkin bagi anak-anak dari keluarga miskin (disadvantage-group). Di Indonesia, Unicef telah membantu proyek yang serupa, dengan menyediakan fasilitas permainan bagi anak-anak dari kelompok miskin.

Dakwah Islam dapat menggunakan kesempatan tersebut, misalnya dengan meminjamkan alat-alat yang memberikan rangsangan mental tersebut. Jadi, sambil memberikan rangsangan mental, kita menyampaikan dakwah Islam kepada kelmpok miskin.

Ketiga, sekolah-sekolah Islam, khususnya sekolah yang memiliki kualitas disamakan dengan sekolah negeri, mulai dari tingkat TK hingga PT, seyogyanya menyediakan jatah untuk kelompok miskin. Terutama untuk sekolah menengah atas dan perguruan tinggi, maka yang dipilih adalah anak-anak dari kelompok miskin yang mempunyai potensi akademik yang cukup tinggi. Bila mungkin tanpa dipungut bayaran atau dengan bayaran yang minimal.

Keempat, melakukan pengerahan dana lewat yayasan non-profit untuk menyediakan beasiswa untuk kelompok miskin, dengan imbalan si penerima beasiswa akan menjadi juru dakwah di kemudian hari.

Kelima, memperbanyak latihan kerja siap pakai. Dakwah Islam diselipkan di antara dan di dalam kegiatan tersebut.

Keenam, menerjuni kegiatan-kegiatan yang siap pakai dan memenuhi hajat hidup orang banyak. Misalnya penyediaan sumber air bersih, teknologi tepat guna dan lain-lain bagi kelompok miskin. Hal demikian telah banyak dilakukan oleh kelompok LSM yang seringkali dimotori oleh tokoh-tokoh agama non-Islam. 

Ketujuh, tentu saja kegiatan rutin lewat kegiatan ukhuwah Islamiyah seperti lewat pengajian, mengunjungi keluarga miskin, membayar zakat, sedekah dan lain-lain perlu dibina dan dikoordinasikan dengan baik.

Kedelapan, melakukan dakwah dengan penekanan pada pemupukan jiwa optimis, tidak mudah putus asa, dan kerja keras. Di dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut. Hal yang demikian amat perlu dilakukan karena kelompok misin biasanya memiliki aspirasi hidup yang rendah, mudah putus asa, dan pesimis. Hal yang demikian dapat menimbulkan motivasi untuk bekerja keras.

sumber:

info buku

 

Judul Buku  : Psikologi Islami; Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi

Penulis        : Dr. Djamaludin Ancok dan Fuat Nashori Suroso

Penerbit      : Pustaka Pelajar, Yogyakarta