Sejarah Rumah Sakit dalam Islam

0
233 views

Mungkin rumah sakit awal dalam Islam adalah sebuah apotik bergerak yang mengikuti ke mana tentara Muslim pergi berperang, yang sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw. Tradisi in kemudian terus berlanjut sepanjang abad peradaban Islam dan mengalami inovasi-inovasi luar bisa hingga Eropa menirunya dan menjadi model untuk rumah-rumah sakit modern saat ini.

Puluhan tahun berlalu, sebelum gedung rumah sakit pertama dibangun di Damaskus pada 706 oleh al-Walid, Khalifah Bani Umayyah, pelayanan untuk orang-orang sakit telah ada untuk melayani segala macam pasien (termasuk yang buta, dan bahkan orang kusta). Peralatan, staf, dan organisasi, menjadi model untuk rumah sakit lain yang datang kemudian. Khalifah Harun al-Rasyid dan al-Mansur memiliki rumah sakit di Baghdad. Di Kairo, rumah sakit pertama didirikan di al-Fustat oleh Ibnu Tulun, Gubernur Kairo pada 872.

Pada abad ke-12, rumah sakit telah menjadi lembaga yang sangat canggih. Sebagai saksi bisu adalah Rumah Sakit al-Nuri, yang dibangun pada 1156 oleh Nur al-Din Zangi, sebuah rumah sakit di mana pasien diberi makan, dirawat dengan baik, dan di mana ada sebuah perpustakaan besar untuk mengajar. Paduan perpustakaan dan rumah sakit adalah temuan khas peradaban Islam. Di Kairo, pada tahun 1285, Sultan Qalaun al-Mansur membangun sebuah rumah sakit, yang oleh Durant digambarkan sebagai rumah sakit terbesar yang pernah ada.

Durant menggambarkan rumah sakit itu sebagai ruang segi empat yang luas dalam bangunan yang muncul di sekitar halaman yang dihiasi dengan gang beratap dan didinginkan dengan air mancur dan sungai-sungai kecil yang mengalir di sekitar ruangan. Ada bangsal terpisah mereka yang sedang sakit dengan berbagai macam penyakit dan bagi yang baru sembuh dari sakit, laboratorium, apotik, klinik rawat, dapur diet, kamar mandi, perpustakaan, ruang doa, ruang kuliah, dan akomodasi yang sangat menyenangkan untuk orang gila.

Pengobatan diberikan gratis untuk pria dan wanita, kaya dan miskin, budak dan orang merdeka, dan ada sejumlah uang yang disalurkan kepada mereka yang sembuh sebagai bawaan untuk pulang, sehingga ia tidak perlu langsung kembali bekerja. Bagi yang kurang tidur diberikan alunan musik lembut, story-teller profesional, dan juga buku-buku sejarah sebagai bahan bacaan.

Fungsi awal rumah sakit dalam Islam, selain untuk mengobati orang-orang sakit adalah sebagai tempat praktik aspek teoritis ilmu medis yang terus dibahas di masjid dan madrasah. Karena itu, di dalam sebuah rumah sakit terdapat pula perpustakaan dan sekolah yang khusus dirancang untuk tujuan tersebut.

Para khalifah Abbasiyah menata pendidikan medis dengan baik sehingga para mahasiswa, setelah menjalani latihan teoritis maupun praktis dengan menulis sebuah naskah (semacam tesis di masa modern) dan kalau diterima, mendapatkan surat izin atau diploma dari professornya, dan mendapatkan izin praktik. Mereka juga harus mengambil sumpah Hippocarates.

Beberapa fakta yang keliru tetapi sering disebutkan tentang teknologi pengobatan modern:

  • Sering disebutkan bahwa adalah seorang Italia bernama Giovanni Morgagni dianggap sebagai bapak patologi karena ia adalah orang pertama yang benar menggambarkan sifat penyakit. Sebenarnya para ahli bedah Islam lah ahli patologi pertama. Mereka sepenuhnya memahami sifat penyakit dan menggambarkan berbagai penyakit hingga detail modern. Sebenarnya Ibnu Zuhr adalah yang pertama sebagai ahli radang selaput dada, TBC, dan perikarditis.
  • Sering juga disebutkan bahwa konsep karantina pertama kali dikembangkan pada 1403. Di Venesia, sebuah hukum disahkan mencegah orang asing memasuki kota sampai masa tunggu tertentu telah berlalu. Jika, pada saat itu, tidak ada tanda-tanda penyakit dapat ditemukan, mereka diizinkan masuk. Sebenarnya konsep karantina pertama kali diperkenalkan pada abad ke-7 oleh Nabi Muhammad saw., yang dengan bijaksana memperingatkan untuk waspada ketika memasuki atau meninggalkan daerah menderita wabah. Pada awal abad ke-10, dokter Muslim melakukan inovasi penggunaan bangsal isolasi untuk orang-orang yang menderita penyakit menular.
  • Disebutkan juga secara umum bahwa pendekatan suara untuk pengobatan penyakit pertama kali dibuat oleh Johann Weger, seorang berkebangsaan Jerman pada 1500-an. Sebenarnya George Sarton dari Harvard mengatakan bahwa pengobatan modern sepenuhnya merupakan perkembangan Islam dan bahwa Aturan Rekam Lurus dokter Muslim dari abad ke-9 sampai abad ke-12 sangat tepat, ilmiah, rasional, dan suara dalam pendekatan mereka. Johann Weger di antara ribuan dokter Eropa selama abad ke-15 sampai abad ke-17 mengajarkan pengobatan dari al-Razi dan Ibnu Sina. Dia tidak memberikan kontribusi yang orisinal.
  • Disebutkan juga bahwa perawatan medis untuk gila itu dimodernisasi oleh Philippe Pinel ketika pada tahun 1793 ia mengoperasikan suaka pertama untuk orang gila di Perancis. Sebenarnya pada awal abad ke-1, rumah sakit Islam telah membangun bangsal khusus untuk orang gila. Mereka memperlakukan mereka dengan baik dan menganggap penyakit mereka nyata pada saat yang sama orang gila secara rutin dibakar hidup-hidup di Eropa karena dianggap sebagai penyihir atau dukun.

Sebuah pendekatan kuratif diambil untuk penyakit mental dan, untuk pertama kalinya dalam sejarah, sakit mental diperlakukan dengan perawatan suportif, obat-obatan, dan psikoterapi. Setiap kota besar Islam mempertahankan sebuah rumah sakit jiwa di mana pasien dirawat tanpa biaya. Bahkan, sistem Islam untuk pengobatan orang gila lebih unggul dibandingkan dengan model saat ini, karena lebih manusiawi dan juga sangat efektif.

Allah menekankan di dalam al-Qur’an tentang kesucian jiwa dan mengutuk aksi teror dan ketidakadilan. Mereka yang membunuh satu jiwa dianggap telah membunuh seluruh manusia. Sedangkan yang menjaga kehidupan satu jiwa maka dianggap telah menjaga kehidupan seluruh manusia.

Dari ayat ini dipaham bahwa setiap tindakan penyelamata yang dibuat untuk menyelamatkan kehidupan manusia dianggap sebagai sesuatu yang Islami. Prinsip keselamatan berlaku untuk sistem ekologi dan mempromosikan lingkungan yang bersih dan sehat bagi semua ciptaan.

Abdul Muid Nawawi

 

Sumber:

http://www.islamic-study.org/public_health.htm

Seyyed Hossein Nasr, Sains dan Peradaban dalam Islam, (Bandung: Pustaka, 1997)