Sengsara Membawa Nikmat

0
73 views

kisah teladanHindun terkenal sebagai wanita pemurah, tiap kali ada musafir (orang yang dalam perjalanan) datang ke rumahnya, selalu diberinya bekal yang cukup. Dia termasuk sepuluh orang pertama yang masuk Islam bersama suaminya, Abdullah bin Abdil Asad. Dalam sejarah hidupnya, Hindun lebih dikenal dengan panggilan Ummu Salamah, karena anaknya adalah Salamah.

Setelah Ummu Salamah dan suaminya masuk Islam, orang-orang kafir Quraisy sangat marah kepadanya. Mereka memaksa agar Ummu Salamah beserta suaminya mau kembali ke agama nenek moyang, bahkan mereka melakukan kekerasan guna mencapai maksud mereka, sekaligus agar orang lain tidak masuk Islam karena melihat penderitaan yang dialaminya.

Penderitaan bukan hanya dialami keluarga Ummu Salamah, tapi juga muslim lainnya. Oleh karena itu Rasulullah mengizinkan para sahabat untuk hijrah ke Habasyah yang dipimpin oleh raja Najasyi. Dan akhirnya Ummu Salamah beserta suami dan anaknya pun berangkat meninggalkan segalanya di Makkah.

Selama di Habasyah, rindu pada kampung halaman jelas ada, apa lagi terdengar pula berita bahwa kaum muslimin semakin banyak jumlahnya dan yang lebih menggembirakan lagi adalah masuk Islamnya dua tokoh penting di Makkah yaitu Umar bin Khattab dan Hamzah bin Abdul Muthalib. Karena itu sebagian muslim bermaksud kembali ke Makkah.

Setibanya di Makkah, ternyata permusuhan orang-orang kafir Quraisy semakin menjadi-jadi, apalagi setelah Islamnya Umar dan Hamzah. Maka Rasul memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Madinah, Ummu Salamah beserta suami dan anaknya termasuk diantara rombongan sahabat menuju Madinah yang penuh dengan kesulitan.

Di perbatasan Makkah dan Madinah, orang-orang dari Bani Makhzum yang merupakan suku dari Ummu Salamah menghadang lalu menangkap Ummu Salamah beserta anaknya, sementara Abdullah bin Abdil Asad melanjutkan perjalanan ke Madinah karena memang tidak berdaya untuk membebaskan isteri dan anaknya. Namun anaknya sendiri diperebutkan lagi oleh orang-orang dari Bani Asad, suku dari Abdullah.

Sejak saat itu Hindun berada dalam penjara sukunya sendiri. Tentu saja Hindun sangat tersiksa karena harus berpisah dengan suami dan anaknya tercinta. Setahun kemudian, saudara sepupu Hindun menemuinya, dia kasihan melihat penderitaan Hindun, dan akhirnya Hindun dibebaskan. Lalu dengan pertolongan beberapa orang, Salamah dikembalikan ke pangkuan Hindun. Setelah itu langsung Hindun bersama anaknya dengan mengendarai unta menuju Madinah.

Di tengah perjalanan menuju Madinah, Ummu Salamah bertemu dengan sahabat Usman bin Thalhah, maka Usman pun mengawal perjalanan Ummu Salamah dari segala gangguan. Sampai di Madinah, sedih bercampur gembira menyertai Ummu Salamah karena masih bisa berkumpul lagi bersama suaminya.

Meskipun begitu, ujian Allah belum habis bagi Ummu Salamah, tak lama kemudian meletuslah perang Badar yang suaminya ikut serta dan mencapai kemenangan gemilang. Abdullah kembali dengan selamat. Tak lama kemudian pecah lagi perang Uhud yang suaminya juga ikut serta. Tetapi ketika kembali dari medan tempur, Abdullah membawa luka yang cukup parah, dan Ummu Salamah dengan kelembutan dan kesabaran mengobati luka-luka yang diderita suaminya. Ketika Rasul menjenguknya, Abdullah menghembuskan nafasnya yang terakhir, beliau menutup kelopak mata Abdullah lalu berdo’a: “Ya Allah, ampuni Abu Salamah, angkat derajatnya, gantilah dia bagi keluarga yang ditinggalkan, ampuni kami dan dia, lapangkan dan beri dia cahaya dalam kuburnya”.

Tinggallah Ummu Salamah beserta puterinya yang masih kecil, tak ada sanak keluarganya di Madinah. Kaum muslimin menyadari penderitaan Ummu Salamah. Setelah habis masa iddahnya, Abu Bakar datang melamar menjadi isterinya, tapi dia menolaknya, lalu Umar tapi ditolak juga. Sesudah Umar akhirnya Rasulullah saw yang datang. Ketika mengutarakan maksudnya melamar, sulit bagi Ummu Salamah menolaknya, tapi dia katakan, “saya punya tiga masalah: pertama saya pencemburu, saya takut nanti Rasul jengkel dan menjadi sebab disiksanya saya di akhirat. Kedua  saya sudah tua, tak pantas untuk kawin lagi, dan ketiga saya punya anak, bagaimana bisa bersuami lagi”.

Rasulullah kemudian menjawab: “soal cemburu, saya do’akan semoga dihilangkan Allah, soal usia bukankah saya pernah kawin dengan orang yang lebih tua dari saya, dan soal anakmu juga anak saya”.

Tak lama kemudian Rasulullah menikah dengan Ummu Salamah lalu jadilah Ummu Salamah menjadi orang yang begitu gembira dan bahagia setelah derita panjang dialaminya.

 

Dari kisah di atas, pelajaran yang kita peroleh adalah:

1.      Setiap isteri harus tabah menghadapi segala kesulitan hidup, khususnya dalam rangka mempertahankan nilai-nilai kebenaran.

2.      Kesabaran akan dibalas oleh Allah swt dengan kebaikan dan kegembiraan.