Sederhana Tapi Dermawan

0
116 views

google.co.idDari segi keturunan, Abdullah merupakan anak Umar bin Khattab, sahabat Rasul yang utama yang kemudian menjadi khalifah sesudah Abu Bakar Ash Shiddik.

Suatu ketika, Abdullah mengikuti suatu peperangan. Setelah perang usai dengan kemenangan kaum muslimin, Abdullah langsung pulang ke rumahnya tanpa menunggu pembagian ghanimah  (harta rampasan perang). Dia pikir, berperang itu kan bukan untuk mencari harta, perang yang diikutinya tidak lain karena memenuhi panggilan jihad, ketika dia memiliki harta pun, selalu tumbuh semangatnya untuk memberikannya kepada orang yang lebih memerlukan. Banyak hal yang menarik dari kedermawanan Abdullah dan ini sangat sulit untuk ditiru oleh kebanyakan orang.

Suatu hari, Abdullah memperoleh anugerah berupa baju dingin yang bagus dan uang sebesar 4000 dirham. Anggota keluarganya sangat senang dengan uang yang mereka miliki, namun Abdullah mengingatkan agar isteri dan anak-anaknya tidak terlalu gembira dengan harta yang dimilikinya itu, apalagi bila harta itu digunakan untuk foya-foya.

Beberapa waktu kemudian, datang seorang fakir miskin. Maka Abdullah pun memeberikan sebagian uang yang diperolehnya untuk si fakir yang lebih memerlukan lagi, “ini rizki mereka”, kata Abdullah kepada isterinya.

“Ini memang rizki si fakir yang berada di tangan orang yang berpunya”, jawab isterinya menguatkan.

Setelah sebagian uang itu diserahkan kepada orang miskin, tak lama kemudian anaknya membawa teman yang miskin, anak itu menangis dan nampak mukanya pucat. Ketika anak itu ditanya mengapa menangis dan nampak pucat, dia menjawab bahwa dia sendiri belum makan dan ayahnya sedang sakit keras. Maka Abdullah pun menyerahkan uang yang tersisa tadi dan Abdurrahman yang merupakan anak Abdullah memang mengajak temannya yang miskin itu ke rumahnya karena dia tahu ayahnya memiliki uang.

 

Dengan demikian tak sampai malam hari, uang itupun sudah habis dibagikan kepada orang yang sangat memerlukannya, yang tinggal hanyalah baju dingin yang bagus. Abdullah yakin betul bahwa Allah telah menyediakan bagi dirinya harta yang cukup, tergantung apakah dia mau mengambilnya atau tidak.

Sore hari, Abdullah bilang pada isterinya bahwa dia akan pergi. Isterinya senang sekali karena kali ini kepergian suaminya dengan menggunakan baju dingin yang bagus. Selama ini jarang sekali Abdullah menggunakan baju yang bagus.

Ketika Abdullah pulang ke rumahnya, isterinya amat terkejut karena ternyata baju bagus yang dipakainya sudah tidak melekat lagi di badannya, isterinya pun bertanya: “lho, mana baju dinginnya?”.

“Sudah dipakai oleh orang lebih pantas”, jawab Abdullah kepada isterinya. “Dia sudah tua, miskin dan nampak kedinginan, maka kuberikan baju dingin itu kepadanya”, tambah Abdullah.

Keesokan harinya dia mencari nafkah, tapi hingga siang hari tak ada uang yang diperolehnya  sementara kuda yang ditungganginya sudah meminta makanan, maka dia pun membeli makanan untuk kudanya dengan cara berhutang. Peristiwa ini dilihat oleh Ayub bin Wail Ar Rasidi.

Melihat hal itu, Ayub langsung ke rumah Abdullah dan menanyakan kepada isterinya Abdullah tentang harta yang kemarin didapatnya.

“Uang itu tidak kami hambur-hamburkan, tapi suamiku memberikannya kepada yang lebih memerlukan, bahkan uang itu sudah habis sebelum datang waktu malam”, jawab isterinya.

“Bukankah kemarin dia mendapatkan juga baju dingin yang bagus?”, tanya Ayub lagi.

“Kemarin ketika suamiku keluar rumah dengan memakai baju itu, kembali tak pakai baju itu lagi dan kertika aku tanya dia katakan bahwa baju itu sudah diberikannya kepada orang yang lebih pantas”, jawab isterinya lagi.

Ayub menganggukkan kepalanya lagi berpamitan, tapi isteri Abdullah bertanya: “mengapa kau tanyakan suamiku?”.

“Aku hanya heran, mengapa Abdullah yang punya uang memberi makanan kepada kudanya dengan cara berhutang”, jawab Ayub.

Ketika Ayub sampai di pasar, dia berteriak: contohlah Abdullah bin Umar, kemarin dia dapat uang tapi sekarang dia berhutang untuk memberikan makan kudanya, karena semua hartanya sudah dia berikan kepada fakir miskin”.

Apa yang dilakukan Abdullah memang mulia dan banyak orang yang ingin menirunya, tapi kebanyakan orang memang tidak berhasil meniru hal yang berat itu.

 

Dari kisah di atas pelajara yang harus kita ambil adalah:

 

1.    Meluruskan dalam perjuangan merupakan sesuatu yang amat penting, sehingga sukses perjuangan tidak diukur dari kekayaan yang diperoleh.

 

2.    Isteri dan anak yang mendukung kedermawanan merupakan faktor penting untuk bisa membangun keluarga yang suka bersedekah dan membantu orang lain yang memerlukan.