Spiritualitas Internet

0
43 views

Oleh Abd. Muid N.

Suatu hari (dahulu kala) saya bergegas masuk ke sebuah warnet dekat rumah. Ada data yang harus dikirim segera. Di depan warnet duduk salah seorang tetangga berusia sekitar 60-an menyapa, “Hei, mo ke mana?” “Maen internet,” jawabku cepat karena terburu-buru. Dia tersenyum dan berkata, “Kayak anak-anak aja.”

Komentarnya cukup membuatku heran. Namun itu tidak lama karena di dalam warnet yang saya tuju itu memang penuh sesak dengan anak-anak seusia SD dan SMP yang asyik bermain game on line. Bagi tetangga berusia 60-an itu, internet adalah mainan anak-anak. Mungkin ada benarnya.

Di saat yang berbeda, saya mendengar seorang anak muda yang berkata kepada kawannya, “Ke warnet, yuk!” Kawannya menyapa sambil tersenyum penuh arti, “Mo liat ituan, ya?” Ituan apa? Mungkin ada benarnya juga. Tapi sedemikian muramkah wajah dunia maya itu?

Tulisan ini tidak bermaksud membela atau tidak membela internet. Mau tidak mau harus diakui banyak sisi positif yang dibawa oleh internet dan tentu juga sisi negatif. Jika hanya itu persoalannya maka, internet seharusnya bukan benda aneh yang patut menjadi kontroversi karena banyak benda atau hal yang mempunyai sisi positif dan negatif sekaligus, bukan hanya internet (dan bukan hanya Facebook). Bahkan pisau dapur juga punya sisi negatif jika dipakai membunuh.

Ok, anak-anak di bawah umur bisa dengan mudah mengakses gambar-gambar porno; namun juga ok bahwa di dunia maya bertebaran situs-situs dakwah, pendidikan dan informasi. Bahkan konon internet bisa dipakai sebagai wahana peningkatan taraf spiritualitas.

Internet kini telah menjadi semacam kiblat baru bagi manusia. Kiblat di mana mereka menghabiskan waktu (dan juga menghabiskan uang) memperhadapkan wajahnya dengan khusyuk. Bisa dikata internet itu mempunyai sisi spiritualitas juga.

Jika spiritualitas selama ini dianggap sebagai segala hal yang tidak berkaitan dengan jasmani, maka internet adalah salah satu contoh yang paling kongkret untuk hal itu. Di depan internet, jasmani tidak lagi pernah dihitung dan dianggap. Seorang yang hanyut alam gelombang dunia maya (surfing) akan sangat mudah lupa makan dan minum; kalaupun tidak lupa, maka akan dilakukan sekadarnya karena mata dan segenap jiwa raga terpaku ke layar komputer.

Di hadapan internet, seorang manusia bahkan bisa menanggalkan status seksualnya. Dia bisa saja berperan sebagai perempuan, laki-laki, maupun gay. Semau dia. Bisa berlagak sebagai orang Betawi meski sebenarnya dia orang Bugis, berlagak bule padahal mungkin sebenarnya dia orang Tegal asli. Bahkan belagak ustadz walau sebenarnya dia maling. Bukankah itu semacam spiritualitas? Saat atribut-atribut jasmani ditanggalkan. Atau sebenarnya internet adalah dunia parodi? Di dunia internet/maya ada maling yang berlagak ustadz. Di dunia nyata juga ada, kan? Dunia mana yang tiruan bagi dunia lainnya? Apakah dunia maya adalah tiruan dari dunia nyata, atau dunia nyata yang adalah tiruan bagi dunia maya?[]