Shiyam (Puasa)

0
51 views

Kata “puasa” dengan segala bentuknya, dalam bahasa Arab semuanya terambil dari akar kata yang sama, yakni sha-wa-ma. Dalam al-Qur’an kata yang digunakan untuk makna puasa, tersebut sebanyak 13 kali, paling sering digunakan kata shiyâm dan hanya satu kali dengan kata shaum.

Meski demikian , kata shaum mengandung makna lebih dibanding dengan shiyâm, yang dari segi bahasa maknanya berkisar pada “menahan” dan “berhenti” atau “tidak bergerak”. Pengertian kebahasaan ini dipersempit maknanya oleh hukum syari’at, sehingga shiyâm hanya digunakan untuk “manahan diri dari makan, minum, dan upaya mengeluarkan sperma dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari”, sedang shaum mencegah lebih dari apa yang tidak boleh dalam shiyâm, harus mencegah bicara, mendengar, melihat, dan bahkan mencegah pikiran, hal ini tersirat dalam al-Qur’an:

 Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah,” sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk tuhan yang maha pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapapun hari ini” (QS Maryam [19]: 26)

 

Puasa pada ayat di atas berkaitan dengan puasa pada prilaku manusia, dimana ada beberapa prilaku manusia yang harus dijaga dalam berpuasa:

 

Puasa Berbicara

Puasa bicara yang dimaksud ini bukan sekadar menahan lidah untuk mencaci, menggunjing, menghujat atau berbicara kotor lainnya, karena semua itu sudah terlarang meski tidak dalam keadaan puasa sekalipun.

Dalam puasa berbicara ini berarti kita hanya berbicara yang benar-benar perlu dan bermanfaat. Pada sebagian besar waktu, kita diam. Selanjutnya puasa bicara berarti tidak akan berbicara tentang sesuatu yang tidak kita pahami, tidak akan menjadi pengamat dan pakar dalam semua bidang. Saat ini, kita sering mendengar komentar dan uraian dari media massa yang justru menyebabkan masyarakat menjadi bingung, gelisah dan takut. Artinya komentar-komentar kita telah menyebabkan penderitaan banyak orang. Padahal Rasul menyatakan: ” orang Islam adalah seseorang yang orang lain selamat dari gangguan lidah dan tangannya.”

 

Puasa Mendengar

Puasa mendengar bukan hanya menghindarkan diri dari mendengarkan gossip, fitnah atau kata-kata kotor, karena semua itu jelas tidak boleh dilakukan walau saat tidak berpuasa. Puasa mendengar berarti berusaha sadar dan sungguh-sungguh menyeleksi apa yang kita dengar. Kita hanya mendengarkan apa yang dianggap manfaat. Jika disana banyak hal  yang bermanfaat, kita hanya akan mendengarkan yang paling manfaat saja.

 

Puasa Melihat

Puasa melihat adalah menjadikan penglihatan kita untuk tidak akan melihat sesuatu yang tidak perlu, atau bahkan mengurangi melihat sesuatu yang sebenarnya boleh dilihat, sebagaimana al-Qur’an mengajarkan orang-orang mukmin untuk menundukkan pandangan (QS An-Nur [24]: 30)

Puasa Pikiran

Puasa pikiran bukan hanya sekadar menahan pikiran-pikiran kotor dan jahat tetapi merupakan usaha secara sadar dan sungguh-sungguh untuk mengendalikan pikiran dan angan-angan yang bersifat materialistik, karena puasa pikiran ini bersifat batin, maka kita akan mencapai puasa pikiran ini apabila kita telah sukses dari puasa bicara, puasa mendengar, puasa melihat dan puasa atas indera-indera eksternal.

Dalam pandangan imam al-Ghazali, shaum inilah bentuk puasa yang sesungguhnya yang akan mengantarkan manusia kepada derajat taqwa,