Sejarah Kosmetika dalam Islam

0
53 views

Jika kita berbicara tentang kosmetika dalam Islam, maka tidak akan terlepas dari tradisi-tradisi yang telah mendahului Islam seperti peradaban Mesopotamia, Mesir Kuno, dan Iran. Kosmetika dipakai untuk berbagai tujuan dan bisa dilihat dari berbagai aspek. Dalam hal kebersihan dan kesehatan, ada parfum; untuk perlindungan kulit, khususnya perlindungan dari matahari; untuk pewarnaan rambut; sebagai obat; atau untuk tujuan-tujuan magis.Umumnya kosmetika dihubungkan dengan kecantikan dan penampilan, terutama berhubungan dengan aspek seksual perempuan.

Peran penting kosmetika dalam kehidupan sangat jelas nampak pada perhelatan pernikahan. Kosmetika secara luas dipakai oleh perempuan, terutama di ruang-ruang pribadi. Kecuali perempuan-perempuan budak dan penyanyi yang aktif memakai kosmetika di ruang publik.

fotosa.ruAdapun laki-laki dewasa dan anak-anak tidak umum memaki kosmetika kecuali kosmetika dari daun inai (untuk obat) dan celak (untuk keindahan dan kesehatan mata). Warna celak itu sendiri bervariasi dan yang terbaik berasal dari Iran. Ada yang berwarna biru tua, merah tua, ungu, atau bahkan kuning merona. Celak dipakai untuk menghitamkan alis dan bulu mata, atau pinggiran kelopak mata. Mungkin celak ini berasal dari Mesir Kuno

Umumnya bahan-bahan kosmetika berasal dari tumbuhan seperti daun inai, nila, kunyit, dan cendana. Yang lain terbuat dari mineral seperti oker; atau logam seperti celak; dan beberapa lainnya berasal dari binatang seperti kesturi.

Karya-karya berbahasa Arab dan Persia tentang sejarah dan ilmu pengetahuan dari Abad Pertengahan seperti Al-Biruni, Ibn Sina, Nasir Ad-Din Tusi, Al-Kindi, dan lainnya, dan juga karya tentang pengobatan semisal karya Ibn Al-Washsha’ memberikan banyak informasi tentang kosmetika ini. Bahkan beberapa karya memberikan ratusan resep untuk bahan kosmetika, yang lalu diwariskan lewat kalangan keluarga dan pelaku kesehatan.

Tradisi ideal kecantikan telah menggariskan bahwa kulit perempuan itu harus putih, lembut, halus, dan tak berambut. Salep dan cat telah sejak lama dipakai untuk membuat kulit bercahaya. Untuk wajah, bedak putih dan pemerah muka dipakai untuk melindungi wajah dari cahaya matahari dan menghaluskan kulit. Untuk menghilangkan bulu di badan, umumnya dipakai campuran berbagai bahan, umumnya dipakai gula atau madu. Atau kadang juga dengan cara mencabutnya.

Adapun mewarnai rambut, dipraktikkan oleh baik laki-laki maupun perempuan. Untuk rambut hitam yang tebal, panjang dan hitam  dipakai campuran nila, kayu apel, kenari. Inai juga dicampurkan agar rambut bersinar. Inai juga dipakai untuk menghitamkan rambut abu-abu dan putih. Setelah mewarnai membersihkan dan mewarnai rambut, minyak parfum dan salep kadang dipakai sebagai tambahan, sebagaimana dalam salah satu hadits dari Aisyah. Bagi laki-laki dewasa, biasanya penting untuk mempunyai jenggot hitam dan itu diberi wewangian, sebagaimana dipraktikkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Meski tradisi kosmetika berasal jauh sebelum Islam, umumnya peralatan dan wadah untuk kecantikan itu berasal dari dunia Islam seperti sisir; cermin dari logam; wadah kecil untuk kosmetika dan botol untuk bedak dan salep; kuas; hingga alas make up. Pemakaian dan produksi alat-alat tersebut tadi menggambarkan sumber daya, kebiasaan dan adat daerah tertentu, serta status keuangan pemakainya.[]

Sumber Bacaan:

Gisela Helmecke, “Cosmetics”, dalam Josef W. Meri (ed.), Medieval Islamic Civilization: An Encyclopedia, Vol. I, (New York: Routledge, 2006)

E. Wiedemann, “Al-Kuhl”, dalam Martijn Theodoor Houtsma (ed.), E. J. Brill’s First Encyclopaedia of Islam, 1913-1936, (Leiden: E. J. Brill, 1913-1938)