Sedekah Untuk Ibu yang Sudah Meninggal Dunia

0
67 views

عن عائشةَ رضي الله عنها أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ ص.م. إِنَّ أُمِّىَ افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأَرَاهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا ؟ قَالَ نَعَمْ (متفق عليه)

 

Dari A’isyah ra., bahwasanya seorang laki-laki berkata kepada Nabi saw., “Sesungguhnya ibu saya meninggal dunia secara mendadak dan saya kira seandainya dia sempat berbicara pasti dia akan bersedekah. Apakah dia akan memperoleh pahala jika saya bersedekah untuknya?” Beliau menjawab, “Ya”.

Hadis ini memberi keterangan tentang seseorang yang tidak sempat menghadiri kematian ibunya karena terjadi secara mendadak. Namun, karena orang tersebut mengetahui persis kebiasaan dan kehendak ibunya, maka dia yakin bahwa seandainya sang ibu meninggalnya tidak secara mendadak, pastilah almarhumah akan sempat bersedekah sesaat sebelum meninggalnya. Maka orang itu meminta izin kepada Nabi saw., untuk bersedekah yang pahalanya dihadiahkan untuk almarhumah ibunya. Nabi saw., kemudian mengiyakan kehendak orang tersebut.

 

Makna Kosa Kata Penting

–  رَجُلاً Rajulan   :

Seseorang. berbentuk nakirah, yakni tidak dijelaskan siapa orang tersebut, baik nama maupun ciri-cirinya

 – افْتُلٍتَتْ نفسها  Uftulitat nafsuha     :

Meninggal secara mendadak. Ini adalah makna lain dari tuwuffiyat yang berarti wafat. Kata ini selalu digunakan dalam bentuk kata kerja pasif (mabni majhul) dalam bahasa Arab yang artinya diwafatkan atau dimatikan. Tetapi dalam terjemahan dibuat aktif, yakni wafat atau meninggal dunia. Karena seseorang sebenarnya tidak bisa meninggal dunia atau wafat dengan sendirinya, tetapi diwafatkan oleh Allah swt.

Sinkronisasi Makna dengan Hadis Lain

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw., bersabda:

إِذَا مَاتَ الْعَبْدُ اِنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ” (رواه البخارى)

“Apabila seorang hamba meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali 3 macam: sedekah jariyah, ilmu yang dapat diambil manfaatnya, atau anak saleh yang mendoakannya”.

 

Di sini terlihat ada kontradiksi kedua hadis tersebut. Hadis pertama mengiyakan adanya pahala sedekah untuk orang yang sudah meninggal, dan hadis berikutnya menafikannya. Hadis kedua sebenarnya lebih kuat dari segi pelafazan statmen dengan menggunakan kata inqatha’a  yang berarti terputus. Sementara di  hadis pertama Nabi cukup mengiyakan dengan kata “na’am” yang berarti “iya”.

 

Makna Kandungan Hadis

Untuk mengompromikan kedua hadis tersebut maka diambil makna kandungan hadis pertama sebagai berikut:

–        Almarhum atau almarhumah yang hendak disedekahkan untuknya seharusnya meninggal dalam keadaan mendadak, yakni tidak didahului oleh tanda-tanda seperti sakit parah dan sebagainya.

–        Almarhum/ah seharusnya adalah orang yang ketika hidup memiliki kebiasaan bersedekah.

–        Sedekah yang dikeluarkan untuk atas nama alamarhum seharusnya hanya 1 (satu) kali saja, sekedar menunaikan kebiasaannya pada hari itu.

–        Orang yang menyedekahkan untuk almarhum/ah adalah anaknya sendiri.

 

Wallahu A’lam bis Shawab ….

 

 

 

 

 

BAGI
Artikel SebelumnyaSalaf
Artikel BerikutnyaMencatat Materi Dakwah