Shalat yang Membugarkan Jiwa, Menenangkan dan Mencerahkan (1)

0
75 views

Oleh Saat Mobarok, Lc.

Hadirin Rahimakumullah….

Kaum muslimin yang berbahagia..

Betapa kita sangat layak mensyukuri kenikmatan Allah swt yang begitu melimpah, yang beitu indah kita rasakan, utamanya iman dan islam; iman yang menggerakkan diri kita untuk banyak berkarya kabajikan di tengah masyarakat, Islam yang menunjukkan dan menjadi pedoman setiap langkah yang kita ambil serta bagaimana kita menuntaskannya.

Begitu pula kenikmatan sehat yang pada hakekaynya juga merupakan ujian, semoga kita mampu mensikapinya dengan syukur dan sabar. Maka marilah kita panjatkan puji dan syukur kita kepada Allah swt, karena Dialah Yang senantiasa memberi kita kesempatan untuk berkarya,kekuatan untuk berbuat. Semoga dengan syukur kita, nikmat besar tersebut mampu menghantarkan kita menjadi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad saw, beserta keluarga, sahabat dan para penerusnya yang gigih memperjuangkan nilai-nilai kebenaran agar tegak di bumi-Nya hingga hari akhir nanti.

 

Sholat, yang menjadi salah satu rukun islam, selain menjadi pilar penguat keislaman seseorang bahkan masyarakat islam secara umum, memliki peran yang sangat ampuh dalam membugarkan ruhani penegaknya, bahkan juga fisik. Tentunya jika ditegakkan dengan penuh kesempurnannya. Namun kalau kita mau mencoba bermuhasabah melihat kenyataan yang terjadi, kita akan tersadarkan bahwa masih banyak orang yang menunaikan sholat namun belum mampu merasakan atau menikmati dampak yang semestinya ditimbulkan ketika seseorang melakukan dan mendirikan sholat. Ketika ibadah ini dilakukan dengan benar maka dari sekian dampak yang dilahirkannya adalah adanya kebugaran jiwa, ketenangan hati dan kesegaran jasmani. Ketenangan yang membuat seseorang akan mengarungi kehidupan ini dengan kenyamanan, dan pencerahan yang akan membuat seseorang gandrung kepada kebaikan dan enggan mengotori dirinya dengan keburukan.

Memang sholat itu sudah seharusnya melahirkan dampak positif bagi yang mendirikannya dengan benar. Inilah salah satu yang Allah swt gambarkan tentang pengaruh sholat pada seseorang,   

إنّ الإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعاً إذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعاً وَإذَا مَسَّهُ الخَيْرُ مَنُوْعاً إِلاَّ المُصَلِّيْنَ

”Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat”. (Al-Ma`arij : 19-22)

Begitupula sholat, ketika pelakunya tidak merasakan dampak apapun dari sholatnya maka pasti bukan sholat itu yang salah, namun ada yang salah dalam cara penyikapan pelakunya terhadap sholat. Demikianlah seharusnya shalat memberi dampak positif

Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah.

Agar sholat yang kita dirikan memiliki pengaruh positif, dapat membugarkan jiwa, menjadi penenang hati dan penenteram jiwa serta memberi pencerahan pada diri kita, inilah sembilan langkah yang perlu dilakukan :

Pertama; Bersihkan hati, lakukanlah dengan keikhlasan

Ketika seseorang melakukan ibadahnya dengan penuh keikhlasan, ia akan menjadi tenang karena hatinya hanya tertuju kepada Allah swt, hanya pujian-Nya yang ia damba. Maka disaat itu ia tidak lagi disibukkan oleh keresahan hati ketika manusia tidak memujianya, tidak menyanjungnya, hatinya akan merasa tenang karena semua yang dilakukanya adalah lillahi ta`ala bukan karena dan untuk manusia. Semuanya untuk Sang Pencipta semesta raya.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

\”Katakanlah: \”Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah
untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya;dan demikian itulah yang
diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)\”. (QS. Al-An\’aam : 162-163)

Kedua; Sadari Shalat sebagai sarana komunasi

Dalam satu hadits Qudsi yang termaktub dalam kitab shohih muslim, tergambar satu dialog antara Allah dengan hamba-Nya ketika shalat”.

”Allah swt berfirman, ‘Aku membagi shalat menjadi dua bagian, antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.

Jika seorang hamba membaca : “Alhamdulillahirabbil’alamin” -segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam’,

maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku memuji-Ku’

Jika dia membaca : “Arrahmaanirrahiimm” ‘yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang’

Allah berfirman, “Hamba-Ku menyanjungku”

Jika dia membaca : “Maaliki yaumiddin” ‘pemilik hari pembalasan’

Allah berfirman : ‘Hambaku mengagungkanku’

Jika dia membaca :”Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin” ‘hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan’

Allah berfirman : ‘Ini untuku-Ku dan untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku (mendapat) apa yang dia minta’.

Dan jika dia membaca : “Ihdinashiraathal mushtaqiim.. Shiraathalladzi an’amta ‘alaihim ghairil maghdhu bi’alaihi wa ladhaaallin… ‘ tunjukilah kami jalan yang lurus, (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat’.

Maka Allah berfir’man: ‘Ini untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.”  (Hadist Qudsi, riwayat Imam Muslim)

Sangat tegas adanya komunikasi antara seorang hamba dengan Allah swt dalam sholat, oleh karena itu, maka sekali lagi sadarilah kondisi ini, karena disinilah tempat kita memohon, menyampaikan harapan dan asa.

Ketiga; Hadirkan Hati

Segala aktifitas tanpa kesertaan hati didalamnya akan terasa hambar. Maka emosi dan hati perlu dihadirkan, seperti seseorang yang sedang menikmati satu tayangan cerita, dia menikmatinya karena ikut larut dalam suasana cerita tersebut, sadar atau tidak ia sedang menggunakan emosinya untuk merasakan alurnya. Demikian pula sholat, semakin terpadu kesertaan gerak fikir,fisik dan ruhani kita maka dampak dari sholat akan lebih bisa dirasakan, shalatpun tidak lagi terasa sebagai beban namum akan terasa sebagai kebutuhan primer yang menenteramkan. Maka berkomunikasilah dengan baik namun jangan pernah lupa untuk menghadirkan hati dan rasa.

Kaum Muslimin Yang Dirahmati Allah.

Keempat; Fahami Bacaannya

Memahami setiap bacaan yang ada di dalam sholat akan memudahkan seseorang untuk menjadikan sholat sebagai sarana komunikasi, lebih mudah menjiwai makna dan pesan yang terkandung didalamnya. Disana ada pujian, ada dzikir, ada permohonan, ada sholawat, bahkan ada janji, semua itu betapa akan sangat memberikan efek penenangan pada setiap jiwa yang dengan penuh kesadaran dan kefahaman akan apa yang ia baca.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ…..

\” Hai orang-orang yg beriman, janganlah kamu sholat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yg kamu ucapkan,…\” (QS. An Nisaa\’ (4) : 43)

Bukankah ayat ini begitu tegas meminta kita mengerti apa yang kita ucapkan, yang kita baca dalam sholat. Maka beristighfarlah kita… jika diusia kita hari ini masih belum memahami apa yang kita baca dalam sholat kita.

Kelima; Rasakan setiap gerak dan jangan terburu-buru

Ada banyak pembiasaan sikap mulia yang diajarkan oleh shalat yang kita lakukan; Diantaranya adalah ketenanngan, inilah yang sering disebut dengan ’tuma`ninah’. Hal ini mesti dilakukan pada setiap gerak shalat. Kita dilarang melakukan gerakan dalam sholat seperti gerakan ayam yang sedang mematuk makanan dengan paruhnya, harus ada kejelasan jeda antara setiap gerakan. Karena terburu-buru dalam gerakan sholat hanya akan membuat pelakunya tidak mampu merasakan dampak ketenangan, dan dampak-dampak positif dari sholat. Bahkan ketika hendak menuju ke masjidpun Rasulullah saw meminta kita untuk berjalan dengan tenang tidak tergesa-gesa. Ini adalah proses pembiasaan yang baik dari agama ini. Seorang penyair ternama Ahmad Syauqiy melantunkan bait syairnya:

Duhai..

Andaikan sholat bukanlah penghulu ibadah

Niscaya ia, kan menjadi kebiasan dan adat terindah