Shafar

0
107 views

blogcasa.files.wordpress.comShafar adalah salah satu nama bulan dari dua belas bulan dalam kalender Islam atau tahun Hijriyah. Shafar berada di urutan kedua sesudah bulan Muharam. Secara etimologi, shafar adalah Bahasa Arab yang memiliki sejumlah arti di antaranya kosong, kuning, dan nama penyakit.

 

Dinamakan sebagai bulan shafar dalam pengertian “kosong” karena kebiasaan orang-orang Arab zaman dulu meninggalkan tempat kediaman atau rumah mereka (sehingga kosong) pada bulan tersebut untuk berperang ataupun bepergian jauh. Selanjutnya penamaan bulan shafar dalam pengertian “kuning”, karena biasanya bulan tersebut bertepatan dengan musim panas yang menyebabkan dedaunan menjadi kering dan berwarna kuning. Akan halnya shafar yang diidentifikasi sebagai nama penyakit karena masyarakat Arab pada masa Jahiliyah dahulu meyakini adanya penyakit berbahaya yang disebabkan oleh keberadaan ulat besar dalam perut seseorang. Masih ada satu pendapat lainnya terkait dengan penamaan bulan shafar, yaitu angin yang berhawa panas dan menyerang sehingga menyebabkan sakit perut.

Mitos Yang Berkembang.

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa telah terjadi peristiwa-peristiwa yang menyedihkan yang bertepatan dengan bulan shafar, sehingga sebagian umat Islam hingga saat ini masih menganggap bulan shafar sebagai pembawa kesialan. Atas dasar itu, mereka tidak berani melakukan berbagai aktivitas seperti walimah perkawinan karena dikhawatirkan tidak mampu bertahan lama. Mereka juga tidak berani membangun rumah karena dikhawatirkan tidak membawa ketenangan, serta tidak berani pula memulai usaha karena dikhawatirkan tidak berkembang dengan baik. Perjalanan jarak jauh sebaiknya tidak dilakukan dalam bulan ini karena dianggap berbahaya.

Dalam pada itu, bulan shafar diyakini sebagai bulan panas sehingga harus hati-hati dalam berbicara. Pembicaraan yang kurang terkontrol dapat menyulut emosi dan pertikaian. Masyarakat sangat dianjurkan untuk tidak sering menggunakan senjata tajam karena berpeluang untuk melukai orang lain.

Hal yang lebih memprihatinkan lagi sehubungan dengan mitos bulan shafar adalah keyakinan sebagian masyarakat tentang wajibnya mandi shafar pada hari Rabu terakhir bulan ini. Mandi shafar itu dimaksudkan untuk membuang sial. Apabila sial tidak dibuang melalui mandi shafar, seseorang akan terus menerus diintai oleh petaka dan bencana.

Bahkan ada ritual yang sifatnya ibadah yang dilakukan pada bulan shafar yaitu Rebo Wekasan’. Ritual ini dilakukan pada hari Rabu terakhir bulan shafar. Buat apa? Buat tolak bala’/musibah.

Pada Rebo wekasan ini berbagai perayaan dilakukan oleh masyarakat, ada yang ngerayain Rebo Wekasan atau Rabu Pungkasan (Yogyakarta) atau Rebo Kasan (Sunda Banten) secara besar-besaran, ada yang ngerayain secara sederhana dengan membuat makanan yang kemudian dibagi ke orang-orang yang hadir, namun diawali dengan tahmid, takbir, zikir, tahlil serta diakhir dengan do’a. Ada juga yang ngerayain dengan melakukan shalat Rebo Wekasan atau shalat tolak bala, baik dilakukan sendiri-sendiri maupun secara berjamaah.

Sesuaikah Dengan Ajaran Islam?

Jika kita benar-benar menjadikan al-Qur’an sebagai sumber ajaran Islam dan Sunnah sebagai penjelasnya. Tidak ada satu pun ayat al-Qur’an yang menyinggung persoalan kesialan bulan shafar. Bahkan, nama bulan shafar saja tidak disebutkan di dalam al-Qur’an. Satu-satunya nama bulan yang terdapat di dalam al-Qur’an hanyalah bulan Ramadhan. Selain Ramadhan, Allah swt hanya menyebutkan empat bulan haram, yang di dalamnya dilarang melakukan peperangan sebagaimana firman Allah swt yang artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah swt ialah dua belas bulan (sebagaimana) dalam ketetapan Allah swt di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antara (yang dua belas bulan itu) terdapat empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu…” (QS. al-Taubah [9]:36). 

Bulan-bulan haram yang dimaksudkan di dalam ayat di atas adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Pada bulan-bulan tersebut tidak diperkenankan berperang. Jadi, bulan shafar tidak disinggung sedikit pun di sini.

Adapun dalam hadis Rasulullah saw terdapat ungkapan bulan shafar dalam beragam konteksnya. Salah satu diantaranya adalah peniadaan akan adanya sial pada bulan shafar. Artinya, Rasulullah saw secara tegas membantah keyakinan sebagian orang bahwa bulan shafar itu menimbulkan petaka melalui sabda beliau, yang terdapat di dalam sejumlah kitab hadis riwayat Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’iy, Ahmad ibn Hanbal, dan Ibnu Majah. Beliau bersabda: “Tidak ada penyakit yang menular sendiri, tidak ada undian nasib dengan menggunakan burung, tidak ada hantu-hantuan dan tidak ada (kesialan) bulan shafar.”(HR.Bukhari dari Abu Hurairah r.a). 

Hadis di atas dikuatkan dengan hadis lain yang menjelaskan bahwa kita tidak boleh mempercayai suatu penyakit itu menular karena ditularkan oleh penyakit itu  sendiri. Akan tetapi penyakit yang menular tersebut tidak lain adalah atas kehendak Allah swt serta Qadha’ dan Qadar-Nya. Hadis tersebut adalah sebagai berikut: Dari Abi Hurairah ra dari Rasulullah saw bahwa sesungguhnya beliau bersabda:”Tiada kejangkitan, dan juga tiada mati penasaran, dan tiada juga Shafar”, kemudian seorang badui Arab berkata: “Wahai Rasulullah saw, onta-onta yang ada di padang pasir yang bagaikan sekelompok kijang, kemudian dicampuri oleh Seekor onta betina berkudis, kenapa menjadi tertular oleh seekor onta betina yang berkudis tersebut?”. Kemudian Rasulullah saw menjawab: “Lalu siapakah yang membuat onta yang pertama berkudis (siapa yang menjangkitinya)?“. (HR Buhari dan Muslim)
Adapun maksud dari jawaban Rasulullah saw: “Lalu siapa yang membuat onta pertama berkudis?” adalah onta yang pertama tidak akan berkudis kecuali karena Qadha’ dan Qadar Allah swt bukan karena penyakit tersebut.
Jadi seorang muslim tidak boleh meyakini suatu penyakit yang menjangkit orang sehat bahwa yang menularkan adalah penyakit itu sendiri, begitu pula dengan berbagai musibah yang terjadi, bahwa  musibah-musibah tersebut tidak akan terjadi kecuali dengan Qadha’ dan Qadar Allah swt.
Bukan karena sesuatu yang lain dari berbagai makhluk Allah swt, seperti yang telah ditunjukkan dalam sebuah ayat al-Qur’an: “Setiap bencana yang menimpa di bumi  dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (lauh mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya“. (QS. al-Hadid [57]:22)

Adapun bulan shafar adalah bulan panas sehingga harus berhati-hati dalam berbicara, karena kalau pembicaraannya tidak terkontrol akan menyulut amarah orang lain, sebenarnya tidak hanya dalam bulan shafar saja manusia harus berhati-hati dalam berbicara, karena pada bulan yang lainpun kalau tidak terkontrol akan menimbulkan pertikaian dan permusuhan. Dan syariat Islam telah mengajarkan kepada kita agar berbicara yang baik atau kalau tidak bisa berbicara yang baik sebaiknya diam. Sebagaimana sabda Rasulullah saw yang artinya: “barang siapa beriman kepada Allah swt hendaklah ia berbicara yang baik atau diam” (HR. Bukhari Muslim)
Sedangkan ritual Rebo wekasan, dalam  Islam berbagai shalat baik wajib maupun sunnah telah disebutkan dalam Hadits Nabi saw secara lengkap yang termuat di berbagai kitab Hadits, shalat Rebo Wekasan seperti yang dijelaskan di atas tidak ditemukan. Shalat wajib atau shalat sunnah itu ibadah yang telah ditentukan Allah swt dan Rasul-Nya, baik tata cara mengerjakannya maupun waktunya. Tidak benar membuat atau menambah shalat baik wajib maupun sunnah dari yang telah ditentukan oleh Allah swt dan Rasul-Nya. Jadi, intinya ibadah hanya dapat dilakukan sesuai dengan yang diperintahkan, kalau tidak, maka ibadahnya sia-sia belaka, bahkan berdosa melakukannya karena termasuk bid’ah yang tergolong sesat dengan ancaman neraka.