Split Personality

0
12 views

split personalityKeimanan adalah refleksi dan manifestasi dari pembenaran hati, pengikraran/pengakuan lisan, dan pengamalan sikap/tindakan. Sejatinya seorang mukmin adalah seorang yang menyatu antara hati, pikiran, ucapan, dan perbuatannya. Tidak ada pertentangan antara satu dan lainnya.

Akhlak adalah buah dari iman, semakin berkualitas akhlak seseorang, menggambarkan keimanan yang terpancang kokoh dalam hatinya, ia tidak hanya rajin shalat dan taat beribadah tapi juga shaleh dalam bermuamalah. 

Perilaku atau akhlak manusia (human behaviour) memang selalu menarik untuk dikaji. Terlebih dalam agama Islam yang Nabinya yakni Muhammad saw diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dan sejarah membuktikan kesuksesan Nabi mempengaruhi perilaku, peradaban dan kebudayaan manusia.

Namun demikian, sungguh sangat memprihatinkan jika kita bandingkan dengan realitas sosial kita saat ini. Betapa tidak, ternyata kejahatan, kecurangan, korupsi, kriminalitas, dan bentuk kezaliman lainnya ternyata mudah sekali ditemukan di negeri ini yang katanya negeri berpenduduk muslim terbanyak sedunia. Mengapa demikian?

Kalau negara kita disebut sebagai negara yang sakit, maka itu sumbernya adalah kepribadian penduduknya yang tidak sehat. Islam sebagai penuntun dan pedoman hidup terbaik menuju kehidupan dunia dan akhirat yang indah tertutupi oleh penganutnya yang tidak menjalankan Islam secara kaffah (utuh/total).

Betapa banyak kaum muslimin yang tidak memiliki kepribadian utuh yang tidak memisah dan memilah satu kegiatan dengan kegiatan lainnya. Baik dan jujur ketika di masjid, tetapi menipu ketika melakukan kegiatan ekonomi; baik dan jujur ketika beribadah, tetapi berlaku zalim dan korup ketika memiliki jabatan.

Mereka itulah yang memiliki kepribadian ganda/terpecah (split personality). Mereka mengaku beragana Islam, namun tidak melaksanakan ajaran agama Islam dengan semestinya. Dalam bahasa populer mereka disebut sebagai ”Islam STMJ (shalat terus maksiat jalan)” Islam Kambuhan, Islam Formalitas (Islam KTP), serta yang oleh Clifford Geertz disebut sebagai Islam Abangan.

Kondisi ini tentunya sangat memprihatinan. Karena itu, kegiatan dakwah yang mengantarkan seseorang dan umat untuk memiliki kepribadian utuh harus terus menerus digalakkan dan ditumbuhkembangkan sehingga suasana keislaman tidak hanya ada di masjid dan mushala, tetapi juga di pasar, gedung-gedung pemerintah, di tempat kegiatan kehidupan lainnya. Wallahu a’lam bishawab.