Seimbang

0
93 views

Islam adalah agama yang sejalan dengan fitrah manusia, Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS. ar Rum: 30).

Allah menurunkan agama sebagai pedoman hidup untuk menata kehidupan manusia di dunia dan kebahagiaan di akhirat, mengatur interaksi mereka kepada Allah, hubungan antara sesama manusia dan juga terhadap makhluk-makhluk lainnya, seperti: jin, malaikat, hewan serta dengan alam sekitarnya.

Selama umat ini masih menempuh jalan yang lurus, selama itu pula mereka akan menjadi umat jalan tengah (Baca: QS. al-Baqarah: 143). Sayyid Qutub dalam tafsirnya memahami umat tengah sebagai umat yang menjadi saksi bagi manusia semua bahwa mereka menerapkan nilai keadilan dan keseimbangan.

Umat ini adalah umat tengah dalam segala kandungan maknanya, baik dalam arti tengah pada presepsi dan pemahaman, sehingga tidak tenggelam dalam ruhani atau hanya mementingkan urusan materi saja; tengah dalam pemikiran dan perasaan; tengah dalam sistem dan aturan; tengah dalam ikatan dan hubungan (baik hubungan secara indivudu, masyarakat, maupun negara); tengah dalam posisi, tidak cenderung ke Barat atau ke Timur; tengah dalam waktu, tidak terpaku pada sejarah masa lampau atau hanya melihat masa yang akan datang.

Secara definitive, seimbang adalah posisi tegak di tengah antara dua hal yang kedua hal tersebut sama atau hampir sama sehingga tidak cenderung ke salah satunya. Dalam perspektif Islam, keseimbangan disebut dengan istilah at-Tawazun, keseimbangan antara dua arah yang saling bertentangan. Salah satu dari dua arah tersebut tidak dapat mengambil hak yang lebih banyak dan melampaui yang lain.

Manusia berakal dan berhati nurani senantiasa menghindari sikap berlebihan dalam kehidupan (ifraath dan tafriith). Manusia yang tak menggunakan akalnya dengan baik, akan terjebak pada sikap radikalisme atau kejumudan dan atau sebaliknya terjebak dalam arus kelompok rasionalisme.

Di era global yang sarat dengan perubahan, komitmen kaum Muslim dalam mempertahankan dan mengokohkan moral serta keimanan semakin mendapat tantangan dan ujian yang kuat. Pintu terjadinya konflik batin pun semakin terbuka lebar.

Dalam kondisi tidak seimbang jiwa hewani akan mendorong kita untuk bersikap buruk dengan amarah, ketamakan, dan nafsu birahi. Jiwa pribadi yang tidak seimbang akan menyesatkan kita melalui keangkuhan dan egoisme atau melumpuhkan kita melalui ego yang lemah dan rasa harga diri dan kepercayaan diri yang rendah.

Rasionalisasi dan prasangka yang salah dapat menodai kebenaran, atau kita mungkin menyalahgunakan kecerdasan kita untuk mengkritik diri kita dan orang lain secara kaku dan dengan sikap menghakimi. Kalau sudah begini keindahan ajaran islam sudah tidak tampak lagi.

Padahal sejatinya kesuksesan, kebahagiaan dan keberhasilan dalam urusan akhirat maupun dunia tergantung dengan cara kita menempatkan setiap hak secara proporsional menurut pandangan syariat yang hanif (suci) dan fitrah ini. Karena setiap ketidakseimbangan akan menyebabkan ketimpangan dan keberatan yang akan menghalangi tercapainya tujuan. Wallahu Alam.

BAGI
Artikel SebelumnyaAnak Angkat
Artikel BerikutnyaDar Arqam