Shock Therapy

0
113 views

Shock therapy adalah istilah yang cukup populer digunakan yang mengonotasikan ‘suatu lecutan atau cambukan yang membangunkan orang atau institusi yang ‘adem ayem’ melakukan penyimpangan atau kelalaian berlarut-larut tanpa mendapat sanksi apapun.

Ungkapan ‘shock therapy’ pada awalnya merupakan istilah kedokteran (medis) yang mempunyai nama lengkap ‘electric shock therapy.’Ini adalah metoda pengobatan penderita gangguan jiwa dengan cara ‘menyetrum’ otaknya dengan aliran listrik.

Cara pengobatan yang cukup ’sadis’ ini kemudian sempat beralih menjadi pemberian obat antidepressant dan pada akhirnya berubah wujud menjadi ’electroconvulsive therapy (ECT)’ dengan prosedur yang sudah jauh lebih ’manusiawi’ dibandingkan dengan tempo dulu.

Kata ’shock therapy’ mengalami perluasan dari terminologi medis menjadi wacana umum yang mengindikasikan perlu adanya peringatan yang lebih keras dan tegas terkesan ‘sadis’ untuk membangun dan mengembalikan kesadaran manusia.

Dalam konteks hukum Islam konsep shock terapi (terapi kejut) tersebut bisa dibandingkan dengan hukuman qishas untuk pembunuh, potong tangan untuk pencuri, rajam untuk pezina dsb. Hukuman tersebut tentunya diharapkan membuat jera tidak hanya buat buat pelakunya tapi juga untuk orang lain sehingga takut melakukan hal serupa. Karena hukuman dalam Islam juga berfungsi sebagai kontrol sosial.

Manusia diciptakan Tuhan dengan emosi dan hawa nafsu. Namun demikian bukan berarti manusia bebas mengikuti hasrat hewaninya. Untuk itu perlu saling mengingatkan, menasehati dalan kebaikan dan kesabaran. Tidak cukup beriman saja untuk menjadi manusia yang beruntung. Tapi juga harus beramal shaleh dan saling menasehati. Karena Adzab Tuhan turun tidak pandang bulu.

Bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir bandang dsb kalau itu dipandang sebagai shock terapi dari Allah swt, akan dirasakan oleh semua pihak tanpa membedakan kualitas keimanan secara pribadi. Lebih jauh dari itu semua, bencana alam tersebut bisa jadi sangat diperlukan untuk keseimbangan tidak hanya untuk kepribadian manusia agar kembali ke fitrahnya; tetapi juga bermanfaat untuk keseimbangan alam.

Semakin banyak bencana alam mengindikasikan alam kita sudah tua, rapuh, banyak kerusakan di sana sini dan sebagai teguran kepada manusia sebagai penghuninya yang berakal supaya tidak berleha-leha dalam kenikmatan duniawi, sadar bahwa dirinya adalah makhluk kecil yang tidak berdaya dihadapan kuasa-Nya, dan agar selalu menjaga kelestarian alam, sadar diri akan tugas, fungsi dan hakikat hidup nya baik sebagai ‘abdullah atau pun khalifah di muka bumi ini.

Oleh karena itu mari kita saling mengingatkan untuk lebih baik, maju bersama dalam beriman dan beramal shaleh sehingga terhindar dari kerugian hidup dunia dan akhirat (Baca: surah al-Ashr ayat 1-3). Wish We Luck. Semoga kita selalu sadar tanpa butuh ‘kejutan’. Aamiin.