Silaturahim

0
210 views

freepoison.wordpress.comSilaturahim berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata صِلَةٌ dan الرَّحِمُ . Kata صِلَةٌ adalah bentuk mashdar (gerund) dari kata وَصَلَ- يَصِلُ , yang berarti sampai, menyambung. Ar-Raghib Al-Asfahani berkata: وَصَلَ – الْاِتِّصَالُ  yaitu menyatunya beberapa hal, sebagian dengan yang lain.” Adapun kata الرَّحِمُ, Ibnu Manzhur berkata:الرَّحِمُ adalah hubungan kekerabatan, yang asalnya adalah tempat tumbuhnya janin di dalam perut.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : “Ar-rahim secara umum adalah dimaksudkan untuk para kerabat dekat. Antar mereka terdapat garis nasab , baik berhak mewarisi atau tidak, dan sebagai mahram atau tidak”.

Jadi, silaturahim artinya adalah menyambung tali persaudaraan kepada kerabat yang antara mereka terdapat garis nasab baik berhak mewarisi atau tidak, dan sebagai mahram atau tidak”.

Ada istilah lain yang lebih populer di masayarakat kita yaitu silaturahmi, istilah ini kalau kita merujuk pada makna dasarnya berasal dari dua suku kata,yaitu silah dan rahmi. Silah artinya menyambungkan, sedangkan rahmi artinya rasa nyeri luar biasa yang dirasakan ibu-ibu sebelum melahirkan anaknya. Menurut para ulama, yang benar adalah silaturahim, sesuai makna yang telah dijelaskan diatas.

Sarana Silaturrahim

Untuk menyambung tali persaudaraan antar kerabat dekat maka kita bisa menggunakan beberapa sarana yang kita punya, bisa dengan berkunjung kerumahnya, mencintai dan menyayangi saudara kita, duduk dalam majlis mereka, atau juga bisa menggunakan harta kita dengan memberikan bantuan kepada saudara kita baik dalam bentuk sodaqoh, atau yang lainnya, atau minimal kita senyum dan wajah kita berseri-seri ketika kita bertemu dengan saudara kita atau paling minimal sekali adalah dengan senantiasa mendoakan kebaikan untuk saudaranya.

Kepada siapa saja kita bersilaturahim ?

Sesuai maknanya tentunya kerabat terdekat kita yang ada garis nasab itu lebih diutamakan, selanjutnya tetangga kita terutama mereka yang seiman, bahkan jika ada kerabat kita yang suka berbuat maksiat maka kita tetap punya kewajiban untuk bersilaturahim, berbuat baik kepada mereka karena Islam tidak melarang berbuat baik kepada kerabat dekat yang suka berbuat maksiat, bahkan hingga kepada orang-orang kafir. Allah swt berfirman.

لَا يَنْهَاكُمُ اللهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”                                  (QS. Al-Mumtahanah[60]:8).

Demikian pula sebagaimana disebutkan dalam hadis Asma’ binti Abi Bakar Radhiyallahu ‘anhuma yang menanyakan Rasulullah saw untuk bersilaturrahim kepada ibunya yang musyrik. Dalam hadis itu diantaranya disebutkan.

قَدِمَتْ أُمِّي وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فِي عَهْدِ قُرَيْشٍ …. فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أُمِّي قَدِمَتْ وَهِيَ رَاغِبَةٌ، أَفَأَصِلُهَا؟ قَالَ: نَعَمْ، صِلِي أُمَّكِ

“Ibuku datang dalam keadaan masih musyrik, di waktu perjanjian damai yang disepakati orang Quraisy. Maka aku datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya: ‘Wahai Rasulullah, ibuku datang dan ia ingin berbuat baik. Bolehkah aku berbuat baik kepadanya?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Ya, berbuat baiklah kepada ibumu’.” (HR. Ahmad 6/344, Al-Bukhari, Kitabul Adab bab (7) no. 5978 dan 5979, Muslim Kitabuz Zakat (50) no. 2322).

Tetapi, itu bukan berarti harus saling mencintai dan menyayangi, duduk-duduk satu majlis dengan mereka, bersama-sama makan dengan mereka serta bersikap lembut dengan orang-orang kafir dan ahli maksiat tersebut. Allah swt berfirman.

“Artinya : Kamu tidak akan mendapati satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun rang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka”.

Imam Ar-Razi memaknai ayat diatas bahwasanya tidak akan bertemu antara iman dengan kecintaan kepada musuh-musuh Allah swt. Karena jika seseorang mencintai orang lain maka tidak mungkin ia akan mencintai musuh orang tersebut.

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat tersebut berkata : “Artinya, mereka tidak saling mencintai dengan orang yang suka menentang , bahkan meskipun mereka termasuk kerabat dekat”.

Sebaliknya, silaturrahim dengan mereka adalah dalam upaya untuk menghalangi mereka agar tidak mendekat kepada Neraka dan menjauh dari Surga. Tetapi, bila kondisi mengisyaratkan bahwa untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan cara memutuskan hubungan dengan mereka, maka pemutusan hubungan tersebut -dalam kondisi demikian- dapat dikategorikan sebagai silaturrahim.

Dalam hal ini, Imam Ibnu Abi Jamrah berkata : “Jika mereka itu orang-orang kafir atau suka berbuat dosa maka memutuskan hubungan dengan mereka karena Allah adalah silaturrahim dengan mereka. Tapi dengan syarat telah ada usaha untuk menasehati dan memberitahu mereka, dan mereka masih membandel. Kemudian, hal itu dilakukan karena mereka tidak mau menerima kebenaran. Meskipun demikian, mereka masih tetap berkewajiban mendo’akan mereka tanpa sepengetahuan mereka agar mereka kembali ke jalan yang lurus.

Keutamaan silaturahim

Pertama, Silaturahim merupakan salah satu tanda dan kewajiban iman. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah saw dalam hadis Abu Hurairah, beliau bersabda,

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah bersilaturahim.” (Mutafaqun ‘alaihi).

Kedua, Mendapatkan rahmat dan kebaikan dari Allah swt . Sebagaimana sabda Rasulullah saw ,

خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ فَلَمَّا فَرَغَ مِنْهُ قَامَتْ فَقَالَتْ هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنْ الْقَطِيعَةِ قَالَ أَلَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ قَالَتْ بَلَى يَا رَبِّ

Allah menciptakan makhluk-Nya, ketika selesai menyempurnakannya, bangkitlah rahim dan berkata,”Ini tempat orang yang berlindung kepada Engkau dari pemutus rahim.” Allah menjawab, “Tidakkah engkau ridha, Aku sambung orang yang menyambungmu dan memutus orang yang memutusmu?” Dia menjawab,“Ya, wahai Rabb.”” (Mutafaqun ‘alaihi).

Imam Nawawi berkata: “Para ulama berkata, ‘hakikat shilah adalah kasih-sayang dan rahmat. Sehingga, makna kata ‘Allah menyambung’ adalah ungkapan dari kasih-sayang dan rahmat Allah.” [Lihat syarah beliau atas Shahih Muslim 16/328-329]

Ketiga, Akan selalu berhubungan dengan Allah swt.

Dari Aisyah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Silaturahim itu tergantung di `Arsy (Singgasana Allah) seraya berkata: “Barangsiapa yang menyambungku maka Allah swt akan menyambung hubungan dengannya, dan barangsiapa yang memutuskanku maka Allah swt akan memutuskan hubungan dengannya” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Keempat, Membuat orang yang dikunjungi berbahagia. Hal ini amat sesuai dengan sabda Rasulullah saw, “Amal yang paling utama adalah membuat seseorang berbahagia.”

Kelima, silaturahim mempererat tali persaudaraan.

Silaturahim merupakan tulangpunggung dari tegaknya persaudaraan diantara ummat manusia hususnya antar sesama orang beriman, oleh karenanya sejak awaal kenabian Rasulullah saw senantiasa menegaskan tentang pentingnya silaturahim, hal ini ditegaskan dalam salah satu sabdanya:
Ali bin Anbasah berkata, “Saya menemui Nabi saw di Mekah pada awal kenabiannya dan bertanya kepada beliau: ‘Siapa engkau?’ Beliau menjawab, ‘Nabi.’ Saya bertanya lagi, “Siapakah Nabi?’ Beliau menjawab, ‘Allah mengutusku.’ Saya bertanya sekali lagi, ‘Untuk apa Dia mengutusmu?’ Beliau menjawab, ‘Dia mengutusku untuk memegang teguh tali silaturahim, menghancurkan berhala dan mengajari manusia bahwa Allah adalah Esa dan tiada sesuatu apa pun yang menyamai-Nya.” (HR Muslim)

Keenam, Memanjangkan usia, Menambah banyak dan berkah rezekinya.

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأُ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia menyambung tali silaturahimnya.” (HR. Al-Bukhari 10/348, Muslim no. 2558, Abu Dawud no. 1693)

Ketujuh, Balasan silaturahim lebih besar dari pada memerdekakan budak dan Allah swt menjanjikan surga untuknya diakhirat.

Diriwayatkan Ummul mukminin Maimunah binti al-Harits radhiyallahu ‘anha, bahwasanya dia memerdekakan budak yang dimilikinya dan tidak memberi kabar kepada Nabi saw sebelumnya, maka tatkala pada hari yang menjadi gilirannya, ia berkata: Apakah engkau merasa wahai Rasulullah bahwa sesungguhnya aku telah memerdekakan budak (perempuan) milikku? Beliau bertanya: “Apakah sudah engkau lakukan?” Dia menjawab: Ya. Beliau bersabda: “Adapun jika engkau memberikannya kepada paman-pamanmu  niscaya lebih besar pahalanya untukmu.” (HR Bukhari dan Muslim)

وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ

“Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS. Ar-Ra’d[13]: 21)

Ancaman Bagi orang yang memutuskan silaturahim

Di samping keutamaan dari silaturahim dan janji-janji, syariat juga melengkapi perintah untuk bersilaturahim dengan ancaman-ancaman keras bagi yang memutuskannya. Di antara ancaman-ancaman tersebut adalah:

Pertama, Laknat Allah swt dan tempat kembali yang buruk (neraka) bagi yang memutus tali silaturahim

Allah swt berfirman:

وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أُولَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).”(QS. Ar-Ra’d [13]: 25).

Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah saw sebagaimana dalam hadis dari Abu Muhammad Jubair bin Muth’im ra, bahwa beliau saw bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ. قَالَ سُفْيَانُ فِي رِوَايَتِهِ: يَعْنِي قَاطِعَ رَحِمٍ

“Tidak akan masuk surga, orang yang memutuskan.” Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu mengatakan dalam riwayatnya: “Maksudnya, orang yang memutuskan tali silaturahim.” (HR. Al-Bukhari 10/347 dan Muslim no. 2556)

Kedua, Dijadikan buta dan tuli

Allah swt berfirman:

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ. أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan silaturahim kalian? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.”        (QS. Muhammad[47]: 22-23).

Ketiga, Orang yang memutuskan silaturahim segera mendapatkan azab di dunia dan akhirat

Dari Abu Bakrah ra, dia mengatakan: Rasulullah saw bersabda:

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِثْلُ الْبَغْيِ وَقَطِيْعَةِ الرَّحِمِ

“Tidak ada dosa yang pantas untuk disegerakan hukumannya oleh Allah bagi pelakunya di dunia bersamaan dengan (hukuman) yang disimpan untuknya di akhirat, daripada kezaliman dan pemutusan silaturahim.” (HR. Ahmad, 5/36, Abu Dawud, Kitabul Adab (43) no. 4901, dan ini lafadz beliau, At-Tirmidzi dalam Shifatul Qiyamah no. 1513, dan beliau mengatakan hadits ini shahih, Ibnu Majah dalam Kitab Az-Zuhd bab Al-Baghi, no. 4211)

Menyambung Silaturahim Bukan Sekadar Membalas

Banyak orang yang mengakrabi saudaranya setelah saudaranya mengakrabinya. Mengunjungi saudaranya setelah saudaranya mengunjunginya. Memberikan hadiah setelah ia diberi hadiah, dan seterusnya. Dia hanya membalas kebaikan saudaranya. Sedangkan kepada saudara yang tidak mengunjunginya –misalnya– tidak mau dia berkunjung. Ini belum dikatakan menyambung tali silaturahim yang sebenarnya. Yang disebut menyambung tali silaturahim sebenarnya adalah orang yang menyambung kembali terhadap orang yang telah memutuskan hubungan kekerabatannya. Hal ini dijelaskan Rasulullah saw dalam hadis Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Bukanlah penyambung adalah orang yang hanya membalas. Tetapi penyambung adalah orang yang apabila diputus rahimnya, dia menyambungnya.” {HR. Al-Bukhari, Kitabul Adab bab (15) Laisal Washil bil Mukafi, no. 5991}

Kunci Silaturahim

Untuk memudahkan kita bersilaturahim, baiknya kita perhatikan firman Allah swt berikut ini:

 “Hai orang-orang yang beriman, siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya, yang bersikap adzillah (lemah lembut) terhadap orang mukmin, yang bersikap ‘izzah (keras) terhadap orang-orang kafir….” (QS.Al-Maidah[5]: 54).

Setidaknya, ada tiga persiapan yang mesti diambil agar silaturahim tidak terasa berat. Pertama, murnikan keinginan bersilaturahim hanya karena Allah swt. Ikatan hati yang terjalin antara dua mukmin adalah karena anugerah Allah swt. Ikatan inilah yang menembus beberapa hati yang berbeda warna menjadi satu cita dan rasa. Sebuah ikatan yang sangat mahal.

Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah swt telah mempersatukan hati mereka….” (QS. Al-Anfal[8]: 63)

Jangan pernah selipkan maksud-maksud lain dalam silaturahim. Karena disitulah celah setan memunculkan kekecewaan. Ketika maksud itu tak tercapai, silaturahim cuma sekadar basa-basi. Silaturahim tinggallah silaturahim, tapi hawa permusuhan tetap ada.

Kedua, cintai saudara seiman sebagaimana mencintai diri sendiri. Inilah salah satu cara mengikis ego diri yang efektif. Ketika tekad ini terwujud, yang terpikir adalah bagaimana agar bisa memberi. Bukan meminta. Apalagi menuntut.

Akan muncul dalam nurani yang paling dalam bagaimana bisa memberi sesuatu kepada saudara seiman. Termasuk, memberi maaf. Meminta maaf memang sulit. Dan, akan lebih sulit lagi memberi maaf.

Hal inilah yang paling sulit dalam tingkat keimanan seseorang. Rasulullah saw. bersabda, “Tidak beriman seseorang di antara kamu, sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.”

Ketiga, bayangkan kebaikan-kebaikan saudara yang akan dikunjungi, bukan sebaliknya. Kerap kebencian bisa menihilkan kebaikan orang lain. Timbangan diri menjadi tidak adil. Kebaikan yang bertahun-tahun bisa terhapus dengan kesalahan semenit.

Maha Benar Allah dalam firmanNya, “…Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa….” (QS. Al-Maidah[5]: 8).

Tak ada yang pernah dirugikan dari silaturahim. Kecuali, tiupan angin ego yang selalu ingin dimanjakan. Karena, ulahnya tak lagi membuat tangkai-tangkai dahan berbenturan.

Referensi:

1.    Al-Mufradat fi Gharibil Qur`an, hal. 525

2.    Ibnu Manzhur , Lisanul ‘Arab

3.    Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim

4.    Imam Muslim, syarah Shahih Muslim 16/328-329

5.    Imam Bukhari, Shahih Bukhari

BAGI
Artikel SebelumnyaKomunikasi Kemasjidan
Artikel BerikutnyaCerita Cerai